Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2016

Noah's Bottle: Osu, Cytus, Deemo, dan Piano Tiles Jadi Satu

Sudah lama ya gak review-review. Kemarin iseng baca reviewan saya dulu terhadap film dan game. Reaksi: Wuih, beneran nih saya yang nulis? Niat amat... Apa kebanyakan waktu luang ya wkwkwk. Pokoknya semua data-datanya lengkap, banyak gambar, dan pokoknya niat deh. Coba aja liat review novel visual, Osu, film, film lagi, dan buku. Huahahahaha ga nyangka juga ya :"D

Sekarang mau nulis yang ringan-ringan aja karena terdorong sama bagusnya game ini, melampaui ekspetasi saya deh. Nama gamenya Noah's Bottle.

Sekilas mirip Deemo ya?
Game yang satu ini mengusung tema tak berbeda jauh dari game-game yang beredar di pasaran yakni rhythm game alias game yang mengandalkan ritme/ketukan dari suatu musik sebagai inti permainannya. Nah, yang membedakan adalah, kalian bisa mengimpor sendiri musik yang diinginkan dan game ini akan langsung membuatkan patternnya secara otomatis!

Ada dua jenis permainan utama di game ini yakni Falling Notes dan Spin Type. Falling Notes ya not-not yang jatuh sesuai irama, mirip Deemo. Kalau Spin notnya tersusun di sebuah piringan yang harus disentuh ketika dilewati oleh garis yang berputar. 

Ini yang Spin
Hal yang saya sukai dari game ini adalah storylinenya yang jelas dan menarik, tampilan dan background yang cantik, gameplay yang variatif (ketika kalian bertemu dengan satu peri dan botolnya, klik pada botol peri tersebut untuk bermain game type lain), kemampuan untuk menyesuaikan delay, bisa bikin pattern sendiri, dan yang paling penting bisa masukin lagu sendiri!

Lagu-lagu yang saya masukin kebanyakan dari sountrack anime (ngambil dari Osu), lagu Cytus (download dari Osu juga) dan lagu favorit lainnya. Sejauh ini, game play yang paling saya suka adalah yang ice genie.


Penasaran? Coba aja cari di playstore. Seru deh! Selamat bermain!

Jumat, 11 Juli 2014

Novel Visual di SakeVisual!

Bosan baca novel biasa? Ingin yang lebih interaktif dengan suara dan gambar? Well, di era teknologi seperti ini apa sih yang gak mungkin buat kamu! Untuk yang menginginkan pengalaman yang berbeda, bisa mencoba novel visual di website SakeVisual.

novel visual ripples

Ayu Sakata selaku founder dan writer sejumlah novel di SakeVisual mencoba menghadirkan pengalaman membaca novel yang berbeda dan menarik. Yang membuat menarik adalah kita dapat menentukan sendiri jalan cerita novel berdasarkan pilihan-pilihan yang telah kita lakukan sebelumnya! Dengan demikian, ending yang dihasilkan akan berbeda-beda pula.

kuu ripples online

Novel-novel yang disediakan di SakeVisual ini ada yang online, ada juga yang perlu di download. Sudah mulai penasaran ya? Coba dulu saja cerita pendek Ripples di sini: Ripples. Cerita itu yang saya jadikan screenshot di atas loh.. Tapi cerita pendek ini tidak seperti novel yang bisa divariasikan endingnya. Selamat membaca!

Rabu, 26 Maret 2014

Go, go, go, Osu!

Osu! (bukan asu loh.. hehe) Ada yang pernah dengar? Saya sendiri baru dengar dan lihat ketika teman saya memainkannya dengan seru. Teman saya menyelesaikan satu beatmap dengan hampir sempurna. Demikian juga dengan saya. Ketika saya mencoba, saya menyelesaikannya dengan tidak hampir gagal alias gatot telan (gagal total tengah jalan, apanya yang 'demikian juga dengan saya' coba?!)


Osu! adalah permainan yang mengasah kepekaan ritme dan gerak motorik. Kejelian telinga dan ketangkasan tangan sangat diutamakan dalam game ini. Cara mainnya mudah kok, pilih beatmap/lagu yang kalian suka, lalu klik bulatan-bulatan yang muncul sesuai irama yaitu ketika cincin yang ada di sekitar lingkaran mengecil hingga tepat menyentuh tepi lingkaran. Kalau bulatannya diikuti ekor, ikuti saja bola yang menggelinding di sepanjang lintasan ekor tersebut. Ketika mncul piring besar, putar piring tersebut secepat mungkin dnegan cara klik dan drag secara memutar. Untuk lebih jelasnya, teman-teman bisa mengikuti tutorial yang disediakan.


Walau beatmap yang disediakan kebanyakan berasal dari game atau anime, disediakan juga pilihan untuk membuat beatmap sendiri loh! Beatmap yang sudah dibuat nantinya bisa dimainkan atau diunggah di website Osu! untuk diunduh pemain lainnya. Ada juga pilihan untuk bermain secara online yang memungkinkan para pemain untuk bertanding. 



Oh ya, mode permainan yang disediakan juga beragam. Ada osu!mania yang mirip piano, cara memainkannya serupa dengan VOS, Guitar Hero, dan lainnya. Lalu ada Taiko yang mirip drum. Selanjutnya Catch the Beat, caranya tinggal menekan panah kanan atau kiri untuk menangkap buah-buahan yang jatuh sesuai irama.

Untuk yang sudah tidak sabar, langsung saja meluncur ke https://osu.ppy.sh/p/download untuk mengunduhnya. Beatmap-beatmap baru bisa teman-teman unduh juga di web tersebut. Tak ketinggalan, buat juga profil secara online di sana agar skor permainan bisa tersimpan. Kalian juga bisa menambah teman, membuat pos di forum, juga mengumpulkan penghargaan! Jangan lupa tambahkan depimomo sebagai teman kalian ya! Selamat bermain! ;)

Selasa, 31 Desember 2013

Meneropong Sorong




“Nak, bangun nak! Sebentar lagi sampai loh!”

Huahm. Duh, siapa sih yang ngebangunin? Lagi enak-enak tidur juga. Namun, kupaksakan juga tuk membuka mata. Mentari sudah berseri-seri. Kutaksir saat itu sudah sekitar jam delapan pagi. Tapi kok aku masih ngantuk banget ya? Aneh.

”Sekarang jam berapa? Jam delapan ya?”

Suara berat ayah yang tadi membangunkanku kembali terdengar.

”Jam enam waktu Yogya, jam delapan waktu Sorong.”

Oh, gitu. Pantas aku masih ngantuk. Ayah nih suka ngelucu aja. Aku kan nanya jam di sini, di Yogya, bukan di So... Eh?!

”HAH? SORONG??! Kita lagi di Sorong??!”

Teriakanku kontan membuat seisi bus menoleh. Tatapan galak, bingung, dan iba semuanya terpusat ke arahku. Terang saja, anak gadis teriak-teriak di bus pagi-pagi gini?! Gadis gak waras itu mah.

”Ssst! Jangan berisik! Kamu lupa kita lagi pindahan ke Sorong?”

Pindahan? Sorong? Otakku yang masih dingin ku paksa untuk bekerja lebih keras. Oh! Aku ingat! Aku dan ayah sedang dalam perjalanan menuju Sorong. Ayah mendapat tawaran kerja dari sebuah perusahaan minyak di kota minyak ini. Kehidupan di Yogya yang kian tak menentu membuat ayah dan aku terpaksa berangkat ke Sorong untuk mengadu nasib. Meninggalkan nisan ibu di Yogya.

”Oh iya, ya. Lali aku. Hehehe,” jawabku sambil cengegesan. Tak lama kemudian, bis yang kutumpangi berhenti di sebuah mal. Gedung baru berlantai tiga ini sangat berbeda dari bayanganku akan mal di Sorong. Pikirku, mal di daerah Papua Barat yang notabene jauh dari ibukota Indonesia pastilah kumuh, kotor, dan tak terawat. Namun, semua bayangan itu langsung lenyap ketika aku melihat Ramayana Mal Sorong ini.

”Ajeng, masuk dulu yuk. Temen ayah baru bisa nganter kita ke kontrakan jam sepuluh nanti,” tegur ayah.

Kulirik jam di tanganku. Jam tujuh...WIB. Sambil berjalan mengikuti ayah memasuki mal yang baru saja buka, ku putar sekrup jam tanganku hingga jarum pendeknya menyentuh angka sembilan.

BRUK!

”HEI! Kalo jalan lihat-lihat dong! Mentang-mentang korang putih dan kitorang hitam, lantas kitorang tak dianggap,” amuk seorang lelaki yang tak sengaja kutabrak. Loh, kok jadi bawa-bawa suku gini sih? Ya, warna kulit remaja ini memang agak gelap, khas suku Papua. Rambutnya yang keriting pendek dan matanya yang hitam pekat meyakinkanku bahwa orang ini benar-benar penduduk asli sini. Dari tinggi dan perawakannya, nampaknya kami seumuran.

”Ma... Maaf. Maaf banget. Aku gak sengaja. Kamu gak terluka kan?”

”Sudah, sudah. Aku ini laki, tau! Lain kali, lihat-lihat kalau jalan!”

Ia pun segera beranjak pergi. Eh, aku lupa menanyakan namanya! Tapi, kayaknya dia lagi buru-buru. Mungkin di lain kesempatan kami akan berjumpa lagi.

”Ajeng! Kamu ngapain bengong aja di sana? Ayah tungguin juga. Ayo lekas kemari!” panggil ayah dari toko peralatan elektronik tak jauh di depanku. Aku pun segera menyusul ayah.

~~

Aku menaiki angkot yang disebut penduduk setempat dengan taksi. Sudah seminggu ini aku tidak diijinkan keluar rumah oleh ayah. Hanya ayah yang boleh keluar rumah untuk membeli makanan dan bergaul dengan tetangga. Kata ayah, anak gadis sebaiknya di rumah saja. Nanti kalau sudah masuk sekolah dan kenal banyak orang baru boleh keluar rumah. Huh, aku kan bosan! Karena itu hari ini aku mau jalan-jalan ke Ramayana Mal Sorong, satu-satunya tempat yang kuketahui. Sebelum masuk ke mal, ku putuskan untuk makan di warung yang terletak tak jauh dari mal. Wah, menu makanannya familiar, khas jawa. Sempat kukira aku akan disuguhi cacing cah ilalang atau bakwan semut-belalang. Iiihhh, emoh! Kuputuskan untuk memesan sepiring nasi dengan lauk capcai. Tadinya aku mau pesan nasi dengan fuyunghai dan ayam goreng. Tapi, uang yang kubawa pas-pasan, cuma dua puluh ribu. Kupikir, nasi capcai pasti lebih murah. Selesai makan, aku memanggil mbak-mbak yang menjaga warung itu.

”Mbak, semuanya jadi berapa ya?”

”Semuanya empat puluh lima ribu, kakak,” sahutnya dengan santai.

APA?! EMPAT PULUH LIMA RIBU?? Tak terasa, wajahku langsung pucat pasi. Kubuka-tutup dompetku yang hanya berisi selembar kertas hijau bergambar wajah Otto Iskandardinata. Apa yang harus kulakukan?! Telpon ayah tak mungkin, ia pasti marah mengetahuiku pergi tanpa ijin. Mengadaikan barang? Aku tak bawa apa-apa, masa aku menggadaikan diri?? Atau bekerja disini tanpa di bayar?

Puk. Kurasakan sebentuk tangan menepuk pundak kananku. Dibelakangku, tampak seorang lelaki muda berkacamata pemilik tangan itu. Tampaknya, dia ini seorang kutu buku yang cerdas.

”Uangnya kurang ya?” tanyanya ramah. Tanpa menunggu jawabku, ia menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan kepada mbak penjaga warung yang masih menatapku tanpa suara. Aku masih mematung, tak menyangka bisa mendapat mukjizat di siang bolong seperti ini.

”Hei! Kamu! Kok bengong aja sih? HEI! SADAR!” ujarnya sambil menguncang-guncang tubuhku.

”Eh, iya, iya. Aku masih hidup kok. Makasih ya, makasih banyak! Aku pasti ganti uang kamu besok! Besok kita ketemu lagi ya di sini jam sepuluh!” cerocosku buru-buru, takut ia mengiraku gadis tak tahu diri yang sukanya gratisan.

”Tenang, tenang! Gak usah buru-buru balikinnya, santai aja. Ngomong-ngomong, nama kamu siapa? Aku Gunardi, Gunardi Wiyanto” tuturnya sambil menyodorkan tangan kanannya dengan sopan. Kusambut uluran tangannya. Tangannya halus dan hangat, sehalus perilakunya dan sehangat senyumnya.

”Aku Ajeng Setiadinata, panggil Ajeng saja.”

”Ajeng. Nama yang bagus! Eh, kita ngobrol di taman aja yuk! Deket kok. Gak enak juga kan, berdiri di sini lama-lama? Mau gak?” ajaknya dengan senyum jenaka. Entah terhipnotis apa, aku mengangguk pelan.

~~

Pukul lima kurang sepuluh menit. Tepat waktu. Aku sampai di rumah sebelum ayah pulang. Aku pun melangkahkan kaki ke kamar, hendak mengambil baju untuk mandi. Sejenak aku teringat lagi percakapanku dengan Gunardi.

”Kamu pasti orang baru ya? Kelihatan banget tadi mukamu pucat pasi begitu mendengar harga makanan di warung,” tanya Gunardi sambil terkikik geli.

”Iya. Aku kaget banget, moso nasi capcai empat puluh lima ribu?! Waktu di Yogya, di warung depan sekolah lamaku tepatnya, nasi capcai cuma sepuluh ribu, kok!” jawabku dengan wajah cemberut.

”Ngomong-ngomong soal sekolah, kamu sekarang kelas berapa? Aku kelas X tahun ini. Sepertinya usia kita tak berbeda jauh.”

”Aku juga kelas X! Kita seangkatan rupanya!”

”Oh ya? Kebetulan sekali! Kamu sekolah di mana?”

”Belum tahu, aku kan baru pindah. Ayahku yang memilihkanku sekolah. Katanya sih minggu depan sudah masuk.”

”Semoga kita satu sekolah ya! Kalau bisa sih, sekelas. Aku ingin sekali sekelas denganmu, Ajeng!”

Ya, aku juga. Siapa sih yang tidak mau sekelas dengan lelaki seramah dan sejenaka kau, Gunardi? Sambil tersenyum simpul, aku pun bergegas mandi sore sebelum ayah pulang.

~~

Akhirnya masuk sekolah juga. Hari ini ayah cuti untuk mengantarkanku ke sekolah baruku. Hanya dengan lima belas menit berjalan kaki, sampailah kami di gerbang sekolah baruku.

”Ayah, aku masuk sendiri aja. Malu ah sama teman-teman yang lain, gak ada yang diantar! Aku kan sudah besar!”

Ayah yang mulanya bersikeras ingin mengantarku masuk akhirnya luluh juga. Setelah beribu-ribu wejangan, ia pun membiarkanku masuk sendiri. Aku pun menelusuri seisi sekolah untuk mencari kelas X4, kelas baruku.

Puk. Sebentuk tangan menepuk pundak kananku. Pasti Gunardi! Dengan semangat aku berbalik, mengharapkan wajah hitam manis yang dibingkai kacamata kotak itu menantiku.

”Korang cewek yang waktu itu tabrak kitorang, bukan? Sedang apa di sini?”

Uh, bukan Gunardi. Dia kan lelaki yang waktu itu tak sengaja ku tabrak di mal! Dia juga sekolah di sini?!

”Uh, iya. Aku sekolah di sini. Oh ya, kita belum kenalan kan? Aku Ajeng, Ajeng Setiadinata. Aku baru pindah dari Yogya,” kuulurkan tangan kananku dengan sopan, berharap kesan pertama yang buruk itu dapat terhapus.

”Emm, saya Alex,” jawabnya tanpa membalas uluran tanganku. Kutarik lagi tanganku yang menyalami angin kosong. Dasar tidak sopan!

”Aku kelas X4, kamu kelas berapa? Bisa tolong temenin aku cari kelas gak?”

”Saya juga kelas X4. Kelasnya ada di lantai dua. Ayo ikut!” katanya sambil menarik tangan kananku. Tangannya kasar, namun bisa kurasakan ketulusannya menolongku.

Sesampainya di lantai dua, kulihat sesosok orang yang kukenal. Ya, itu dia, itu Gunardi! Tanpa basa-basi, langsung saja kuhampiri dia. Meninggalkan Alex yang menatapku tajam dari kejauhan.

~~
Ternyata, aku juga sekelas dengan Gunardi. Senang sekali rasanya bisa sekelas dengannya. Sayang, bukan dia yang duduk di sebelahku. Yang duduk di sebelahku selama satu semester ke depan adalah Alex, lelaki dingin yang cuek. Benar-benar menyebalkan.

”Anak-anak, untuk tugas kali ini kalian harus membuat laporan penelitian sosial. Boleh tentang apa saja. Untuk pengerjaannya, satu kelompok berdua-dua...”

Dengan semangat kutolehkan kepala ke arah Gunardi yang ternyata juga melakukan hal yang sama. Kami sampai terkikik geli sendiri begitu mengetahuinya.

”Berdua-dua dengan teman sebangku kalian masing-masing!” lanjut Pak Dodi yang langsung menghentikan tawaku. Sekelompok dengan Alex? Bukan Gunardi? Aku langsung lesu begitu mendengarnya. Satu jam pelajaran yang diberikan Pak Dodi untuk membahas tema penelitian malah kugunakan untuk mencorat-coret halaman terakhir buku tulisku. Tiba-tiba, sebuah tangan berkulit gelap mencengkram kuat tangan kananku.

”HEI! APA-APAAN SIH!” bentaku marah ke arah Alex, cowok yang sudah merenggut segala kebahagiaanku ini. Untung saja kelas sedang ribut-ributnya. Tak ada seorang pun yang mempedulikan teriakan brutalku barusan.

”Jangan korang corat-coret terus! Aku tak mau dapat nilai jelek gara-gara kau! Ayo bahas tema penelitian!”

Dengan terpaksa, aku pun mengiyakan usulan Alex. Aku juga tak mau dapat nilai jelek hanya karena tak sekelompok dengan Gunardi, oke? Aku masih waras, kok! Kami pun membahas tema apa yang kira-kira menarik untuk dijadikan laporan penelitian.

”Gimana kalau tentang pengaruh Blackberry terhadap prestasi belajar?“ usulku yang langsung disambut gelengan kepala Alex.

”Kau kira berapa banyak di sini yang pakai Blackberry? Di sini tak seperti di kota kau. Kau dari Yogya, bukan? Kota besar itu?”

”Ah, tak sebesar itu juga. Mungkin Yogya besar, tapi tak sepadat Jakarta”

”Saya lebih memilih kota besar yang ramah seperti Yogya dibanding Jakarta.”

”Oh ya? Aku juga. Namun kota Sorong juga tak kalah ramah dan meyenangkan dibanding Yogya,” ucapku jujur. Hmm, ternyata Alex tak sedingin yang kubayangkan. Kota Sorong benar-benar memberikanku banyak kejutan.

”Lalu, menurutmu tema apa yang cocok untuk laporan penelitian kita?” sambungku.

”Kalau tentang perbandingan pengunjung lokal dan asing yang datang ke Pantai Tembok Berlin gimana?”

“Hah? Tembok Berlin? Yang ada di Jerman itu? Jadi kita mesti ke Jerman buat meneliti gitu?. Lagipula, setahuku tembok itu sudah dirubuhkan sejak lama. Kau ini ada-ada saja Alex. Mau ngelucu ya?” tuturku panjang lebar.

“Kau tuh yang kuper! Masa sudah tinggal di sini sekian lama masih nggak tahu kalau di dekat pantai ada tembok yang namanya Tembok Berlin? Tembok segede gitu kau acuhkan saja. Pantaslah yang kau kenal hanya Gunardi, Gunardi, dan Gunardi..”

Perasaanku saja atau memang ada nada cemburu saat Alex menyebut nama Gunardi? Ah, pasti hanya perasaanku saja. Dasar kau ini Ajeng! Ke-GR-an banget sih jadi orang? Sadar diri dong!

“Oh ya? Aku baru tahu di Sorong juga ada Tembok Berlin. Di mana letaknya? Rasanya aku tak pernah melihatnya.”

”Kau selalu melewatinya sewaktu pulang sekolah!”

”Bagaimana kau tahu aku melewatinya sewaktu pulang sekolah? Apakah kamu...”

”Tak!! Saya tak ikuti korang! Kebetulan saja arah rumah kita sama, hanya saja di perempatan kau belok kanan sedangkan saya belok kiri! Jangan pikir macam-macam!” jawab Alex gelagapan. Mengapa ia jadi segugup ini?

”Tapi, mengapa aku tak pernah melihatmu sewaktu berjalan pulang?”

”Bukankah yang ada di pikiran kau hanya Gunardi? Tak pernah bukan kau perhatikan yang ada di sekelilingmu? Ah, sudahlah. Tak perlu kitorang bahas. Waktu yang diberi untuk membahas tugas, hendaknya dipakai untuk membahas tugas.”

”Baiklah. Aku setuju dengan usulmu. Tema itu sepertinya menarik. Aku juga jadi bisa sekalian jalan-jalan di sana. Lantas, kapan kita akan menelitinya?”

”Lebih baik akhir pekan, banyak pengunjung yang datang. Bagaimana kalau Sabtu ini? Kutunggu kau di sekolah jam tiga sore.”

”Baiklah.”

Itulah yang terjadi. Dua hari kemudian, kami berjalan menyusuri tepi Pantai Tembok Berlin yang merupakan tepi ’Kepala Burung Papua’ ini. Apa yang dimaksud Alex sebagai Tembok Berlin ternyata adalah tembok tebal setinggi pinggang orang dewasa yang memagari ruas pantai tak kurang dari tiga kilometer. Pantai inilah dan disebut dengan Pantai Tembok Berlin atau Pantai SepTemBer yang merupakan singkatan dari ’Pantai Sepanjang Tembok Berlin’. Orang-orang Papua memang sangat kreatif!
Alex mengajakku untuk duduk di atas tembok, meniru warga setempat yang sedang melepas penat.

”Ayo, naik kemari! Atau korang takut? Kalah kau dengan balita di sana!” ujar Alex sambil menunjuk balita yang sedang mencoba naik ke atas tembok, dibantu ibunya tentu.

”Siapa takut? Lihat saja ini!” Dengan lihai aku melompat ke atas tembok. Hah! Tak sia-sia dulu aku sering diomelin gara-gara memanjat tembok pembatas dengan rumah tetangga. Dari sini, nampak birunya langit yang berpadu dengan jernihnya air laut. Sesekali terdengar tawa renyah anak-anak yang sibuk mencari ikan atau kerang yang di antara karang. Kapal berukuran besar hingga sampan kecil yang lalu-lalang semakin memperkaya pemandangan.

”Hei! Udah dulu bengongnya. Sekarang ayo kita mulai penelitiannya! Kau hitung wisatawan asing, saya hitung pengunjung lokal. Nanti ketemu lagi di sini jam setengah lima ya!” kata Alex sambil berlari ke menjauhiku. Aku pun ikut berlari, namun ke arah yang berlawanan dengannya.

~~

Tak terasa sudah satu jam aku mengelilingi pantai ini. Pukul 16.20 WIT. Saatnya aku kembali ke Tembok Berlin untuk menggabungkan hasil pengamatanku dengan hasil milik Alex. Dari kejauhan, kulihat Alex sedang duduk di atas Tembok Berlin. Kupercepat langkahku yang sedari tadi sengaja kuperlambat.

”Hei, Alex! Sudah lama?” sapaku bersemangat. Semilir angin sore rupanya telah memompa semangatku.

”Baru sampai. Gimana pengamatannya? Lancar?”

”Lancar dong! Ternyata, banyak juga wisatawan asing yang datang kemari! Banyak dari mereka yang memuji keindahan alami pantai ini. Namun, mereka juga berharap agar kebersihan pantai lebih dijaga. Masih banyak sampah berserakan, kata mereka. Sayang, pantai seindah ini tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah.,” jawabku jujur.

“Ya, memang begitu keadaannya sedari dulu. Yang diperhatikan hanya pulau Jawa dan Bali. Padahal kan Indonesia lebih kaya dari itu. Sudahlah, tak perlu kitorang bahas sekarang. Nanti saja kalau kitorang sudah jadi orang besar yang punya kuasa. Lebih baik sekarang kitorang bahas hasil penelitian ini. Bahas sambil makan di warung sana, bagaimana?” ajaknya yang langsung ku sambut dengan anggukan mantap.

~~

Delapan puluh lima. Nilai tertinggi di kelas. Itulah nilai yang diberikan Pak Dodi kepadaku dan Alex. Tak henti-hentinya aku berseri sepanjang hari bila mengingat nilai kerja kelompok pertama kami itu. Kelompok yang awalnya ku benci setegah mati. Bel istirahat berdenting nyaring. Seperti biasa, aku mengeluarkan bekal yang telah disiapkan oleh ayah tadi pagi. Nasi dengan lauk ikan goreng yang menggugah selera.

“Hei Ajeng! Makan nasi dan ikan goreng juga ya? Sama dong! Sepertinya kita memang berjodoh ya? Seperti yang di lagunya Anang-Arshanty itu loh.. Hahaha..,” ujar sebuah suara seraya menepuk pundak kiriku. Siapa sih yang mengaku-aku berjodoh denganku? Kutolehkan kepala ke arah sumber suara, yang kuduga adalah anak lelaki jahil yang duduk di deretan bangku belakang. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui si empunya suara tak lain dan tak bukan adalah Gunardi!

”Eh, Gunardi! Tumben makan di kelas. Bukannya kamu biasanya makan di kantin?” kucoba untuk menyapanya sesopan mungkin walau sudut hatiku mencurigainya. Tak biasanya Gunardi seperti ini, ia seperti orang baru yang tak kukenal. Atau memang aku tak pernah benar-benar mengenalnya?

”Masa gak boleh sih aku makan bareng Ajeng yang cantik mempesona ini? Ijinkan aku duduk mendampingimu makan ya, permaisuriku,” ujarnya seraya duduk di kursi Alex yang sedang kosong. Gunardi sedang kerasukan setan apa sih? Kok jadi aneh gini? Refleks aku menggeser kursiku menjauhinya. Seketika itu juga nasi dengan lauk ikan gorengku tampak menjijikan.

”Maaf, aku ke toilet dulu ya!”

Dengan kilat aku berlari menuju toilet. Ke toilet sebenarnya hanyalah alibi untuk menghindariku duduk lebih lama di samping Gunardi. Aku bisa memuntahkan seisi perutku jika mendengar gombalannya sekali lagi. Untung toilet sedang kosong, langsung saja aku mengunci diri dalam bilik pertama yang kulihat. Selang beberapa menit kemudian, kudengar langkah kaki segerombolan anak yang sedang berjalan mendekat. Ah, paling gerombolan anak perempuan yang ingin merapikan penampilannya. Tapi, kok suaranya berat ya? Kuintip keadaan di luar lewat celah di bawah pintu. Terlihat berpasang-pasang sepatu anak lelaki. Kok mereka masuk toilet perempuan? Atau jangan-jangan, aku yang salah masuk toilet! Kuperhatikan keadaan di sekelilingku. Tampak bilik yang kotor dan penuh coretan yang seingatku tak ada di bilik toilet perempuan. Benar saja, aku salah masuk toilet!!

”Gimana tadi, berhasil gak PDKT-nya?”

Uh, ternyata seperti ini perbincangan anak lelaki ketika berada di toilet. Tak berbeda jauh dengan pembicaraan anak perempuan rupanya. Hanya seputar PDKT, pacaran, dan putus.

”Berhasil apanya?! Saranmu malah membuat aku tambah jauh darinya! Buktinya dia sekarang dia kabur ke toilet dan gak balik-balik,” balas sebuah suara yang terdengar familiar di telingaku. Suara siapa ya? Hmm, coba ku ingat-ingat. Suara Alex sepertinya bukan, suara Alex lebih nyaring dan lebih berlogat. Jangan-jangan ini suara Gunardi! Jadi dia sedang melancarkan aksi PDKT terhadapku? Aduh, jawaban apa yang akan kuberi jika nanti ia menyatakan perasaannya kepadaku ya? Anganku menerawang jauh. Andai saja ia tak meggodaku seperti tadi dan bersikap biasa, pasti akan lebih mudah bagiku untuk memberikan jawaban. Namun, bagaimana nasib Alex? Hei! Mengapa aku memikirkan Alex? Aku kan tidak ada hubungan apa-apa dengannya!

”Kau saja kali yang kurang berkharisma, tak sepertiku,” sahut suara lain disusul cemoohan dari anak lelaki lainnya.

”Lihat saja nanti, dalam satu minggu Ajeng pasti akan jadi milikku!” ujar Gunardi dengan penuh percaya diri. Ah, Gunardi. Mengapa kau bisa seyakin itu? Aku saja belum yakin akan perasaanku kepadamu saat ini.

”Bah, banyak omong kau! Ingat ya, kalau dalam seminggu kau tak berhasil memacari Ajeng, sepatu bola itu menjadi milikku!”

DEG! Jantungku rasanya menolak untuk berdetak lagi. Ribuan paku imajiner menancap di hatiku. Teganya Gunardi menjadikanku bahan taruhan! Arrrggghhh!! Dadaku mulai terasa sesak. Aku merasakan mataku memanas. Runtuh sudah pertahananku, air mata yang sudah tak terbendung ini akhirnya meleleh menuruni pipiku.  Walau begitu, aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menimbulkan suara.

Akhirnya gerombolan itu keluar juga. Setelah memastikan keadaan di luar benar-benar kosong, dengan perlahan aku melangkah keluar dari bilik toilet. Kutatap bayanganku di cermin. Kusut. Berbekal tisu yang ada di sakuku, kucoba untuk mengenyahkan guratan kesedihan dari wajahku. Gagal, tentu saja. Mata sembapku tak bisa berbohong. Kuputuskan untuk menghabiskan sisa jam pelajaran di UKS.

~~

Tak terasa sudah satu bulan peristiwa itu berlalu. Kini kusambut bulan Desember dengan sedikit lebih ceria. Gunardi sudah kubuang jauh-jauh dari pikiranku. Enak saja menjadikanku bahan taruhan! Gunardi sudah mengakuinya dan meminta maaf, yang kumaafkan walau masih ada sepercik rasa kesal.

Hari ini tanggal 31 Desmber. Kau tahu kan, malam tahun baru? Aku mengajak ayah mengunjungi Pantai September.

”Jeng, dari mana kau tahu ada Pantai? Memangnya kamu sempat ke Pantai?” Ayah bertanya dengan heran.

”Iya dong, aku kan gaul hehe. Waktu itu ada tugas buat penelitian, aku meneliti pantai ini deh. Bagus ya?”

”Iya. Eh, kita duduk di sana yuk! Di sebelah keluarga teman bapak, keluarga Pak Hasan!”

Aku dan Ayah menghampiri keluarga Pak Hasan yang sedang asyik berpiknik malam-malam di bawah pohon kelapa dekat Tembok Berlin. Kamipun ikut duduk di atas tikar kotak-kotak berwarna merah campur hitam itu. Pak Hasan inilah yang mengantar kami ke kontrakan saat aku dan ayah pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Bersama istri dan anak terkecilnya yang baru berusia dua tahun, kami berbincang-bincang ringan. Baru kuketahui Pak Hasan yang asli orang Papua memiliki seorang anak lelaki yang seumuran denganku.

”Loh, masa korang tak pernah ketemu? Kalian kan satu sekolah! Satu kelas lagi!” ujar Pak Hasan keheranan saat kutanyakan siapa anaknya.

”Bagaimana bapak tahu kami satu sekolah dan satu kelas?”

”Anakku yang bilang! Katanya ada temannya pindahan dari Yogya, sekelas dengannya. Itu pasti kau kan?”

Aku jadi penasaran, siapa sih anak Pak Hasan ini? Yang sekelas denganku, asli Papua, dan seorang laki-laki. Jangan-jangan...

”Nah, itu dia! Nak, sini korang!”

Dari kejauhan kulihat siluet seorang pemuda, rambutnya hitam pendek dan lebih tinggi dariku. Wajahnya unik dan menarik, tak pernah kuhiraukan sebelumnya.

”Alex? Jadi kau anaknya Pak Hasan?”

”I..Iya. Ternyata orang tua kitorang saling kenal ya?” jawab Alex kikuk. Kulihat dari sudut mata Pak Hasan mengedipkan sebelah mata pada Alex. Apa maksudnya ini?

”Eh bu, dek, kita beli es buah dulu ya di sana! Buat cemilan sambil melihat kembang api sebentar lagi. Pak Dirman mau ikut?” ajak Pak Hasan sambil beranjak.

”Pak, aku juga mau ikut!” pinta Alex.

”Tak perlu, nanti kitorang belikan. Korang di sini saja, ya, Alex dan Ajeng. Nanti tempat ini diambil orang.”

Mereka berempatpun melenggang pergi, meninggalkan aku dan Alex berdua saja. Aku mencium sesuatu yang mencurigakan, sepertinya mereka sudah sekongkol!

”Ngg Ajeng?”

”Iya? Aneh banget ya mereka semua tiba-tiba pergi. Padahal kan sebentar lagi pesta kembang apinya sudah mau dimulai.” ucapku sambul melirik jam tangan yang melingkari tangan kananku. Jam tangan yang menyebabkan pertemuanku dengan Alex. Jarum pendeknya menunjukkan angka dua belas, sedangkan jarum panjangnya menunjuk angka sebelas.

”Ajeng, kamu masih marah dengan Gunardi?”
”Sudah tidak, ku sudah memaafkannya. Walau masih ada rasa kesal dan bingung, mengapa ada orang yang setega itu mempermainkan perasaanku,” tak terasa air mata itu jatuh lagi. Terkenang peristiwa itu membuatku sedih.

”Hei! Jangan menangis seperti ini! Bisa-bisa aku yang ditimpuki lantaran dikira buat kau menangis! Ayo, ikut!”

Genggaman Alex yang mantap menyejukanku. Entah mengapa aku mau saja digiringnya menuju satu sudut pantai yang cukup sepi. Kami duduk bersisian di atas Tembok Berlin. Sejenak sepi menyelimti hingga aku angkat suara.

”Mungkin aku memang tak pantas untuknya.”

”Ajeng! Dia yang tak pantas untukmu! Jangan sekali-kali kau berpikiran seperti itu! Tenang Ajeng, masih ada lelaki yang benar-benar menaruh kasih kepadamu. Seperti..” Alex tercekat.

”Seperti apa?”

”Seperti aku.”

Ledakkan kembang api memecah penuh warna, menelan kegelapan yang sedari tadi menguasai langit malam. Seiring dengan suasana hatiku. Hatiku yang dulu kelam, sunyi, sepi, kini mendadak dipenuhi warna-warni. Hangat.

”Ini penembakkan nih?” tanyaku ragu-ragu. Aku tidak pernah ditembak sebelumnya, jadi aku tidak tahu seperti apa rasanya. Kini, penembakkan pertamaku malah terjadi di tepi pantai yang sangat indah dan romantis, di tengah perayaan tahun baru, lagi! Kembang api yang membuncah menambah keromantisan suasana, seakan-akan alam sudah mengaturnya untuk kami.

”Bukan, ini baru penembakkan.”

Tiba-tiba Alex melompat turun, lalu berlutut di depanku. Sejurus kemudian, tangan kananku sudah berada dalam genggamannya.

”Ajeng, maukah kau menjadi hadiah terindah bagiku di tahun baru ini?”

Aku melompat turun, melepaskan genggamannya. Kulihat ada binar kecewa di mata Alex, membuatku tersenyum kecil.

”Aku akan bilang ya kalau... kamu berhasil menangkapku!”


Aku berlari menembus angin darat yang tengah menyapa laut. Dingin. Namun hatiku tetap hangat. Karena kutahu, Alex ada tepat di belakangku. Lebih tepatnya lagi, Alex sudah berhasil mengambil tempat di hatiku.

Kamis, 26 Desember 2013

Kartu ucapan E Cards Selamat Natal: Merry Christmas!

Halo!! Selamat Natal bagi yang merayakan! Juga selamat liburan! Oh ya, selamat seminggu sebelum tahun baru juga ya!! Ini e-cards fresh from the oven, by me! Oh ya, opui itu mahkluk kuning yang ada di pojok kanan bawah (bukan kiri loh). Dia maskot resmi depimomo, hak paten, dilindungi undang-undang deh (ada undang dibalik bakwan #eh)




Perasaan pernah liat? Iya, emang kalian pernah liat kok di sini:
Napak Tilas Maskot Resmi Depimomo
Ketika Maskot Hidup

Tapi dulu dia belom bernama. Sekarang, dia udah punya nama loh!! Namanya opui.

Kenapa opui? awalnya, waktu itu lagi pulang sekolah dan hari itu saya membawa tas jinjing bekal. Di tas itu tertulis 'indonesia'

seperti ini:


Nah tas itu kan dijinjing-jinjing, jadi kalo dibawa keliatannya terbalik. Sekarang coba balik layar laptop, hp, komputer, atau apapun gadget Anda sambil melihat gambar itu!!! Relize something??

ini kalau kalian gagal membalik:


see? indo dibalik jadi opui, opui dibalik jadi indo. Jadi, selain melambangkan depimomo yang bulat suka warna kuning dan balon, maskot ini juga menunjukkan kecintaan depimomo atas tanah airnya, Indonesia! Wow, dalem kan?

Jangan khawatir, ini ada kartu ucapan atau e-card untuk kalian! Tinggal isi nama kalian di kolom yang kosong (pakai apapun, paint, corel, photoshop, power point, word, dst, dsb, dll). Oh ya kartu ucapan atau e card ini free alias gratis! Nomor perkenalan lah hihi. Tinggal klik kanan lalu save picture as aja deh..


Happy holiday! Merry Christmas and Happy New Year!

Senin, 02 Desember 2013

Melodi dalam Harmoni Abadi | Cerpen

Melodi dalam Harmoni Abadi | Cerpen

Masih ingat dengan Trio ACI, Amir, Cici, Ito yang dulu ditayangkan di TVRI? Kangen dengan serial Aku Cinta Indonesia? Jangan khawatir, ACI akan kembali mewarnai ranah perfilman tanah air! Kini, A itu Andi, C itu Cahaya, I itu Ian. Ceritanya gak kalah seru!!

Sudah gak sabar? Baca aja dulu cerpen remaja paling cinta Indonesia di sini: http://kaudanaci.com/Cerpen/melodi-dalam-harmoni-abadi.html ada lagunya juga loh! Penasaran? Buka aja: http://kaudanaci.com/Cerpen/melodi-dalam-harmoni-abadi.html ~ klik tombol bintangnya juga ya ;)


Kamis, 28 November 2013

Peraturan Dibuat Untuk Dilanggar

"Peraturan dapat dilanggar, asal dilakukan pada saat yang tepat"



Baru-baru ini saya menonton sebuah film untuk kedua kalinya di Celestial Movie. Kali pertama menonton, saya sudah tertarik dan berniat untuk mengulasnya. Namun karena berbagai kendala, seperti tugas dan errornya koneksi komputer saya ke wifi, keinginan ini terpaksa saya tahan. Ternyata, baru saja film itu diputar kembali! Film apakah itu?

Just Follow Law adalah sebuah film komedi satir bermuatan kritik sosial tentang ruwetnya birokrasi, termasuk di negara yang katanya birokrasinya paling efisien yaitu Singapore. Dibintangi Fann Wong dan Gurmit Singh, film kesepuluh Jack Neo ini berhasil membuat saya 'menertawai diri sendiri'. Berikut RINGKASANNYA (bukan sinopsis loh, jadi jangan protes jika spoiler hihi)



Dimulai dengan plot yang kedengarannya klise, Tanya Cheng (Fann Wong), direktur WAS yang hidup serba teratur, selalu mengikuti peraturan, dan tidak pernah membuat masalah, tiba-tiba saja harus menerima bahwa dirinya bertukar jiwa dengan Lim Teng Zui (Gurmit Singh), seorang teknisi urakan tak terpelajar, setelah mengalami tabrakan mobil. 



Dari sana, cerita berkembang menyorot Teng Zui yang menikmati hidup barunya sebagai direktur. Tanpa berpikir, semua uang perusahaan dihamburkannya, terutama untuk putrinya yang kini tidak mengenalinya lagi. Selain itu, untuk membalas dendam akan perlakuan yang pernah ia dapatkan, kini Teng Zui dengan mudahnya memberikan persetujuan, apa saja kepada siapa saja, tanpa birokrasi yang rumit.



Sementara itu, Tanya mulai mengembangkan potensinya dengan mengikuti kursus-kursus dengan ulet. Dari kacamata Teng Zui, ia dapat bertemu dan memahami ibunya lebih mendalam, tak seperti dulu ia selalu mengabaikan perhatian ibunya karena terlampau sibuk. Ketika menjadi Teng Zui, ia baru mengetahui bahwa ibunya tidak menggunakan uang yang ia berikan (hanya ditabung) dan ia bekerja mengumpulkan kaleng-kaleng bekas setiap harinya. Selain itu, kepolosan putri Teng Zui yang begitu menyayangi ayahnya juga menyentil dirinya yang kerap kali mengabaikan perhatian dari ibunya.


Cerita memuncak ketika WAS terancam tutup akibat ulah Teng Zui. Belum lagi ada komplotan dalam perusahaan tersebut yang memang mengamini tutupnya perusahaan tersebut. Mereka bertiga (komplotan tersebut) berusaha memboikot agar program job fair yang akan diadakan perusahaan tersebut gagal. 



Teng Zui dan Tanya bahu membahu mencari ide untuk menyelenggarakan job fair yang meriah. Merekapun memutuskan untuk memasang poster dan baliho di sepanjang pilar kereta api. Untuk mendapatkan izin, pertama-tama mereka menemui badan pemilik dan pengurus kereta api. Namun, mereka ditolak dengan alasan yang ingin dipergunakan adalah pilarnya, bukan kereta api, sehingga mereka harus menemui badan pemilik dan pendiri pilar tersebut. Ketika mengikuti petunjuk yang dimaksud, mereka dialihkan kepada pemilik tanah, yang ternyata juga melempar tanggung jawab kepada badan penanggung jawab bangunan. Sesampai di sana, ternyata mereka di arahkan kembali kepada badan pemilik dan pengurus kereta api!

Merasa dipermainkan, Teng Zui dalam wujud Tanya akhirnya memutuskan untuk melanggar aturan, seperti yang selama ini biasa ia lakukan. Diadakannya promosi besar-besaran dengan menyewa beberapa penari, yang tentunya mendatangkan komplain dari berbagai pihak. Ketika Teng Zui hendak meminta maaf kepada publik, CEO WAS dan kolega-koleganya terkejut.

"Kami tidak pernah meminta maaf kepada publik (karena kami tidak pernah salah). Masyarakat Singapore itu pelupa, biarkan saja dan jangan jawab apapun pertanyaan dari wartawan"



Menjelang job fair, kekacauan kembali menimpa akibat ulah komplotan penentang. Penari-penari dibatalkan dan latar dihancurkan. Untungnya, Teng Zui tak kehabisan akal, tak ada paku, latar pun diperbaiki dengan lakban, seperti kebiasaan buruknya dahulu ketika kehabisan paku. Hal ini pernah membuat walikota terjatuh akibat kurang kokohnya latar, namun kini tak ada pilihan lain. Ternyata, penggunaan lakban malah menyelamatkan banyak jiwa, termasuk jiwa walikota itu sendiri. Terjadi kebakaran dan berkat latar yang bisa dirobohkan tersebut, semua orang bisa keluar dengan selamat. Teng Zui pun diberi penghargaan sebagai inovator yang berani mendobrak aturan.



Cerita berakhir dengan menikahnya Tanya dan Teng Zui. Dengan demikian, Teng Zui bisa kembali dekat dengan anaknya, sedangkan Tanya bisa berbakti pada ibunya. 

Dalam film, terasa kritik sosial yang kental. Seperti ketika Tanya dalam tubuh Teng Zui yang hendak melihat daftar riwayat hidup Teng Zui. Ia harus melengkapi formulir, menyertakan fotokopi, dan menunggu selama setidaknya tiga hari hanya untuk melihat datanya sendiri! Juga ketika petugas parkir yang mengklem roda mobil pemadam kebakaran karena parkir di tempat khusus VIP. Lalu juga ada adegan dimana para pegawai enggan diajak berkerjasama untuk memutuskan suatu hal. Menurut mereka, atasanlah yang memutuskan segalanya, mereka tinggal menjalankan, sesuai peraturan yang ada.

Komedi ringan juga turut diselipkan, terutama seputar adaptasi Teng Lui dan Tanya di tubuh barunya. Sayang, sindiran yang ditampilkan kepada pemerintah terksean diulang-ulang dan terlalu diekspos. Juga bagian kebakaran yang benar-benar terlihat editannya. Materi dewasa yang ditampilkan kadang sedikit mengganggu, ketika Teng Zui dalam wujud Tanya pergi ke pantai dan permandian air hangat untuk melihat wanita berbikini dan beberapa adegan lain seputar transisi Teng Zui menjadi Tanya.

Menurut saya, film ini dapat menangkap dengan jelas keseharian yang biasa ditemui, dan kita diundang untuk menertawakannya bersama, sembari introspeksi diri. 

Sabtu, 12 Oktober 2013

10 Wastafel Unik Aneh Menarik plus Bonus!

Gara-gara tadi abis berurusan sama wastafel rumah yang mampet, jadi kepikiran deh buat bikin artikel kumpulan foto wastafel yang unik dan aneh tapi menarik ini. Cekidot!

1.
Wih, keren nih! Memanfaatkan ban bekas!!

2.
Yang ini sambil menyelam minum sirup, sambil cuci tangan bisa liatin ikan.

3. 
Eh, eh, eh! Airnya luber tuh!

4. 
Duh, kasian banget ikannya. Jadi males cuci tangan nih. *eh?

5. 
Putar, putar, putar, putar. Dalam putaran kelima Anda akan tidur!

6. 
Hmmm, ini... *tidak bisa berkata-kata*

7. 
Pinjam sinar pengecil Doraemon dan main seluncur air seru!

8. 
Ketika tangan yang masuk tidak pernah keluar...

9. 
Selamat datang di dunia peri bunga!

10. 
Ngaku suka bola? Punya ini dong!



BONUS

Mau cuci tangan? Ayo salam dulu!

Tempat paperclip unik bentuk wastafel!

Ngisi air ke ember gak pake ribet!

Waduh! Ikan dari mana ini bikin mampet wastafel?

Sekian dulu artikel 10 wastafel paling unik aneh tapi menarik di dunia ini. Tertarik untuk memasangnya di rumah? Atau punya ide kreatif lainnya?

Senin, 05 Agustus 2013

Template Baru ^_^

Masih ingat posting ke-100 berjudul 100 fakta tentang depimomo? Nah, ada poin yang berhubungan dengan template kan? Lupa? Yang ini loh:


40. Note: depimomo ganti template dua kali 
41. Kenapa gak banyak-banyak? 
42. Karena males edit HTML nya 
43. Ya, tiap ganti template pasti widgetnya berantakan 
44. Karena itu mesti edit di HTML nya 
45. Template pertama: default dari blogger, warnanya hijau yg tua renta 
46. Template kedua: default dari blogger dengan sedikit custom. Picture window dengan background yg tersedia di blogger dan bisa dipilih sendiri.  
47. Background: kertas notebook putih bergaris dengan gambar-gambar dan coret-coretan matematika ala anak tk yang menurut saya kool 
48. Template ketiga: yang kalian lihat saat ini 
49. Empunya blog tidak berniat ganti template lagi (kecuali blogger memasksa (dinamis, u know) atau nemu template unyu lainnya yang nempel dihati atau udah bisa bikin template sendiri)

Nah, ternyata, poin ke 49 telah terlaksana dengan tempo yang selambat-lambatnya (apa coba). Jadi, depimomo resmi ganti template lagi untuk ke-tiga kalinya! *plok plok plok plok plok plok plok (dilempar balok)* Yang terwujud ternyata yang ketiga, udah bisa bikin template sendiri o3o

Walau masih awut-awutan, yang penting orisinal! *ngotot* Dari background, header, footer, icon, semuanya orisinal! @_@ Bikinnya, semua perangkat digabung. Mulai dari sotosop photoshop *eaa*, sampai paint *gubrak*. Tutorialnya dapet dari mbak Dani di blogdesignsbydani.com (desember udah jadi blogspot lagi dia, mbaknya udah quit blogging :< )

Nih buat yang penasaran sama yang lama:




Sekarang, ga bisa kembaran lagi deh \(^_^)/

Nah, enjoy our new look!


Jumat, 19 Juli 2013

Kristik, Seni Melukis dengan Benang

Kristik. Mungkin kata ini terdengar asing di telinga teman-teman. Ya, kristik atau yang dapat juga disebut sebagai kruistik saat ini memang tengah tenggelam di tengah hiruk pikuknya dunia. Kristik (dalam bahasa inggris: cross stitch) merupakan seni melukis di atas sehelai kain dengan menggunakan benang wol sebagai 'cat' nya. Kedengarannya unik, bukan?

Kain yang digunakan untuk mengkristik merupakan kain khusus yang bernama kain aida. Selain kain aida, kain strimin dan kain linen juga dapat dijadikan untuk mengkristik. Kain-kain tersebut memiliki lubang yang membentuk kotak-kotak. Dengan adanya lubang-lubang ini, benang wol menjadi lebih mudah masuk dan kotak-kotak tersebut dapat dihitung sehingga hasil kristik lebih rapi dan sesuai pola.



Saya sendiri baru mengenal kristik sekitar tiga tahun yang lalu. Kala itu, saya tengah membongkar gudang untuk mencari koran lama demi kepentingan tugas sekolah. Tiba-tiba, ada secarik kain berwarna biru laut yang menyembul dari sebuah kantung plastik. Setelah diamati, ternyata kain tersebut sudah 'dilukis' separuhnya dengan kristik. Ternyata, kristik tersebut merupakan buatan mama saya. Lukisan bayi tidur berambut kecoklatan tersebut sungguh menarik minat saya. 



Silang, silang, silang, begitu terus menerus. Lukisan kristik dibuat dengan cara menyilang benang wol berwarna sesuai dengan kotak-kotak yang ada di pola. Dengan penuh semangat saya melanjutkan nafas kristik tersebut hingga akhirnya selesai. Namun, karena masih pemula dan belum memahami sepenuhnya tentang kristik, hasil kristik yang saya lanjutkan kurang memuaskan karena benang wolnya terlalu tertarik.


Pengalaman mengkristik untuk pertama kalinya membuat saya ketagihan. Namun, tidak tersedianya alat dan bahan membuat saya terpaksa mengurungkan niat saya. Eh tak disangka, saya bertemu lagi dengan kit lukisan kain ini di sebuah toko. Saya membelinya untuk sekadar mengisi waktu luang dikala liburan sekolah. Ini dia hasilnya:

 setengah jadi

yang cewe lucu!

 dibingkai (tapi lecek :p)

 dengan angle

finish!
 

Celoteh si Devi Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates