Tampilkan postingan dengan label surprise. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surprise. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2016

MSP PUYS: I'm Possible!

Selamat malam dunia!

Kembali lagi bersama saya di sini, sendiri, dalam sepi. #abaikan. Maafkan judulnya yang sangat seminarable dan klise to the moon and back. Hari ini saya lagi semangat menulis (walau banyak tugas) jadi biarkan saya berlari ke pelarian ini sejenak.

Seperti yang sudah diketahui, untuk proses seleksi MSP alias Microsoft Student Partner para peserta diwajibkan untuk memilih antara membuat aplikasi mobile atau web application. Karena basic saya yang masih dasar banget dan terlalu muluk untuk terjun ke dunia mobile tanpa parasut dalam waktu kurang dari satu bulan (bener-bener blank, dummy abis!), maka dari itu saya memilih untuk mencoba membuat web application.

Dalam proses pembuatan web application ini, saya memulai dari, ummm... 30% maybe? Dasar yang baru saya pegang dari materi di kampus hanya sebatas HTML, CSS, Javascript, dan jQuery. Semuanya masih level beginner. Atau beginner lebih dikit lah. Baru bisa bikin kalkulator dan game mencocokan kartu pake javascript aja udah seneng banget kok.

Awal proses pencarian ide, saya optimis. Bahkan saya membayangkan sebuah web application idaman saya (tempat para penulis dapat 'mengerami' idenya dan mendapat koreksi dan/atau mengoreksi tulisan rekannya) yang ternyata pekerjaan di balik layarnya alias back end nya tidak sesimpel yang dibayangkan.

Atas usul seorang mentor dan kawan, tercetuslah ide untuk membuat CV online. Eh tapi serius sebelumnya saya juga kepikiran buat hal sejenis, cuma yang versi interaktifnya. Hehe. 

Saya memulai dari tutorial PHP yang dasarnya dasar kalau kata dia. Membuat to do list sederhana. Baru menyetor data dan menampilkan ulang sih dan itu ternyata cukup menantang. Malah tanpa saya sadari, saya sudah mempelajari dasar AJAX ketika membuatnya. Tutorial demi tutorial saya telan hingga terwujudlah website application pertama saya: Rezumei.




Masih jauh dari kata sempurna sih, tapi saya senang dapat 'melahirkan' website pertama saya. Siapa sangka saya yang tak pernah kenal dengan FTP, FileZilla, dan PHP bisa menghasilkan sesuatu yang berkaitan dengan website. Hiks. *tebar confetti*

Penasaran? Kunjungi aja http://rezumei.azurewebsites.net/ . Segala kesalahan dan kekurangan harap dimaklumi ya. Bisa dimasukkan sarannya ke form feedback yang ada di halaman depan. Terima kuaci. :D

 

Jumat, 15 April 2016

Noah's Bottle: Osu, Cytus, Deemo, dan Piano Tiles Jadi Satu

Sudah lama ya gak review-review. Kemarin iseng baca reviewan saya dulu terhadap film dan game. Reaksi: Wuih, beneran nih saya yang nulis? Niat amat... Apa kebanyakan waktu luang ya wkwkwk. Pokoknya semua data-datanya lengkap, banyak gambar, dan pokoknya niat deh. Coba aja liat review novel visual, Osu, film, film lagi, dan buku. Huahahahaha ga nyangka juga ya :"D

Sekarang mau nulis yang ringan-ringan aja karena terdorong sama bagusnya game ini, melampaui ekspetasi saya deh. Nama gamenya Noah's Bottle.

Sekilas mirip Deemo ya?
Game yang satu ini mengusung tema tak berbeda jauh dari game-game yang beredar di pasaran yakni rhythm game alias game yang mengandalkan ritme/ketukan dari suatu musik sebagai inti permainannya. Nah, yang membedakan adalah, kalian bisa mengimpor sendiri musik yang diinginkan dan game ini akan langsung membuatkan patternnya secara otomatis!

Ada dua jenis permainan utama di game ini yakni Falling Notes dan Spin Type. Falling Notes ya not-not yang jatuh sesuai irama, mirip Deemo. Kalau Spin notnya tersusun di sebuah piringan yang harus disentuh ketika dilewati oleh garis yang berputar. 

Ini yang Spin
Hal yang saya sukai dari game ini adalah storylinenya yang jelas dan menarik, tampilan dan background yang cantik, gameplay yang variatif (ketika kalian bertemu dengan satu peri dan botolnya, klik pada botol peri tersebut untuk bermain game type lain), kemampuan untuk menyesuaikan delay, bisa bikin pattern sendiri, dan yang paling penting bisa masukin lagu sendiri!

Lagu-lagu yang saya masukin kebanyakan dari sountrack anime (ngambil dari Osu), lagu Cytus (download dari Osu juga) dan lagu favorit lainnya. Sejauh ini, game play yang paling saya suka adalah yang ice genie.


Penasaran? Coba aja cari di playstore. Seru deh! Selamat bermain!

MSP PUYS: PHP Terdeteksi Sebagai Comment, Solved

Kalian baru belajar mencoba menggunakan PHP untuk mengembangkan website kalian? Lantas ketika di jalankan, kalian menemui kendala yakni kode PHP kalian malah terdeteksi sebagai komentar (PHP detected as comment) di HTML? Untuk lebih jelasnya, coba cek gambar di bawah ini:

Pas dikodingannya udah bener

Eh pas dijalanin malah jadi comment
Mengalami hal serupa? Donburi bee hepi! Saya juga kok kemarin *tos*. Ceritanya, kemarin saya sedang mengikuti sebuah tutorial dari sebuah website yang katanya buat pemula. Mula-mula, disuruh nulis kodingan sesuai yang diminta, habis itu dijalanin di browser. Awalnya saya mikir-mikir, ini cara jalaninnya gimana, kan jenis filenya bukan html tapi php. Saya yang masih polos-polos dan lugu-lugu akhirnya memutuskan untuk: klik kanan > open with > google chrome. Tampilannya jalan sihh.. tapi ya itu, PHP nya ga jalan sama sekali.

Setelah mencoba bertanya pada bintang dan rumput yang berjoget orang-orang yang lebih pro, ternyata oh ternyata cara bukanya bukan begitu. Jadi yang bener gimana? Berikut langkah-langkahnya:

1. Pastikan Apache dan MySQL kalian sudah aktif

Cara ngaktifinnya, buka XAMPP Control Panel (install dulu) lalu diaktifkan deh

2. Selanjutnya, masuk ke folder XAMPP (biasanya di disk C atau tergantung waktu install di mana) lalu cari folder htdocs

3. Nah, folder htdocs ini akan menjadi workspace kalian. Buat folder baru dan beri nama sesuai dengan nama situs yang diinginkan

4. Masukkan file-file PHP kalian ke folder baru tersebut

5. Pada browser, ketikan alamat localhost/namafolder, niscaya file PHP kalian akan terbuka.

Bagaimana, terselesaikan tidak masalahnya? Semoga terbantu ya.. :D

Selasa, 12 April 2016

Microsoft Student Partner: Pimp Up Your Skill

Welcome back all!

Gimana yang habis UN perasaannya? Atau yang lagi masa-masa UTS seperti saya? Atau malah ada yang baru masuk semester genap? Hahaha... Yang jelas tujuan postingan kali ini selain untuk menyapa adalah untuk membawa perkembangan terbaru mengenai Microsoft Student Partner alias MSP. Sekalian jadi diary berjalan gitu loh hihi.

Seperti yang sudah pernah saya bahas sebelumnya, ada empat tahap yang dicantumkan di email perihal MSP yakni Submission Filtering, Self Learning, Pimp Up Your Skill, dan Interview. Dan rupanya... Jeng jeng jeng jeng...

Sekarang saya sudah masuk tahap tiga! Tahap Pimp Up Your Skill. Duh, rasanya tegang-ngeri-senang gimana gitu. 

Pada tahap ini, para partisipan diminta untuk memilih satu dari dua tugas yang disediakan. Pertama-tama ada App Development. Sesuai namanya, App Development mengharuskan peserta untuk membuat aplikasi  Universal Windows Platform (UWP) atauaplikasi multiplatform dengan menggunakan Visual Studio dan Xamarin. Yang kedua, ada Web Development. Untuk tugas kedua ini, peserta diminta membuat satu Web Application yang telah di host di Microsoft Azure.

Uwah, tugas yang cukup menantang menurut saya! Apalagi deadlinenya itu loh, kurang dari sebulan lagi. Lagi minggu UTS pula. o.o

Uh mari berharap yang terbaik!

Jumat, 18 Maret 2016

MSP SL: Microsoft Virtual Academy

Tes tes 1 2 3 *cek mic*

Baiklah, setelah penantian yang tidak panjang-panjang amat, saya akan membahas tentang Microsoft Virtual Account atau yang biasa disebut sebagai MVA. Apa itu MVA?

MVA tak lain dan tak bukan adalah sebuah situs e-learning yang disediakan khusus oleh Microsoft. Di MVA, siapa saja yang memiliki passion di bidang teknologi, mulai dari website, aplikasi, game, infrastruktur cloud, maupun aneka bahasa pemrograman. Kampus saya sendiri juga menggunakan MVA sebagai materi belajar mandiri di rumah loh, jadi sedikit-banyak saya sudah mengenal platform belajar ini.

Loh, belajar sendiri lewat internet kan bisa. Cari-cari saja bahan dari internet.

Eits, tunggu dulu. Belajar lewat MVA punya sejuta kelebihan loh! Kira-kira apa saja ya?


  1. Kursusnya ada banyak... banyak... *bukaniklan*
  2. Kamu pemula? Intermediate atau Advanced? Ingin belajar cara membuat game, aplikasi ponsel atau Big Data? Mau tahu lebih jauh seputar Cloud App Development, Businsess Intelligence, juga HTML5? Semua ada lengkap di MVA, tinggal buat akun dan kamu bisa mengakses semuanya kapan saja, di mana saja.
  3. Satu, dua, tiga, ikuti tahap-tahapnya!
  4. Semua kursus yang ada di MVA telah diatur secara runtut sehingga kamu tinggal mengikuti sesuai dengan modul yang diberikan. Dari yang belum tahu apa-apa sampai jadi expert, mengapa tidak? Ingat, the expert in anything was once a beginner. 
  5. Bukan kursus biasa
  6. Bukan hanya memberikan materi berupa slide-slide atau tulisan, kamu juga akan mendapatkan materi lainnya seperti video, modul, atau bahkan latihan soal seperti kuis untuk mengasah kemampuanmu.
  7. Akses kapan saja, di mana saja
  8. Karena sifatnya online, kamu bisa mengaksesnya kapan saja dan di mana saja. Lagi jam istirahat di kampus? Lagi bosen di rumah? Lagi nongkrong cantik di kafe sebelah? Bisa banget sambil buka website ini!
  9. Progresmu tersimpan
  10. MVA akan mencatat progres yang sudah kamu tempuh dan menandai sampai mana kamu terakhir mengakses MVA. Jadi tidak perlu kebingungan lagi dengan pertanyaan 'kemarin sampai mana ya?'
  11. Dapat sertifikat!
  12. Nah ini nih yang paling asyik. Kamu dapat membuktikan kalau kamu sudah mengikuti sebuah kursus dengan komplit plit plit dengan sertifikat yang akan diberikan. Seperti ini nih contohnya:
  13. Dan mengagumkannya, semua itu bisa kamu dapatkan dengan gratis!
  14. Cukup login dengan akun Microoft yang kamu miliki dan kamu akan dapat semua keuntungan-keuntungan yang ada.

Bagaimana, menarik bukan belajar di MVA? Tunggu apa lagi, segera akses situsnya di https://mva.microsoft.com/.




Microsoft Student Partner: Self Learning

Yeay! Melanjutkan postingan kemarin, sekarang kita masuk ke tahap Self Learning dari Microsoft Student Partner. Jika sebelumnya kita membahas tentang tahap Submission Filtering, sekarang mereka yang telah lolos tahap penyaringan formulir online akan mendapatkan email pemberitahuan dan dihadapkan pada tahap kedua yakni Self Learning. Ini adalah tahap yang sedang saya jalani sekarang. Sebenarnya, bagaimana sih gambaran besar dari tahapan pemilihan Microsoft Student Partner? Nah, rupanya ada empat tahap yang harus dilalui, untuk selengkapnya bisa dilihat pada potongan email yang saya sertakan.


Wah, berarti masih ada dua tahap lagi yang harus dilalui yakni Pimp-up Your Skill dan Interview. Selama Self Learning, peserta diharapkan untuk belajar secara mandiri melalui media-media yang disediakan oleh MSP. Salah satunya lewat Microsoft Virtual Academy dan video-video tutorial. Penasaran seperti apa? Nantikan di postingan berikutnya ya!

Minggu, 13 Maret 2016

Microsoft Student Partner: Submission Filtering

Selamat datang di blog ini lagi! *tebar confetti*

Maaf sudah sekian lama menelantarkan, bersihin sarang laba-laba dulu deh. Maklum, alasan-alsaan kenapa saya terpaksa vakum sejenak bisa dibaca di sini. Baiklah, sekarang saya akan memulai postingan kali ini yang akan membahas tentang.... Microsoft Student Partner!

Wuih. Serem. Ada nama sebuah perusahaan teknologi raksasa asal Amerika Serikat itu yang melekat di sana, tak lain dan tak bukan adalah Microsoft. Siapa yang tidak kenal Microsoft, apalagi dengan salah satu OS untuk desktop-nya yang merajai pasar mancanegara alias Windows. Lalu, apa hubungannya Microsoft dengan Microsoft Student Partner?

Microsoft Student Partner atau yang biasa disebut sebagai MSP merupakan sebuah program besutan Microsoft. MSP menghimpun mahasiswa-mahasiswa yang memiliki hasrat di bidang teknologi untuk bersama-sama membangun keahlian, memimpin komunitas, dan membangun relasi dengan para profesional. Kabar baiknya, Indonesia juga termasuk salah satu dari lebih dari 100 negara yang dipercaya untuk menjalankan program ini setiap tahunnya. 



Saya sendiri baru mengetahui keberadaan MSP ini dari blog rekan saya yang ternyata terpilih menjadi salah seorang MSP. Waktu itu saya yang masih semester dua terkagum-kagum. Wah, keren sekali! Saya melihatnya belajar membuat website, aplikasi, bahkan berkesempatan untuk menjajakan aplikasi buatannya di Windows Store!

Karena persyaratan yang belum memenuhi (kalau tidak salah, minimal semester empat) dan saat itu memang sudah tutup pendaftarannya, akhirnya saya putuskan untuk memendam hasrat ini terlebih dahulu #ea #lebay #abaikan.

Gayung bersambut, tepat saat saya baru mengawali hari yang baru sebagai mahasiswi semester empat, sepucuk(?) surel mendarat mulus di kotak masuk saya. Undangan untuk mendaftar sebagai MSP! Yuhuuu.

Namun, tak dapat dipungkiri awalnya saya ciut juga. Terbayang ratusan, atau mungkin ribuan orang dengan berbagai keahlian yang mendaftar di sana. Mungkinkah ada peluang untukku di hatimu di MSP? Akhirnya berbekal nyali dan semboyan 'Fortuna Favi Fortus' (keberuntungan memihak mereka berani) yang saya pegang sejak SMA, saya pun kembali nekat untuk mendaftarkan diri, persis seperti kenekatan saya kala ikut lomba-lomba sebelumnya. Hihi.

Saya pernah baca di sebuah blog tips dan trik, di sana dimuat salah satu tips ketika mengikuti lomba. Kira-kira begini katanya: 'Ketika ikut lomba, yang penting nekat, daftar, lalu lupakan'. Lupakan di sini artinya jangan terlalu dicemaskan, apalagi ditunggu-tunggu pengumumannya. Salah satu hal yang tidak terlalu sulit bagi saya yang memang pada dasarnya pelupa.

Ketika menjalani tahap pertama alias Submission Filtering, peserta diminta untuk mengisi formulir pendaftaran yang ada di https://msdn.microsoft.com/id-id/microsoftstudentpartners.aspx. Pertanyaannya tidak terlalu sulit, kebanyakan berisi informasi pribadi, minat di bidang teknologi, serta pengalaman-pengalaman yang pernah diikuti. Lumayan detail juga pertanyaannya. Setelah itu, peserta yang lolos submission filtering akan dihubungi kembali dan diminta untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Tahap apakah itu? Nantikan di posting berikutnya ya!

Rabu, 26 Maret 2014

Go, go, go, Osu!

Osu! (bukan asu loh.. hehe) Ada yang pernah dengar? Saya sendiri baru dengar dan lihat ketika teman saya memainkannya dengan seru. Teman saya menyelesaikan satu beatmap dengan hampir sempurna. Demikian juga dengan saya. Ketika saya mencoba, saya menyelesaikannya dengan tidak hampir gagal alias gatot telan (gagal total tengah jalan, apanya yang 'demikian juga dengan saya' coba?!)


Osu! adalah permainan yang mengasah kepekaan ritme dan gerak motorik. Kejelian telinga dan ketangkasan tangan sangat diutamakan dalam game ini. Cara mainnya mudah kok, pilih beatmap/lagu yang kalian suka, lalu klik bulatan-bulatan yang muncul sesuai irama yaitu ketika cincin yang ada di sekitar lingkaran mengecil hingga tepat menyentuh tepi lingkaran. Kalau bulatannya diikuti ekor, ikuti saja bola yang menggelinding di sepanjang lintasan ekor tersebut. Ketika mncul piring besar, putar piring tersebut secepat mungkin dnegan cara klik dan drag secara memutar. Untuk lebih jelasnya, teman-teman bisa mengikuti tutorial yang disediakan.


Walau beatmap yang disediakan kebanyakan berasal dari game atau anime, disediakan juga pilihan untuk membuat beatmap sendiri loh! Beatmap yang sudah dibuat nantinya bisa dimainkan atau diunggah di website Osu! untuk diunduh pemain lainnya. Ada juga pilihan untuk bermain secara online yang memungkinkan para pemain untuk bertanding. 



Oh ya, mode permainan yang disediakan juga beragam. Ada osu!mania yang mirip piano, cara memainkannya serupa dengan VOS, Guitar Hero, dan lainnya. Lalu ada Taiko yang mirip drum. Selanjutnya Catch the Beat, caranya tinggal menekan panah kanan atau kiri untuk menangkap buah-buahan yang jatuh sesuai irama.

Untuk yang sudah tidak sabar, langsung saja meluncur ke https://osu.ppy.sh/p/download untuk mengunduhnya. Beatmap-beatmap baru bisa teman-teman unduh juga di web tersebut. Tak ketinggalan, buat juga profil secara online di sana agar skor permainan bisa tersimpan. Kalian juga bisa menambah teman, membuat pos di forum, juga mengumpulkan penghargaan! Jangan lupa tambahkan depimomo sebagai teman kalian ya! Selamat bermain! ;)

Selasa, 31 Desember 2013

Simpang Lima Jadi Saksi



"Wan, ke TBRS rame-rame yuk! Nonton wayang. Daripada bulukkan di rumah tahun baru gini, ya nggak?" seru lelaki berkumis tipis dengan suara bass itu sambil mencomot lumpia terakhir dari kulkas mini. Gilang namanya. Bukan Gelang loh ya, apa lagi Kalung.

Wawan menggeliat malas di atas kasur lapuknya. Inilah keseharian anak kos, jomblo pula. Wawan menguap lebar-lebar, tak sadar diri sudah satu harian ini mulutnya belum bertemu dengan yang namanya sikat gigi dan pasta gigi. Badannya pun sudah lama tidak bersilahturahmi dengan sabun, sampo, dan tentunya kawan setianya: air! Ck ck ck, gila memang mahkluk yang satu ini. Titisan kucing kali ya? Takut air! Betah saja Wawan ini tidak mandi berabad-abad! Alhasil, aroma semerbak memenuhi ruangan, membuat Gilang, rekan sekamarnya, seketika ingin muntah darah.

"Bujubuneg, mentang-mentang libur dan jomblo nggak gini juga kali! Gimana bisa dapet cewek kalo kayak gini caranya? Mau ikut gak jadinya?"

"Hoahm.. Ke mana? TBRS? Taman Budaya Raden Saleh? Jauh ah. Capek. Males," ujar Wawan ogah-ogahan. Mahasiswa abadi yang satu ini memang paling malas beranjak keluar dari kasur, apalagi dikala libur panjang seperti ini. Gak peduli ada kembang api kek, kembang sepatu kek, kebakaran kek, tetap saja dia bersikukuh menetap di kasurnya.

"Ish kau ini. Ini bukan wayang biasa loh, dalangnya Ki Sigit Ariyanto. Malam ini bakalan dibawain lakon 'Kongso Adu Jago'. Dua jam lagi mulai!"

"Naik apa kita ke sana? Ngesot?" Wawan berkata sambil mengorek lubang telinganya dengan ujung kelingking. Sekarang kau tahu kan kenapa ia tak kunjung dihinggapi seorang cewekpun?

"Makanya kau itu kerjaannya cuma tidur, makan, tidur, makan, kencing, tidur. Tadi siang si Tarjo, anak kos sebelah, SMS aku. Katanya dia udah nyewa satu angkot buat yang mau ke TBRS hari ini, patungan sepuluh ribu aja. Ayo ikutan! Abis nonton kita ke Simpang Lima, dijamin seru deh!" Gilang masih ngotot mengajak Wawan. Dia nggak mau sobatnya itu mematung sendirian di kamar kos, di malam tahun baru, lagi!

"Ya wes, ya wes. Aku ngikut aja. Kapan perginya?"

Wawan akhirnya beranjak dari kasur. Pergerakan besar! Wawan kini duduk di tepi kasur!

"Setengah jam lagi."

"Bagus deh, masih ada waktu buat tidur," sedetik setelah menyelesaikan kalimat itu, Wawan langsung tergeletak lagi di atas kasur.

"Wan, WAWAN! Mandi dulu lah ya terus siap-siap! Enak aja tidur lari, udah seharian ini tidur masih nggak cukup juga apa? Sana, mandiiiii!!!" Gilang menyeret Wawan yang masih setengah tidur menuju kamar mandi. Wawan, wawan.

***

"Tasya, malam ini kamu mau ke mana? Nonton kembang api bareng yuk di Pantai Marina!"

"Pantai Marina? Jauh ah! Cuma ngeliat kembang api aja jauh-jauh amat. Ke Simpang Lima aja ah! Toh kembang api di mana-mana kan sama aja, cuma bleduk bleduk, meledak dag dig dug duer! Lalu hilang, buyar. Seakan mati tertelan langit malam," Tasya menjawab malas-malasan. Malas aja panjang dan puitis begitu, gimana lagi nggak malas, apalagi lagi rajin ya? Pasti jadi ensiklopedia. Baginya, tahun baru tidak berbeda dengan libur-libur lainnya. Tidak ada yang spesial. Sama saja seperti hari Sabtu dan Minggu.

"Kan suasanyanya beda Tasya-ku sayang.. Bosen ah ke Simpang Lima terus. Sekali-kali cari suasana yang beda dong! Siapa tau nemu cowok nganggur, terkapar lemas di atas abu-abunya pasir Pantai Marina nun jauh di sana. Hi hi hi," bujuk Dirna tak kenal lelah. Bosan juga tiap akhir pekan mereka hanya ke Simpang Lima saja. Rekan sekamar kosnya itu memang susah diajak have fun, tapi Dirna tak pernah menyesal berteman dengan Tasya. Tasya-lah satu-satunya mahkluk yang bersedia merelakan berjam-jam dalam hidupnya untuk dicelotehi sepanjang malam oleh Dirna. Dengan Tasya, Dirna bisa bercerita apa saja, curhat apa saja. Ia tahu Tasya tak akan membocorkannya pada siapapun. Bukannya mengejek, merendahkan atau semacamnya, cuma Tasya ini memang cukup sulit bergaul. Ya anaknya memang agak tertutup, introvert gitu. Apa lagi karena ibunya... Ibunya itu.. Hmm, nggak enak ah ngomongnya. Nanti kalian juga tahu sendiri. Nah, karena dasar alasan itulah Dirna yakin si Tasya nggak bakalan ngebongkar rahasianya ke siapa-siapa. Ke siapa lagi gitu loh, wong cuma Dirna yang deket sama Tasya! Apa iya Tasya membongkar rahasia Dirna ke Dirna? Lalu Dirna menceritakan rahasia Dirna ke Tasya. Kemudian Tasya menceritakan... Ah, sudahlah.

"Ya udah kamu ke pantai aja bareng yang lain, aku ke Simpang Lima aja cukup."

"Yakin? Gak rame ah kalau nggak ada kamu! Gina, Manda, sama Andri juga pasti bakal kehilangan kamu. Ini kan malam tahun baru, rayain rame-rame dong," Dirna masih berusaha membujuk Tasya yang kepala batu. Tapi batu ya batu, sulit dilunakkan. Tasya pun tetap memilih untuk pergi ke Simpang Lima saja, walau harus sendirian.

***

Wawan sudah rapi, terbalut atasan batik dan celana bahan warna hitam. Tidak ketinggalan, gesper keberuntungan melingkari pinggangnya. Kalau sudah rapi begini, baru kelihatan deh ketampanan si Wawan ini. Kalah deh si Gilang. Sampai-sampai Gilang jadi menyesal juga mengajak Wawan, menjadi penghalangnya saja nanti jika dia bertemu cewek cantik calon pendamping hidupnya!

Bagaimana sih ketampanan si Wawan ini? Hmm, kira-kira begini gambarannya. Hidungnya bangir, pemberian dari bapaknya. Manik matanya hitam besar, membulat dibingkai apik oleh bulu mata lebat warisan dari ibunya. Wajahnya oval, kulitnya sawo setengah matang. Rambutnya yang hitam disisir klimis ke belakang, dengan bantuan minyak rambut tentunya. Kini Wawan dan Gilang sudah bersiap sedia untuk berangkat ke Taman Budaya Raden Saleh. Merekapun berjalan kaki pelan-pelan menuju kos-kosan Tarjo. Sepanjang jalan, banyak orang berkonvoi, meriah sekali. Bunyi sengau terompet terdengar membahana di sana sini, memecah keheningan yang biasanya menyelimuti malam. Lampu-lampu motor berkedap-kedip seru, berpadu riuh dengan klakson yang ditekan berirama. Suasana Kota Semarang tidak pernah seramai ini. Di malam tahun baru sajalah Semarang yang biasa terkenal kalem dan pendiam mengubah wajahnya, bagaikan gadis yang bersolek untuk menyambut kekasihnya.

Merekapun sampai di kos-kosan Tarjo. Di sana, sudah ada kira-kira sepuluh orang menunggu kedatangan mereka dengan terompet aneka bentuk dan warna. Hanya Wawan dan Gilang yang tampak polos tanpa aksesoris tahun baru setitikpun. Merekapun melenggang menuju Taman Budaya Raden Saleh sambil meniupkan terompet sepanjang jalan.

***

"Tasya serius nih?" Dirna bertanya untuk keseratus kalinya sebelum ia berangkat menuju Pantai Marina bersama kawan-kawan lainnya, meninggalkan Tasya sendiri.

"Iya, tenang aja! Kalian pergi sana, nanti telat loh! Aku ke Simpang Lima mah sebentar. Sepuluh menit juga sampai. Nanti aja aku mah perginya, setengah jam lagi juga bisa. Kalian baik-baik ya! Dadah! Selamat tahun baru!"

Tasya mendorong-dorong Dirna, lalu melambaikan tangan ke arah mereka sampai mereka benar-benar menghilang dari pandangan

"Hmm, sekarang mau ngapain ya? Masih lama ini tahun barunya. mau browsing-browsing dulu ah!"


Tasya melakukan satu-satunya aktivitas kegemarannya di kala liburan: browsing. Setelah browsing sana sini, Tasya mengetahui malam ini sedang diadakan pagelaran wayang kulit di Taman Budaya Raden Saleh, tak jauh dari kos-kosannya. Pertunjukkan sudah di mulai setengah jam yang lalu, tapi tak mengapa. Tujuan Tasya sebenarnya juga hanya ingin membunuh waktu sembari menunggu kedatangan sang tahun baru yang dinanti-nanti semua orang. Ya, lumayan lah, menyaksikan lakon 'Kongso Adu Jago' yang dibawakan oleh dalang Ki Sigit Ariyanto. Daripada nganggur sendirian di Simpang Lima nggak ada kerjaan. Akhirnya Tasya memutuskan, dia harus menonton lakon itu. Artinya, ia harus bergegas ke TBRS sekarang juga! 


***

Pertunjukkan sudah berlangsung selama kurang lebih satu jam. Cukup seru. Wawan melirik jam tangannya untuk keseribu kalinya hari ini. Pukul sepuluh malam. Masih dua jam lagi sebelum tahun baru yang dinanti-nantikan semua orang itu tiba. Di sebelah kanannya duduk Gilang, sedangkan bangku di sebelah kirinya kosong melompong. Lalu di sebelah bangku itu ada... tembok. Iya, bnagku itu bangku paling pojok kiri.

"Coba aku udah punya pacar, dia pasti sekarang bisa duduk di sebelah kiriku, lalu kami sama-sama nonton wayang kulit sambil berpegangan tangan. So sweet..."


Sambil membayangkan, Wawan senyum-senyum sendiri, membuat Gilang di sebelahnya kebingungan sekaligus ketakutan. Apa si Wawan mendadak gila lantaran merindukan belaian seorang wanita? Sudah lama kan dia tidak punya pacar? Atau jangan-jangan, Wawan sudah beralih minat, tak lagi tertarik pada wanita dan kini lebih menyukai pria? Gilang bergidik geli. Walau tak percaya imajinasinya sendiri, tak ayal Gilang menggeser duduknya sehingga lebih menjauhi Wawan. Agak takut juga ia tiba-tiba imajinasinya menjadi nyata.


***

Tasya akhirnya tiba juga di TBRS. Ruangan sudah cukup penuh, hanya satu dua bangku yang masih tampak kosong. Tasya mencari bangku terdekat. Ah, itu dia, bangku paling pojok kiri yang kelihatannya nyaman. Tasya pun duduk di sana, lalu melempar senyum alakadarnya kepada lelaki di sebelah kanannya.

"Hmm, lumayan ganteng juga cowok ini," batinnya sambil memperhatikan pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pemuda itu berambut klimis disisir rapi ke belakang, dengan bantuan minyak rambut sepertinya. Hidungnya cukup bangir. Ditambah lagi, matanya yang hitam bermahkotakan bulu mata lentik yang tebal tiada terkira. Kalah deh bulu mata badainya Syahrini. Oke, nggak setebal itu juga sih. Tapi ya, cukup tebal lah untuk ukuran cowok.

Sesekali Tasya mencuri pandang ke arah cowok yang dianggapnya lumayan kece ini. Semakin dilihat-lihat, kok rasanya makin familiar ya? Makin kenal. Kayaknya pernah bertemu sebelumnya. Tapi ia lupa di mana dan kapan. Tasya mengendikkan bahu tak peduli, mungkin imajinasinya saja. KEmbali ia fokuskan mata, hati, dan pikirannya pada lakon yang sedang ditampilkan. Sayang kan, udah capak-capak ke sini tapi nggak tahu ceritanya kayak apa?

***

Seorang gadis baru datang ketika pertunjukkan sudah separuh jalan, lalu mengambil tempat duduk di samping Wawan. Wawan bagai kejatuhan durian runtuh, apalagi gadis itu melemparkan sebentuk senyum manis padanya. Oh Tuhan, inikah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?

Gadis itu manis sekali. Rambutnya yang hitam sebahu digerai begitu saja, tanpa aksesoris apapun, polos. Wajahnya juga polos tanpa dipulaskan make up berlebihan. Hanya bedak bayi tipis-tipis saja yang menutupi wajah ovalnya. Wawan sekali-sekali mencuri pandang ke arah gadis itu. Semakin dilihat-lihat, kok rasanya makin familiar ya? Makin kenal. Kayaknya pernah bertemu sebelumnya. Tapi ia lupa di mana dan kapan. Wawan mengendikkan bahu tak peduli, mungkin imajinasinya saja.

Tiba-tiba ada yang mencolek bahunya. Gilang rupanya.

"Gile, mimpi apa lo semalem, bisa dapet durian runtuh kayak gitu, ada malaikat jatoh di sebelah lo. Tukeran tempat yuk! Enak banget dari tadi lo nyuri-nyuri pandang ke arah dia terus kan? Eh, tadi kalau gue nggak salah liat, kalau gue nggak salah liat loh ya, dia juga nyuri-nyuri pandang gitu ke arah lo! Beruntung banget lo, men! Gak rugi kan gue ajak ke sini? Jadi nyesel gue ngajak lo. Coba lo nggak ikut, dia pasti pulang-pulang udah jadian sama gue!" cerocos Gilang panjang kali lebar kali tinggi. Volume deh jadinya, he he he. Garing? Biarin deh. 

Tapi tentu saja, cerocosan Gilang ini disampaikan dalam bisik, agar tidak mengganggu penonton lain yang emang niat pingin nonton lakon ini dari awal dan alasany yang lebih tepatnya lagi yaitu.. agar tidak kedengeran sama cewek yang lagi diomongin itu.

"Hus, sembarangan! Tapi emang bener dia ngelirik gue? Ternyata gue segitu gantengnya ya," ujar Wawan kepedean. Gila, keren juga, kalau semisalnya dia berhasil mendapatkan pacar di malam tahun ini. Berhasil melepas status jomblo abadi yang selama ini selalu lekat dengannya, tepat sebelum tahun dengan ekor angka sial ini berakhir.

***

Pertunjukkan wayang kulit itupun usai sudah. Waktu sudah menunjukkan tepat pukul sebelas malam, menandakan tinggal satu jam lagi saja mereka akan menikmati apa yang dinamakan dengan tahun 2013. Hari terakhir di tahun 2013 ini. Wawan dan kawan-kawan sudah bersiap berangkat saat Wawan melihat gadis manis yang duduk di sebelahnya tadi tampak kebingungan. Sepertinya ia sedang menunggu angkot yang tidak kunjung datang. Maklum, malam tahun baru. Banyak angkot-angkot yang disewakan, termasuk angkot yang hari ini sedang disewa oleh Tarjo.

Ragu-ragu, dengan jurus malu tapi mau, Wawan mendekati gadis itu.

"Hei, kamu tadi yang duduk disebelahku ya?"

"Iya. Ada apa ya?"

"Nunggu angkot ya? Sampai tahun depan gak bakal dapat loh, memang kamu mau ke mana?"

"Ke Simpang Lima nih, he he he. Biasa, nonton kembang sepatu, eh kembang api."

"Ih kamu ngelawak aja. Kebetulan banget kita juga lagi mau ke Simpang Lima. Kayak sinetron aja ya bisa kebetulan kayak gini? Bareng aja yok! Gak bakal kita apa-apain deh. Paling digigit... nyamuk he he he."

"Ngg, ya udah deh."

Tasya yang sejak pandangan pertama memang sudah kepincut sama Wawan tidak mampu menolak ajakan Wawan. Sudah dilupakannya jauh-jauh nasihat orang tuanya sejak ia kecil, jangan mau diajak pergi sama orang asing yang baru dikenal, apalagi laki-laki. Ya, cinta memang membutakan segalanya, Tasya tahu itu. Tapi ia tak tahu kalau cinta juga membuatnya tuli seperti ini.

Mereka menaiki angkot sewaan Tarjo. Walau harus berdesakan, tapi tak apa lah. Tarjo yang melihat adanya pendatang baru, sang mahkluk manis dalam angkot, langsung tebar pesona. Tasya hanya membalasnya dengan senyuman.

Tiba-tiba Handi yang satu kampus dan satu jurusan dengan Gilang dan Wawan menyadari ada sesuatu yang familiar dari wajah gadis itu. Benar, tak salah lagi!

"Kamu Tasya kan? Anaknya Bu Girni, dosen yang super killer itu?" ujar Handi yang emang suka bergosip, jaringannya luas, sinyalnya kuat, dan kenal hampir semua orang di kampus mereka.

"Iya, kok kamu tahu?"

Wawan dan Gilang melongo dibuatnya. Mulut mereka membentuk bulatan kecil, huruf o. Sesuai dengan namanya, melongo. Di jidat mereka seakan tercetak besar-besar dan jelas-jelas tulisan ini dengan huruf kapital, font size-nya 72 dan di-bold: 'Masa sih? Sumpe lo?'.

"Wawan, Gilang, masa kalian lupa? Dia kan juga satu kelas sama kita! Lha wong jurusannya juga sama, Arsitektur! Kalian sih cuma jadi kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang!"

Wawan tertegun. Ya ampun pantas wajahnya familiar, mirip dengan ibunya ternyata, si Bu Girni! Wawan bergidik membayangkan Bu Girni akan menjadi mertuanya suatu hari nanti. Eh, mertua? Belum apa-apa Wawan sudah berpikiran sejauh ini. Ada-ada saja kau ini. Wawan, wawan.

Mereka sampai di Simpang Lima. Wawan mengajak Tasya ke tempat yang agak sepi, dekat toilet. Si Tasya juga mau-mau saja.

Lalu dengan tidak tahu diri dan tidak tahu malu, Wawan berlutut di depan Tasya, dan di depan banyak orang yang lagi keluar masuk WC.

"Tasya, sejak pertama aku melihatmu, jantungku langsung berdegup kencang. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dulu aku tidak percaya itu, tapi kini aku percaya setelah bertemu denganmu bidadariku. Tasya, maukah kau menjadi permaisuri hatiku, di awal tahun yang baru ini?"

Tasya terbungkam, tak mampu berkata-kata. Mereka jadi tontonan gratis. Ribuan pasang mata tertuju pada metreka kini. Oke, lebay memang. Ya mungkin hanya belasan pasang mata, tapi jumlah segitu sudah cukup membakar pipi putih Tasya menjadi merah merona. Ia malu sekali. Sejenak sunyi menyelimuti mereka, sampai ratusan suara, mulai dari lelaki dan perempuan, batita, balita, batuta, remaja, anak-anak dan dewasa, hingga para lansia menyatukan suara mereka. Hanya Tasya dan Wawan saja yang masih bergeming, seolah larut dalam dunianya sendiri yang hanya dihuni mereka berdua. Saling mnatap, tak peduli riuhnya suasana.

"Dua puluh!
Sembilan belas!
Delapan belas!
Tujuh belas!
Enam belas!
Lima belas!
Empat belas!
Tiga belas!
Dua belas!
Sebelas!
Sepuluh!
Sembilan!
Delapan!
Tujuh!
Enam!
Lima!
Empat!
Tiga!
Dua!
Satu!
Selamat tahun baru dua ribu empat belas semuanya!"

Dag Dig Dug Duar!

Kembang api pertama merekah di atas kelamnya kanvas langit Semarang. Tak berbeda jauh dengan suasana isi hati Tasya, ikut dag dig dug duar juga, senada dengan kembang api yang terus meletup-letup mewarnai cakrawala Simpang Lima. Gadis itu menarik kedua ujung bibirnya sehingga membentuk lengkungan sempurna, setengah lingkaran terbalik tergambar jelas di bibir merah ranumnya. Tasya mengangkat ujung bibirnya, hendak berkata-kata.

"Mungkin aku gila, tapi aku juga merasakan hal yang sama ketika pertama kali melihatmu duduk di TBRS kala itu. Ya, aku juga jatuh cinta padamu dan aku menerimamu, Wawan."

Mereka berpelukan diiringi suara kembang api dan terompet yang bersahutan terus menerus tanpa kenal henti. Ya terkadang, cinta tak perlu banyak basa basi. Cinta pada pandangan pertama itu nyata. Cepat ungkapkan sebelum tahun ini berakhir!

Tam..


Hei, hei! Lihat dulu satu cerpen saya, diikutkan dalam #NulisKilat juga >http://depimomo.blogspot.com/2013/12/meneropong-sorong.html<

Tamat

Kamis, 26 Desember 2013

Cara Membuat Terompet Sederhana Gratis

Bukan murah lagi, terompet ini gratis! Caranya mudah, bahan-bahannyapun mudah didapat. Cekidot!

Kalian cuma butuh sedotan sama karton dan selotip (opsional)

Pos ini untuk memenuhi janji saya kemaren, well setahun lalu sih, di sini posnya: Tahun Baru 2012. Nah sekarang cara bikin terompetnya dimulai dari pencarian sedotan.

jangan yang ini, sayang kebagusan 

Sedotannya yang biasa, tapi jangan lembek-lembek amat, atau keras-keras amat. Jangan sedotan hop-hop ato sedotan akua. Apalagi sedotan yang buat ngaduk kopi itu, yang gepeng kaya di starbaks dan jeko. Sedotan yang buat susu juga kayaknya masih terlalu keras deh, udah pernah coba soalnya hehe. Sedotannya bisa nilep di restoran aja xixixi atau minta di warung, tapi beli minumannya dulu ya!



Terus, potong sedotannya, panjangnya terserah, makin pendek makin nyaring suaranya, kalau makin panjang makin rendah suaranya. lalu gunting ujungnya sehingga berbentuk meruncing, seperti segitiga


Lalu, tekan ujung yang baru digunting tadi dengan telunjuk dan jempol seperti gambar. Sampai agak gepeng. Lalu tiup! Tiupnya harus agak ditekan gitu bibirnya, pokoknya cari posisi yang pas, sampai sedotannya terasa bergetar geli-geli gitu di bibir.


Voila! Jadi deh! Bisa dibikin corongnya pake karton biar lebih mirip lagi sama terompet. Selamat tahun baru!!

Kartu ucapan E Cards Selamat Natal: Merry Christmas!

Halo!! Selamat Natal bagi yang merayakan! Juga selamat liburan! Oh ya, selamat seminggu sebelum tahun baru juga ya!! Ini e-cards fresh from the oven, by me! Oh ya, opui itu mahkluk kuning yang ada di pojok kanan bawah (bukan kiri loh). Dia maskot resmi depimomo, hak paten, dilindungi undang-undang deh (ada undang dibalik bakwan #eh)




Perasaan pernah liat? Iya, emang kalian pernah liat kok di sini:
Napak Tilas Maskot Resmi Depimomo
Ketika Maskot Hidup

Tapi dulu dia belom bernama. Sekarang, dia udah punya nama loh!! Namanya opui.

Kenapa opui? awalnya, waktu itu lagi pulang sekolah dan hari itu saya membawa tas jinjing bekal. Di tas itu tertulis 'indonesia'

seperti ini:


Nah tas itu kan dijinjing-jinjing, jadi kalo dibawa keliatannya terbalik. Sekarang coba balik layar laptop, hp, komputer, atau apapun gadget Anda sambil melihat gambar itu!!! Relize something??

ini kalau kalian gagal membalik:


see? indo dibalik jadi opui, opui dibalik jadi indo. Jadi, selain melambangkan depimomo yang bulat suka warna kuning dan balon, maskot ini juga menunjukkan kecintaan depimomo atas tanah airnya, Indonesia! Wow, dalem kan?

Jangan khawatir, ini ada kartu ucapan atau e-card untuk kalian! Tinggal isi nama kalian di kolom yang kosong (pakai apapun, paint, corel, photoshop, power point, word, dst, dsb, dll). Oh ya kartu ucapan atau e card ini free alias gratis! Nomor perkenalan lah hihi. Tinggal klik kanan lalu save picture as aja deh..


Happy holiday! Merry Christmas and Happy New Year!

Minggu, 22 Desember 2013

Contoh Laporan Penelitian Sosial Kuantitatif

Di bawah ini ada contoh laporan penelitian sosial kuantitatif beserta contoh kuesioner yang dibuat oleh Tim 3 SMA Regina Pacis Jakarta (Keziah Evelyn Siaputra, Monica Devi Kristiadi, Sindur Pangestu Santoso) untuk diikutsertakan dalam ajang PLASMA Unika Atma Jaya 2013. Puji Tuhan laporan yang bertajuk 'Analisis Efektivitas Penyaringan Pornografi Internet di Kalangan Siswa-Siswi SMA Jakarta Barat' ini mendapat tempat sebagai juara 3 dalam ajang PLASMA (pelatihan dan lomba penelitian untuk SMA) yang diselenggarakan oleh UPM (unit penelitian mahasiswa) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. 

Diharapkan laporan ini dapat membantu dan memberi gambaran akan format laporan penelitian sosial kuantitatif. Di dalam laporan ini, ada Abstrak, Latar Belakang, Pembatasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Kerangka Pemikiran Awal, Jenis Penelitian, Cara Menentukan Variabel Penelitian, Cara Menentukan Subjek Penelitian, Cara Menentukan Populasi dan Sampel, Teknik Sampling atau Teknik Pengambilan Sampel, Instrumen Penelitian berupa kuesioner dan contoh kuesioner, Teknik Analisis Data, Cara Menghitung Data Kuesioner atau Cara Menghitung Presentase dan Cara Mengolah Data Kuesioner, Cara Analisis Data, serta Kesimpulan, Diskusi, dan Saran.

Tujuan pemuatan contoh laporan penelitian sosial kuantitatif ini semata-mata untuk tujuan pendidikan. Untuk penelitian lebih lanjut, semoga laporan ini dapat memberikan gambaran akan kurang efektifnya sistem penyaringan pornografi internet dan dapat dijadikan acuan dan dasar pengembangan penelitian-penelitian selanjutnya. Jika laporan ini dijadikan sebagai rujukan, kami akan berterima kasih sekali, apalagi bila dapat tercantum di daftar pustaka Anda.

Semoga membantu!

Kiri ke kanan: Keziah, Sindur, Monica


Minggu, 15 Desember 2013

Dari Professor ke Supir Taksi: Taxi! Taxi! The Movie


Setelah saya merasa puas dengan aksi Gurmit Singh dalam film Just Follow Law besutan Jack Neo, kali ini saya dibawa tertawa sampai menangis hingga tertawa dalam tangis lewat kepiawaian akting duo komedian Singapur, Mark Lee dan Gurmit Singh, dalam film Taxi! Taxi! (2013). 

Terinspirasi dari kisah nyata Dr. Cai Mingjie yang terekam dalam buku bestseller-nya : “Diary of a Taxi Driver: True Stories From Singapore's Most Educated Cabdriver" , Taxi! Taxi! juga menyajikan pengalaman hidup A Chua (Gurmit Singh), sang professor mikrobiologi bergelar Phd yang terpaksa menjadi supir taksi. Berikut RINGKASANNYA (bukan sinopsis loh ya, jadi jangan tuduh spolier hihi)


Lantaran diberhentikan dari pekerjaannya selama 20 tahun terakhir sebagai peneliti di sebuah laboratorium, A Chua kini harus segera mencari pekerjaan agar tetap dapat membiayai anak-istrinya yang tidak tahu menahu soal pemberhentian tersebut. Beragam pekerjaan telah ia coba, mulai dari manajer di sebuah kantor (yang berakhir tragis, justru karena ketelitian dan ingatannya yang kuat sehingga seringkali mengoreksi atasannya ketika salah menyebutkan data keuntungan perusahaan, membuat atasannya tampil buruk), pegawai di sebuah kantor (namun sebagai anak baru, ia disuruh-suruh membelikan aneka makanan dan minuman bagi senior-seniornya), hingga guru les privat (berakhir tragis juga. Ia diberhentikan karena membuat anak didiknya menangis. Penyebabnya, ketika anak didiknya dengan bangga menunjukan peningkatan besar di ulangan IPA nya yang mendapat nilai 62, A Chua justru menghukumnya karena baginya nilai itu sangat memalukan dan tidak bisa dibanggakan, mengingat semasa sekolah nilai-nilainya tidak pernah di bawah 92!).

Setelah bertemu Ah Tau (Mark Lee), si supir taksi tersantai yang berhasil 'mencegahnya bunuh diri' (padahal ia hanya sedang merenung.... di atap gedung dengan lima puluh lantai), A Chua akhirnya mencoba melamar menjadi supir taksi dan diterima 15 menit setelahnya. 

Tak diduga, tepat hari ketika ia pertama kali resmi menjadi supir taksi, mertuanya datang dan akan tinggal selama tiga bulan kedepan! Mertua yang selama ini selalu membanggakannya. Sialnya, sepanjang perjalanan pulang dari bandara, A Chua terjebak dalam taksi Ah Tau yang terus-terusan menyebut dirinya sebagai supir taksi baru di hadapan istri dan mertua A Chua. Jelas mertuanya geram, istrinya pun kebingungan. A Chua menutupinya dengan beragam kebohongan dan membentak Ah Tau yang tidak tahu menahu.


Ah Tau menjadi kesal, bahkan memprovokasi teman-temannya untuk menjauhi A Chua yang dianggapnya sombong. Walau demikian, ketika A Chua diperas oleh penumpang taksinya, Ah Tau yang kebetulan melihat tetap mau membantunya. Malangnya, istri A Chua sedang berada di dekat lokasi pemerasan hingga akhirnya terbongkarlah pekerjaan baru A Chua ini. Istrinya masih mencoba mengerti, namun Jason (anak A Chua) dan mertuanya shock ketika mengetahuinya, bahkan A Chua kehilangan rasa hormat dan kepercayaan Jason.

Hidup Ah Tau juga bukan tanpa masalah. Hidup berdua dengan anaknya, Jia Jia, Ah Tau yang kelewat santai sama sekali belum merencanakan pendidikan anaknya yang tahun depan akan mulai masuk sekolah dasar. Belum lagi kemampuan Bahasa Inggris Jia Jia yang kacau balau ditegur oleh guru TK nya, maklum saja, Jia Jia mempelajari Bahasa Inggris jalanan yang digunakan Ah Tau sehari-hari. Kerinduan Jia Jia akan ibunya yang sudah meninggalkan Ah Tau juga membuat Ah Tau terpaksa berbohong, mengatakan ibunya sedang ke luar negeri. Foto-foto manipulasi pun dibuat untuk meyakinkan Jia Jia. Jia Jia yang akhirnya mengetahui foto-foto itu hanya rekayasa marah dan tidak percaya lagi pada Ah Tau.

Ketika A Chua menumpang mandi di rumah Ah Tau dan menimbulkan salah paham!

Untuk memenuhi kebutuhan Jia Jia akan kasih sayang ibu, Ah Tau berusaha mengajak kencan Regina, mahasiswi Fashion Design asal Malaysia yang homestaying di rumahnya. Sayangnya ketika hendak menjemput Regina, Ah Tau dihadang berbagai aral. Mulai dari penumpang yang membayar dengan uang besar sehingga ia harus menukarkan kembalian, di tilang polisi karena putar balik tidak pada tempatnya, kehabisan bensin sehingga ia harus naik taksi (menjadi penumpangnya loh), taksi yang ditumpanginya pun harus ditilang polisi lagi lantaran putar balik sembarangan. Yang mengesalkan, polisi profesional ini benar-benar jelas dalam menyampaikan bukti pelanggarannya!

"Selamat siang! Tolong matikan mesin Anda. Boleh perlihatkan SIM dan STNK-nya? Apa Anda tahu kesalahan Anda? Ya, putar balik sembarangan. Apa Anda tahu betapa bahayanya putar balik sembarangan? Bagaimana perasaan keluarga Anda di rumah jika mengetahui Anda terluka akibat putar balik sembarangan? Apa lagi Anda adalah supir taksi, seharusnya Anda lebih profesional dan bertanggung jawab. Bayangkan saja jika yang terluka bukan hanya Anda, tapi juga mobil lain. Bagaimana perasaan keluarga korban tersebut mengetahui saudaranya kecelakaan? Belum lagi teman-teman dari keluarga korban tersebut, bagaimana jika mereka tahu temannya mengalami kecelakaan? Dengan demikian, terpaksa Anda saya tilang. Karena, jika saya tidak menilang Anda maka saya akan melanggar peraturan dan tidak menjadi polisi yang profesional. *nulis surat tilang dengan lambat* Ini surat tilang Anda, ingat jangan putar balik sembarangan lagi. Selamat siang!" (capek juga ya ngetiknya)

Bisa ditebak, Ah Tau terlambat menjemput Regina untuk kesekian kalinya. Regina yang kesal menyebrang jalan tanpa melihat-lihat dan... KABOOM!! sebuah mobil berkecepatan tinggi menabraknya, membuat penglihatannya hilang dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Merasa depresi, Regina memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. A Chua berusaha mencegahnya dengan menceritakannya pengalaman hidupnya sendiri. Tentang bagaimana ia selalu menjadi yang terbaik selama sekolah dan bekerja, namun tiba-tiba semua itu raib setelah pergantian kepemimpinan laboratoriumnya. Bagaimana ia melihat teman-temannya yang masih bekerja berpergian meneliti ke luar negeri dan merendahkannya, juga ternyata laboratorium tempatnya bekerja justru merekrut anggota baru dari luar negeri yang diperlakukan dengan sangat baik. A Chua menceritakan pengalamannya kehilangan harga diri, kepercayaan diri, bahkan rasa hormat dari anaknya sendiri. Tanpa ia sadari, semua aksinya direkam dalam video dan disiarkan di internet secara langsung sehingga Jason, anaknya, dapat mendengar semua kata-katanya dan terharu. 


Aksi bunuh diri Regina akhirnya berhasil dicegah. Jason yang kini lebih mengerti perjuangan ayahnya tidak merasa malu lagi dan tawaran pekerjaan bagi A Chua terus mengalir berkat videonya yang tersebar di internet. Walau demikian, A Chua tetap menjadi supir taksi part time untuk bersosialisasi. Bagaimana bisa bersosialisasi dengan dunia luar jika hanya terkurung dalam laboratorium? Lagipula ternyata, pengalamannya sebagai supir taksi selama enam bulan lebih bermakna dan berharga dibandingkan dua puluh tahun di dalam laboratorium. Regina pun menemukan bakat terpendam dalam dirinya dan menjadi penyiar radio.


Secara keseluruhan, film ini dapat dibilang menginspirasi dan menghibur dengan seimbang. Lelucon disampaikan pada saat yang tepat pada adegan yang pas untuk mencairkan suasana, terutama adegan ketika Ah Tau 'meper ingusnya' ke baju A Chua (padahal saat itu saya sedang nangis dengan hebohnya. A Chua sama Ah Tau kayak lagi curhat gitu sehabis kehilangan kepercayaan anak-anaknya), saat A Chua dan Ah Tau dikira homo sama Regina (A Chua numpang mandi, dia lagi mau wawancara kerja gitu tapi badannya penuh oli karena coba benerin taksinya. Pas udah mandi, Ah Tau yang liat masih ada oli yang menempel berinisiatif ngelapin A Chua yang setengah telanjang, tepat ketika Regina pulang), dan pas Ah Tau ditilang polisi profesional itu (apalagi pas Ah Tau motong kalimat si polisi hingga ia terpaksa ngulang dari awal!). Yang bikin bingung sih, kayaknhya cuma Gurmit yang bahasa utama percakapannya itu English (maklum, dia ga gitu bisa mandarin) sedangkan tokoh-tokoh lain bahasa utamanya mandarin. Tapi kok mereka tetep saling ngerti gitu dan bisa ngomong dengan lancar? Bukannya kalo si Gurmit ngerti, harusnya bisa ngomong mandarin juga dong, IMO. Tapi sisanya TOP deh! Recomended!

Senin, 02 Desember 2013

Melodi dalam Harmoni Abadi | Cerpen

Melodi dalam Harmoni Abadi | Cerpen

Masih ingat dengan Trio ACI, Amir, Cici, Ito yang dulu ditayangkan di TVRI? Kangen dengan serial Aku Cinta Indonesia? Jangan khawatir, ACI akan kembali mewarnai ranah perfilman tanah air! Kini, A itu Andi, C itu Cahaya, I itu Ian. Ceritanya gak kalah seru!!

Sudah gak sabar? Baca aja dulu cerpen remaja paling cinta Indonesia di sini: http://kaudanaci.com/Cerpen/melodi-dalam-harmoni-abadi.html ada lagunya juga loh! Penasaran? Buka aja: http://kaudanaci.com/Cerpen/melodi-dalam-harmoni-abadi.html ~ klik tombol bintangnya juga ya ;)


Kamis, 28 November 2013

Peraturan Dibuat Untuk Dilanggar

"Peraturan dapat dilanggar, asal dilakukan pada saat yang tepat"



Baru-baru ini saya menonton sebuah film untuk kedua kalinya di Celestial Movie. Kali pertama menonton, saya sudah tertarik dan berniat untuk mengulasnya. Namun karena berbagai kendala, seperti tugas dan errornya koneksi komputer saya ke wifi, keinginan ini terpaksa saya tahan. Ternyata, baru saja film itu diputar kembali! Film apakah itu?

Just Follow Law adalah sebuah film komedi satir bermuatan kritik sosial tentang ruwetnya birokrasi, termasuk di negara yang katanya birokrasinya paling efisien yaitu Singapore. Dibintangi Fann Wong dan Gurmit Singh, film kesepuluh Jack Neo ini berhasil membuat saya 'menertawai diri sendiri'. Berikut RINGKASANNYA (bukan sinopsis loh, jadi jangan protes jika spoiler hihi)



Dimulai dengan plot yang kedengarannya klise, Tanya Cheng (Fann Wong), direktur WAS yang hidup serba teratur, selalu mengikuti peraturan, dan tidak pernah membuat masalah, tiba-tiba saja harus menerima bahwa dirinya bertukar jiwa dengan Lim Teng Zui (Gurmit Singh), seorang teknisi urakan tak terpelajar, setelah mengalami tabrakan mobil. 



Dari sana, cerita berkembang menyorot Teng Zui yang menikmati hidup barunya sebagai direktur. Tanpa berpikir, semua uang perusahaan dihamburkannya, terutama untuk putrinya yang kini tidak mengenalinya lagi. Selain itu, untuk membalas dendam akan perlakuan yang pernah ia dapatkan, kini Teng Zui dengan mudahnya memberikan persetujuan, apa saja kepada siapa saja, tanpa birokrasi yang rumit.



Sementara itu, Tanya mulai mengembangkan potensinya dengan mengikuti kursus-kursus dengan ulet. Dari kacamata Teng Zui, ia dapat bertemu dan memahami ibunya lebih mendalam, tak seperti dulu ia selalu mengabaikan perhatian ibunya karena terlampau sibuk. Ketika menjadi Teng Zui, ia baru mengetahui bahwa ibunya tidak menggunakan uang yang ia berikan (hanya ditabung) dan ia bekerja mengumpulkan kaleng-kaleng bekas setiap harinya. Selain itu, kepolosan putri Teng Zui yang begitu menyayangi ayahnya juga menyentil dirinya yang kerap kali mengabaikan perhatian dari ibunya.


Cerita memuncak ketika WAS terancam tutup akibat ulah Teng Zui. Belum lagi ada komplotan dalam perusahaan tersebut yang memang mengamini tutupnya perusahaan tersebut. Mereka bertiga (komplotan tersebut) berusaha memboikot agar program job fair yang akan diadakan perusahaan tersebut gagal. 



Teng Zui dan Tanya bahu membahu mencari ide untuk menyelenggarakan job fair yang meriah. Merekapun memutuskan untuk memasang poster dan baliho di sepanjang pilar kereta api. Untuk mendapatkan izin, pertama-tama mereka menemui badan pemilik dan pengurus kereta api. Namun, mereka ditolak dengan alasan yang ingin dipergunakan adalah pilarnya, bukan kereta api, sehingga mereka harus menemui badan pemilik dan pendiri pilar tersebut. Ketika mengikuti petunjuk yang dimaksud, mereka dialihkan kepada pemilik tanah, yang ternyata juga melempar tanggung jawab kepada badan penanggung jawab bangunan. Sesampai di sana, ternyata mereka di arahkan kembali kepada badan pemilik dan pengurus kereta api!

Merasa dipermainkan, Teng Zui dalam wujud Tanya akhirnya memutuskan untuk melanggar aturan, seperti yang selama ini biasa ia lakukan. Diadakannya promosi besar-besaran dengan menyewa beberapa penari, yang tentunya mendatangkan komplain dari berbagai pihak. Ketika Teng Zui hendak meminta maaf kepada publik, CEO WAS dan kolega-koleganya terkejut.

"Kami tidak pernah meminta maaf kepada publik (karena kami tidak pernah salah). Masyarakat Singapore itu pelupa, biarkan saja dan jangan jawab apapun pertanyaan dari wartawan"



Menjelang job fair, kekacauan kembali menimpa akibat ulah komplotan penentang. Penari-penari dibatalkan dan latar dihancurkan. Untungnya, Teng Zui tak kehabisan akal, tak ada paku, latar pun diperbaiki dengan lakban, seperti kebiasaan buruknya dahulu ketika kehabisan paku. Hal ini pernah membuat walikota terjatuh akibat kurang kokohnya latar, namun kini tak ada pilihan lain. Ternyata, penggunaan lakban malah menyelamatkan banyak jiwa, termasuk jiwa walikota itu sendiri. Terjadi kebakaran dan berkat latar yang bisa dirobohkan tersebut, semua orang bisa keluar dengan selamat. Teng Zui pun diberi penghargaan sebagai inovator yang berani mendobrak aturan.



Cerita berakhir dengan menikahnya Tanya dan Teng Zui. Dengan demikian, Teng Zui bisa kembali dekat dengan anaknya, sedangkan Tanya bisa berbakti pada ibunya. 

Dalam film, terasa kritik sosial yang kental. Seperti ketika Tanya dalam tubuh Teng Zui yang hendak melihat daftar riwayat hidup Teng Zui. Ia harus melengkapi formulir, menyertakan fotokopi, dan menunggu selama setidaknya tiga hari hanya untuk melihat datanya sendiri! Juga ketika petugas parkir yang mengklem roda mobil pemadam kebakaran karena parkir di tempat khusus VIP. Lalu juga ada adegan dimana para pegawai enggan diajak berkerjasama untuk memutuskan suatu hal. Menurut mereka, atasanlah yang memutuskan segalanya, mereka tinggal menjalankan, sesuai peraturan yang ada.

Komedi ringan juga turut diselipkan, terutama seputar adaptasi Teng Lui dan Tanya di tubuh barunya. Sayang, sindiran yang ditampilkan kepada pemerintah terksean diulang-ulang dan terlalu diekspos. Juga bagian kebakaran yang benar-benar terlihat editannya. Materi dewasa yang ditampilkan kadang sedikit mengganggu, ketika Teng Zui dalam wujud Tanya pergi ke pantai dan permandian air hangat untuk melihat wanita berbikini dan beberapa adegan lain seputar transisi Teng Zui menjadi Tanya.

Menurut saya, film ini dapat menangkap dengan jelas keseharian yang biasa ditemui, dan kita diundang untuk menertawakannya bersama, sembari introspeksi diri. 
 

Celoteh si Devi Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates