Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Maret 2014

WaTaMi dengan Jurus WaTuTi!

Peduli lingkungan? Ah, itu kan cuma tugasnya para relawan dan pencinta lingkungan aja! Kita sebagai blogger bisa apa sih lagian? Aksi kecil kita kan juga gak berpengaruh apa-apa buat lingkungan.

Hihihi, jangan pesimis dulu dong. Kita semua sebagai makhluk yang nangkring di bumi mau nggak mau harus ikut ambil bagian dalam merawat bumi. Bumi ibarat rumah kita. Andaikan teman-teman diberi sebuah rumah megah yang terletak di bilangan yang strategis, bagaimana perasaan teman-teman? Wuih, senang bukan kepalang pasti. Apalagi ternyata rumah itu lengkap dengan kolam renang, taman pribadi, AC yang sejuk, juga suasana yang damai. Kalau teman-teman perhatikan, bumi dapat diibaratkan sebagai rumah mewah tadi loh. Bayangkan, dari delapan planet yang ada di tata surya, hanya bumi yang punya suhu bersahabat, gak ada meteor yang jatuh seenak jidat, oksigen yang cukup, air yang melimpah (70% bagiannya!) juga aneka tanaman dan hewan yang telah disediakan sebagai partner hidup bahan makanan. Bayangkan kalau teman-teman lahir di Venus, planet terpanas di tata surya! Lahir-lahir jadi arang kali ya? Atau di Neptunus, planet yang paling berangin. Bukannya main layang-layang, kita malah jadi layang-layang!

Bumi by depimomo, Dokumentasi pribadi

Nah, maka dari itu kita harus bersyukur sudah diberi kesempatan untuk hidup di planet yang hijau ini. Apa? Sudah nggak hijau? Jangan patah arang dulu, arang saja masih berharap pada api yang mengubahnya menjadi debu. Sebagai WaTaMi (Relawan Pencinta Bumi) jangan kehabisan dulu untuk menyelamatkan lingkungan. 

Tapi, nggak ada waktu nih untuk menyelamatkan lingkungan! Harus sekolah, les, kerja, makan, tidur, main, make up, update status, pacaran, juga blogging!

Sstt, depimomo mau buka-bukaan rahasia nih buat kalian! Tips dan trik jitu untuk selalu ingat lingkungan dan menyelamatkan lingkungan! Namanya jurus WaTuTi alias Wan Tu Tri (bahasa alien: satu dua tiga). Cukup tiga langkah mudah yang bisa teman-teman terapkan setiap hari!


1. Masbro dan Mbaksis, nggak usah....

....liat-liatin saya gitu karena saya kiyut dan keceh abis *ngawur.com

Apa yang bisa dilakukan dengan mantra ini? Dengan mantra ini, kita bisa menyelamatkan lingkungan!

Hah? Gimana ceritanya?

Ceritanya gini, pada suatu hari...

by depimomo, dokumentasi pribadi

Lihat, dalam satu hari saja satu kantong plastik, satu styrofoam, dan satu plastik minuman sudah bisa dikurangi. Itu baru satu orang, bagaimana kalau sepuluh, seratus, atau seluruh penduduk Indonesia? Belum lagi kalau tidak hanya sehari tapi seminggu, sebulan, atau setahun! Tambahannya, makin banyak orang yang ikut tergerak untuk menyelamatkan lingkungan! Saya sendiri kerap kali menerapkan hal ini. Membawa bekal dan botol minuman yang dapat diisi ulang. Plastik juga dihindari, misalnya hanya membeli satu-dua barang atau membawa tas sendiri, jadi tidak perlu kantong plastik.

2. Pegang aja dulu!

Wah, pegang apa ini? Ya pegang sampah kita terlebih dulu lah, sebelum menemukan tong sampah! Dari SD, guru saya sudah menekankan hal ini, bahkan ada lagunya juga agar dapat selalu diingat. Ini dia lagunya, dinyanyikan dengan nada 'Naik-naik ke puncak gunung'!

Mari kawan kita jaga kebersihan lingkungan
agar tercipta keindahan juga kesehatan

maka jangan lupa kawan buang sampah pada tempatnya
kantongi dulu sampah milikmu
sebelum temukan TONG SAMPAH! 

(tong sampahnya memang agak ditekan saat dinyanyikan jadi gitu deh, hehe)

Gara-gara lagu ini, saya jadi sering ngantongin sampah kalau belum ketemu tong sampah, entah itu bungkus permen, botol air mineral, atau kantong ciki. Kadang sampai diperhatikan orang, apalagi waktu di bis. Orang di sebelah saya sepertinya agak risih dengan gelas plastik bekas minuman yang saya pegang dari tadi.

"Dek, sini ibu buangin deh gelasnya ke luar! (sambil menunjuk jendela di sebelahnya)"

"Nggak deh bu, makasih, saya nanti abis turun ketemu tong sampah deket kantor polisi situ kok, hehe"

"Loh, repot-repot amat sih dek? Biasa juga orang buang ke luar jendela"

"Iya sih, tapi saya ingin melakukan perubahan kecil aja, siapa tahu berdampak besar"

Setelah itu ibu itu diam dan tidak mengajak bicara lagi, tapi selama kita yakin apa yang kita lakukan benar, tidak perlu takut anggapan orang kok! When it doesn't feel right, go left.

3. Be creative!

Daur ulang mungkin kata yang terdengar basi. Tapi kalau dilakukan dengan kreatif, hal yang dianggap sampah pasti bisa berdaya guna, bahkan bernilai jual!

Saya sendiri berusaha menyulap tumpukan kertas-kertas bekas kuesioner (untuk tugas sekolah dulu) yang bagian belakangnya masih kosong sebagai buku notes untuk ringkasan pelajaran.

BuSu (Buku Siap Ulangan) by depimomo, dokumentasi pribadi

Bisa juga majalah yang menumpuk disulap menjadi kusudama, mempercantik rumah loh! Atau jadi origami bintang, pembatas buku, juga kerajinan tangan lainnya.


Teman-teman juga bisa menjadi supporter WWF, fundraiser WWF, mengundang Panda Mobile ke sekolah/kampus/kantor/lingkungan rumah teman-teman, dan ramah pada lingkungan.

Jadi, tunggu apa lagi? WaTaMi siap selamatkan lingkungan dengan jurus WaTuTi! Ciaaattt!

Psst, kawan blogger tergerak untuk mengajak teman-teman lain peduli lingkungan? Ikutan dong Lomba Blog Blogger Peduli Lingkungan!

Kamis, 28 November 2013

Peraturan Dibuat Untuk Dilanggar

"Peraturan dapat dilanggar, asal dilakukan pada saat yang tepat"



Baru-baru ini saya menonton sebuah film untuk kedua kalinya di Celestial Movie. Kali pertama menonton, saya sudah tertarik dan berniat untuk mengulasnya. Namun karena berbagai kendala, seperti tugas dan errornya koneksi komputer saya ke wifi, keinginan ini terpaksa saya tahan. Ternyata, baru saja film itu diputar kembali! Film apakah itu?

Just Follow Law adalah sebuah film komedi satir bermuatan kritik sosial tentang ruwetnya birokrasi, termasuk di negara yang katanya birokrasinya paling efisien yaitu Singapore. Dibintangi Fann Wong dan Gurmit Singh, film kesepuluh Jack Neo ini berhasil membuat saya 'menertawai diri sendiri'. Berikut RINGKASANNYA (bukan sinopsis loh, jadi jangan protes jika spoiler hihi)



Dimulai dengan plot yang kedengarannya klise, Tanya Cheng (Fann Wong), direktur WAS yang hidup serba teratur, selalu mengikuti peraturan, dan tidak pernah membuat masalah, tiba-tiba saja harus menerima bahwa dirinya bertukar jiwa dengan Lim Teng Zui (Gurmit Singh), seorang teknisi urakan tak terpelajar, setelah mengalami tabrakan mobil. 



Dari sana, cerita berkembang menyorot Teng Zui yang menikmati hidup barunya sebagai direktur. Tanpa berpikir, semua uang perusahaan dihamburkannya, terutama untuk putrinya yang kini tidak mengenalinya lagi. Selain itu, untuk membalas dendam akan perlakuan yang pernah ia dapatkan, kini Teng Zui dengan mudahnya memberikan persetujuan, apa saja kepada siapa saja, tanpa birokrasi yang rumit.



Sementara itu, Tanya mulai mengembangkan potensinya dengan mengikuti kursus-kursus dengan ulet. Dari kacamata Teng Zui, ia dapat bertemu dan memahami ibunya lebih mendalam, tak seperti dulu ia selalu mengabaikan perhatian ibunya karena terlampau sibuk. Ketika menjadi Teng Zui, ia baru mengetahui bahwa ibunya tidak menggunakan uang yang ia berikan (hanya ditabung) dan ia bekerja mengumpulkan kaleng-kaleng bekas setiap harinya. Selain itu, kepolosan putri Teng Zui yang begitu menyayangi ayahnya juga menyentil dirinya yang kerap kali mengabaikan perhatian dari ibunya.


Cerita memuncak ketika WAS terancam tutup akibat ulah Teng Zui. Belum lagi ada komplotan dalam perusahaan tersebut yang memang mengamini tutupnya perusahaan tersebut. Mereka bertiga (komplotan tersebut) berusaha memboikot agar program job fair yang akan diadakan perusahaan tersebut gagal. 



Teng Zui dan Tanya bahu membahu mencari ide untuk menyelenggarakan job fair yang meriah. Merekapun memutuskan untuk memasang poster dan baliho di sepanjang pilar kereta api. Untuk mendapatkan izin, pertama-tama mereka menemui badan pemilik dan pengurus kereta api. Namun, mereka ditolak dengan alasan yang ingin dipergunakan adalah pilarnya, bukan kereta api, sehingga mereka harus menemui badan pemilik dan pendiri pilar tersebut. Ketika mengikuti petunjuk yang dimaksud, mereka dialihkan kepada pemilik tanah, yang ternyata juga melempar tanggung jawab kepada badan penanggung jawab bangunan. Sesampai di sana, ternyata mereka di arahkan kembali kepada badan pemilik dan pengurus kereta api!

Merasa dipermainkan, Teng Zui dalam wujud Tanya akhirnya memutuskan untuk melanggar aturan, seperti yang selama ini biasa ia lakukan. Diadakannya promosi besar-besaran dengan menyewa beberapa penari, yang tentunya mendatangkan komplain dari berbagai pihak. Ketika Teng Zui hendak meminta maaf kepada publik, CEO WAS dan kolega-koleganya terkejut.

"Kami tidak pernah meminta maaf kepada publik (karena kami tidak pernah salah). Masyarakat Singapore itu pelupa, biarkan saja dan jangan jawab apapun pertanyaan dari wartawan"



Menjelang job fair, kekacauan kembali menimpa akibat ulah komplotan penentang. Penari-penari dibatalkan dan latar dihancurkan. Untungnya, Teng Zui tak kehabisan akal, tak ada paku, latar pun diperbaiki dengan lakban, seperti kebiasaan buruknya dahulu ketika kehabisan paku. Hal ini pernah membuat walikota terjatuh akibat kurang kokohnya latar, namun kini tak ada pilihan lain. Ternyata, penggunaan lakban malah menyelamatkan banyak jiwa, termasuk jiwa walikota itu sendiri. Terjadi kebakaran dan berkat latar yang bisa dirobohkan tersebut, semua orang bisa keluar dengan selamat. Teng Zui pun diberi penghargaan sebagai inovator yang berani mendobrak aturan.



Cerita berakhir dengan menikahnya Tanya dan Teng Zui. Dengan demikian, Teng Zui bisa kembali dekat dengan anaknya, sedangkan Tanya bisa berbakti pada ibunya. 

Dalam film, terasa kritik sosial yang kental. Seperti ketika Tanya dalam tubuh Teng Zui yang hendak melihat daftar riwayat hidup Teng Zui. Ia harus melengkapi formulir, menyertakan fotokopi, dan menunggu selama setidaknya tiga hari hanya untuk melihat datanya sendiri! Juga ketika petugas parkir yang mengklem roda mobil pemadam kebakaran karena parkir di tempat khusus VIP. Lalu juga ada adegan dimana para pegawai enggan diajak berkerjasama untuk memutuskan suatu hal. Menurut mereka, atasanlah yang memutuskan segalanya, mereka tinggal menjalankan, sesuai peraturan yang ada.

Komedi ringan juga turut diselipkan, terutama seputar adaptasi Teng Lui dan Tanya di tubuh barunya. Sayang, sindiran yang ditampilkan kepada pemerintah terksean diulang-ulang dan terlalu diekspos. Juga bagian kebakaran yang benar-benar terlihat editannya. Materi dewasa yang ditampilkan kadang sedikit mengganggu, ketika Teng Zui dalam wujud Tanya pergi ke pantai dan permandian air hangat untuk melihat wanita berbikini dan beberapa adegan lain seputar transisi Teng Zui menjadi Tanya.

Menurut saya, film ini dapat menangkap dengan jelas keseharian yang biasa ditemui, dan kita diundang untuk menertawakannya bersama, sembari introspeksi diri. 

Sabtu, 22 Juni 2013

Sekolah Dambaanku

Tulisan berikut diikutsertakan dalam 
'Sekolah Dambaanku Blog Competition'


Setiap orang pasti memiliki angan tersendiri dalam hidupnya. Bisa jadi pacar idaman, rumah impian, atau bahkan sekolah dambaan. Ya, setiap individu yang terlibat di dalam sekolah, baik itu guru, kepala sekolah, pegawai, dan tentunya para siswa, pasti memiliki bayangan tersendiri akan institusi yang satu ini. Tak terkecuali saya yang sudah 11 tahun merasakan pahit-manisnya dunia pendidikan di Indonesia.

Sekolah bagaikan rumah kedua bagi para siswa. Pasalnya, siswa menghabiskan sepertiga harinya (bahkan lebih) untuk bersekolah. Sebagai tempat untuk menuntut ilmu, sekolah memiliki beberapa aspek yang saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Aspek-aspek tersebut antara lain guru, fasilitas sekolah,  lingkungan sekolah, hubungan guru dan orang tua, hubungan antar siswa, mata pelajaran, tugas dan pekerjaan rumah, serta bentuk ujian kelulusan. Seluruh aspek tersebut sama pentingnya dan perlu diperhatikan oleh seluruh warga sekolah agar situasi sekolah yang kondusif-efektif dapat tercapai.

Sekolah dambaan menurut versi saya, merupakan sebuah sekolah di mana aspek-aspeknya saling bersatu padu menjadi koheren dan solid. Berikut uraian empat aspek yang saya tekankan dalam sekolah dambaan saya:



1. GURU

Siswa mana yang tidak kenal dengan "Pahlawan tanpa tanda jasa" yang satu ini? Menurut saya, julukan tersebut tidaklah berlebihan: mayoritas guru di Indonesia memang patut dijuluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa alias kurang dihargai. Banyak guru yang memiliki bakat dan potensi kurang dihargai dan diperhatikan oleh pihak sekolah maupun pemerintah. Gaji rendah, jam kerja yang padat, sulitnya mendapatkan sertifikasi dan kurangnya penghargaan menjadikan guru kurang termotivasi untuk memberikan performa terbaik mereka saat mengajar. Ada yang sering terlambat masuk kelas, hanya memberikan soal-soal latihan tanpa bimbingan yang memadai, hingga (ter)tidur di kelas. 



Profesi guru menjadi momok tersendiri dan baru dilakoni jika cita-cita utama gagal. Berbeda dengan yang terjadi di negara maju, menjadi guru di Indonesia adalah hal yang mudah. Banyak guru yang memiliki gelar non S.Pd, alias mereka pada awalnya jelas-jelas tidak memutuskan untuk menjadi guru. Profesi guru dianggap sebagai 'profesi cadangan'. Tidak ada ekslusifitas dan kualifikasi tersendiri untuk menjadi seorang guru. Padahal, untuk menjadi guru dibutuhkan kemampuan untuk mendidik yang lebih ditekankan bagi mereka yang hendak mendapatkan gelar S.Pd, bukan sekadar pandai dalam hal materi pelajaran. 

Seandainya sekolah dambaan saya menjadi kenyataan, saya menginginkan agar para guru mendapatkan perhatian dan penghargaan khusus dari pihak sekolah maupun pemerintah. Dengan demikian, para guru memiliki mood booster dan lebih terpacu untuk melakukan performa terbaiknya. Selain itu, saya mendambakan guru menjadi sebuah profesi ekslusif dan terpandang yang sejajar dengan dokter, pengacara, bahkan politikus. Mereka yang hendak menjadi guru harus siap dan mampu mengemban tugas untuk mentransfer ilmunya dengan baik kepada murid-muridnya. Akhirnya, proses belajar-mengajar yang ada menjadi lebih efektif dan efisien.




2. FASILITAS DAN LINGKUNGAN SEKOLAH

Fasilitas dan lingkungan sekolah juga ikut andil dalam menciptakan situasi belajar-mengajar yang kondusif. Fasilitas yang terdapat dalam sekolah tidak perlu terlalu berlebihan (kolam renang, pusat kebugaran, dsb), yang terpenting adalah fasilitas tersebut memadai dan mendukung kegiatan belajar mengajar. Menurut saya, fasilitas yang ada di sekolah saya sudah cukup menggambarkan fasilitas yang memadai. Fasilitas yang diperuntukkan bagi siswa antara lain: R. kelas, Toilet, UKS, Perpustakaan, Lapangan, Kantin, Laboratorium (fisika, kimia, biologi, bahasa inggris), R. Komputer, R. Musik, R. Senam, R. Serbaguna, R. OSIS, R. Konseling, R. Doa, R. Audio visual, Auditorium, serta Toko sekolah. Tidak lupa fasilitas penunjang juga disediakan untuk guru dan karyawan yaitu: R. Tata usaha, R. Guru, R. Kepala sekolah, Pantry, Gudang, serta Toilet khusus guru dan karyawan. 


Lingkungan sekolah yang dibutuhkan adalah sebuah lingkungan yang asri, rindang, bersih, dan tenang sehingga dapat meningkatkan konsentrasi siswa dan memacu semangat belajar-mengajar guru dan siswa. Untuk mewujudkannya, butuh tekad dan aksi dari seluruh unsur sekolah. Bukan hanya karyawan dan guru saja, siswa yang notabene jumlahnya paling banyak juga harus turut menjaga kenyamanan lingkungan sekolah. Hendaknya sekolah memberlakukan (benar-benar memberlakukan, tidak hanya ditulis dalam peraturan sekolah saja) sanksi yang menimbulkan efek jera bagi mereka yang mencederai kenyamanan lingkungan sekolah (membuang sampah sembarangan, membuat kegaduhan, dsb) serta memberikan ganjaran yang setimpal bagi siswa yang menjaga lingkungan sekolah sehingga lingkungan sekolah yang kondusif bagi kegiatan belajar mengajar dapat dipertahankan.


3. TUGAS DAN PEKJERJAAN RUMAH

Tugas dan pekerjaan rumah sangat diperlukan bagi para siswa agar dapat melatih diri dan mengulang pelajaran yang telah dibahas di sekolah. Namun terkadang, banyak pekerjaan rumah yang 'berbentrokan' dalam satu hari. Terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam waktu yang singkat sehingga banyak siswa yang memutuskan untuk  mencari jalan tengah yaitu dengan cara menyalin pekerjaan teman. Hal ini sudah lazim terjadi sehingga sudah dianggap sebagai 'kebohongan putih'.


Tugas yang diberikan kepada murid seharusnya tidak berlebihan. Caranya, guru berkomunikasi dengan guru yang lain perihal tugas yang akan diberikan kepada suatu kelas dan juga jadwal pengumpulannya. Kemudian, guru merundingan jumlah tugas yang tidak berlebihan serta jadwal pengumpulan yang tidak berbentrokan. Dengan demikian, penumpukan tugas pada hari tertentu dapat dihindari. 

Masalah yang sering terjadi pada siswa pada saat mengerjakan tugas adalah kebosanan. Hal ini terjadi karena tugas yang diberikan terlalu teoritis, monoton, dan tidak menarik. Oleh karena itu, guru dituntut agar dapat memberikan tugas yang tidak menyulitkan para siswa namun materi pelajaran tetap dapat tersampaikan dengan baik. Untuk pelajaran biologi misalnya, dapat diberikan tugas per kelompok untuk membuat model-model sel (sel saraf, sel epitel, dsb) beserta keterangan dan penjelasannya. Kemudian, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas. 

Bisa juga soal yang diberikan tidak terlalu monoton yaitu dengan menyajikan soal dalam bentuk soal cerita. Untuk pelajaran fisika misalnya, soal mengenai energi dapat dibuat menjadi lebih menarik dengan cara menjadikannya soal cerita seperti berikut:

"Pada saat makan siang, Andi yang bermassa 70 kg memakan roti isi daging yang mengandung energi sebesar 1000 kJ. Andi ingin menghilangkan energi dari roti tersebut dengan cara melakukan push up. Setiap push up, ia harus menaikkan pusat massanya setinggi 20 cm dari tanah. Berapa banyak push up yang harus ia lakukan?". 

Soal tersebut tentunya lebih menarik dibandingkan soal to the point yang terasa menjemukan. 


4. BENTUK UJIAN AKHIR

Bentuk ujian akhir yang ada saat ini menurut saya terlalu berorientasi pada nilai. Selain itu, bentuk ujian yang ada saat ini juga lebih mementingkan kepada hasil ujian yang lebih bersifat instan (3-4 hari) dan kurang mementingkan proses yang telah dilalui (bertahun-tahun di SD, SMP, atau SMA dapat gagal karena ujian ini). Hal ini menyebabkan masyarakat memandang prestasi belajar hanya dari pencapaian nilai yang tinggi, bukan pada prosesnya. Akibatnya, siswa dipaksa untuk mencapai nilai yang tinggi. Tak heran jika siswa akhirnya menghalalkan berbagai cara untuk menghindari kegagalan. Mulai dari menyontek, membeli kunci jawaban, dan melakukan kecurangan-kecurangan lainnya.   

Saya pernah membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang sistem pendidikan yang berlaku di Jepang. Ada satu hal yang menarik bagi saya: semua siswa di Jepang pasti naik kelas dan lulus. Bukan karena semua siswa di Jepang memiliki otak brilian, ada juga yang rata-rata, sama seperti di Indonesia. Bedanya, mereka yang kurang memahami suatu materi dan gagal pada ujian kenaikan kelas (ada nilai merah istilahnya) tetap naik kelas. Para gurulah yang bertanggung jawab untuk mengajarkan materi tersebut selama libur musim panas sampai anak tersebut cukup mengerti dan bisa mengikuti tahun ajaran berikutnya.  


Begitu pula dengan ujian akhir. Ujian akhir yang diselenggarakan sama dengan ujian kenaikan kelas dan semua siswa pasti lulus. Yang membedakan ujian kenaikan kelas dengan ujian akhir adalah ujian akhir dipergunakan sebagai bahan acuan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, apakah siswa tersebut mampu untuk masuk ke sekolah favorit atau tidak. Dengan demikian, tidak terjadi pemborosan waktu dan biaya, siswapun 'hemat umur'.

Saya membayangkan alangkah baiknya jika Indonesia dapat mengadaptasi sistem pendidikan di Jepang. Setidaknya, ujian akhir yang diselenggarakan bukan menjadi patokan lulus tidaknya siswa tersebut, melainkan sebagai bahan evaluasi bagi sekolah, guru, dan dunia pendidikan di Indonesia. 

Satu lagi, menurut saya ujian yang hanya terpaku pada teori juga kurang efektif. Pasalnya, yang nantinya akan lebih dibutuhkan di dunia 'nyata' alias dunia kerja adalah kemampuan praktik (skill) dan perilaku. Oleh karena itu, ujian akhir berbentuk praktik yang mengutamakan kemampuan dan perilaku juga perlu dilaksanakan agar siswa tidak 'kaget' begitu memasuki dunia kuliah dan dunia kerja.


Itulah bayangan saya akan sekolah dambaanku. Harapan saya bagi pendidikan di Indonesia adalah semoga pendidikan di Indonesia dapat selangkah lebih maju (berikutnya baru bisa berlari bersama negara-negara lain) dan harapan saya akan sekolah dambaan bisa terealisasikan walaupun tidak sampai 100%. Bagaimana bayanganmu akan sekolah dambaan?



Selasa, 12 Maret 2013

Ketika Tenar Menjadi Utama (Cerpen)

Cerpen ini telah di muat di mading Makers yang telah diikutsertakan dalam lomba mading di Untar.. enjoy! :D



"Ya, hari ini jadi kan?" bisik Tyo kepada Arya, teman semejanya sejak kelas X.


"Jadi apaan?" sahut Arya pelan.

"Ah, gak usah pura-pura lupa deh! Baru aja dibahas tadi pagi!” balas Tyo geram. Teriakan Tyo menjadikannya pusat perhatian seisi kelas, termasuk Pak Dani.

"Kalau mau ngobrol, sana di luar! Keluar sekarang juga! KELUAR!"

Arya menundukkan kepalanya sambil berjalan keluar kelas diiringi Tyo yang nampak kegirangan. Benar-benar kontras. Mereka akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu di kantin.

Selama ini, Arya dikenal sebagai murid yang cerdas dan penurut. Ia merupakan anak kesayangan para guru di sekolahnya. Namun, Arya sering dikucilkan karena ibunya yang mengalami gangguan jiwa. Ia pun akhirnya diasuh oleh pamannya yang berprofesi sebagai pembuat batu bata. Sedangkan adik Arya, Deny, memilih untuk tetap tinggal bersama kedua orang tuanya.

"Seburuk apapun mereka, aku harus menjadi anak yang berbakti," kilah Deny saat diajak pindah oleh Arya setahun yang lalu.

"Tapi disini kamu mesti kerja sebelum dan sepulang sekolah. Bagaimana kamu bisa konsentrasi sekolah, Deny?" Jujur saja, sebenarnya ia tak tega melihat adiknya yang bekerja siang malam sebagai loper koran dan pengamen, membanting tulang sendirian demi menghidupi keluarga kecilnya itu.

"Aku nggak mau. Aku mau berbakti sama mereka!"

Sejak saat itu, mereka hanya berkomunikasi lewat pesan singkat. Menurut kabar terakhir yang didapatnya, Deny baru saja memasuki sebuah SMP Negeri di dekat rumahnya.

Tyo menepuk pundak Arya keras. Arya yang sedang melamun terlonjak kaget.

"Jadi gimana nih? Mau ikut nggak?" kata Tyo setengah memaksa.

Tyo sering memesan batu bata buatan paman Arya. Mulanya, Arya tak ambil pusing akan hal tersebut. Namun, setelah mengetahui bahwa batu tersebut digunakannya untuk tawuran, Arya bimbang. Hari ini Tyo kembali memesan dua lusin batu bata. Arya sudah menduga bahwa Tyo akan melakukan tawuran lagi sore ini. Tapi, Arya sama sekali tak mengira jika Tyo akan menawarinya untuk turut serta dalam tawuran hari ini.
"Emang kenapa sih harus ikut?" tanya Arya.

"Ini tawuran langka loh, lo bakalan beruntung banget bisa ikutan. Lagian, kalo lo ikut, lo gak bakal dikucilin lagi," bujuk Tyo.

Kalau aku ikut pasti aku akan lebih disegani di sekolah. Selain itu, hitung-hitung aku juga membantu paman menjajakan batu batanya. Jadi semuanya untung, batin Arya dalam hati.

"Baiklah, aku ikut!" ujar Arya dengan keyakinan semu.
~~~~
Arya berdiri tepat di samping Tyo. Mereka berada di deretan depan, menandakan merekalah yang memimpin tawuran ini. Tak lama berselang, munculah serombongan anak lelaki berbalutkan kemeja putih dan celana pendek biru. Arya terperangah. Murid-murid SMP! Jadi ini yang dimaksud Tyo sebagai tawuran langka? SMA melawan SMP?

"Ya, kali ini gue kasih lo kehormatan buat memimpin. Sana, maju ke depan!” desak Tyo sambil mendorong Arya keras.

"A...aku? Tapi aku nggak tahu gimana caranya," sahut Arya. Entah mengapa kakinya kini terasa lemas.

"Gampang kok, tinggal teriak 'SERAANGG!' terus lempar deh batunya. Ayo maju!”

Akhirnya, kini Arya berdiri sendiri di depan. Sekilas matanya memindai lawan-lawannya. Ada yang berambut keriting, berkulit sawo matang, bertubuh kurus kering, dan.... Astaga! Arya hampir tak mempercayai penglihatannya. Ada Deny! Deny balas menatapnya dengan tatapan terkejut. Sepertinya ia tak menduga akan bertemu kakaknya dalam situasi seperti ini.

Seketika batu bata Arya terlepas dari tangannya dan menumbuk tanah dengan keras. Mata Arya mulai berkunang-kunang.

"Arya! Lo kenapa? Buruan mulai!" Tyo mendesaknya.

Dari kejauhan, dilihatnya Deny menggelengkan kepala.

Arya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak lama kemudian, ia pun memungut batu batanya yang tadi sempat terjatuh. Sambil menahan isak tangis, ia berseru membelah langit senja.

“SERAAANGG!!!”

Sabtu, 24 November 2012

Alergi Hidup (Renungan)


Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati”.

Sang Guru tersenyum lalu berkata, “Oh, kamu sakit”.

“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati”.

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.”

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku,” kata sang Guru.

“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi”, pria itu menolak tawaran sang Guru.

“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?” tanya Guru.

“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, jawab pria itu lagi.

“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini… Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai. Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu” 

Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata: “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP.

Sabtu, 15 September 2012

Jangan Hanya Melihat Keatas!

Hari ini saya mendapatkan sebuah email dari admin asian brainnya Anne Ahira. Sebuah artikel yang sangat menarik meurut saya.. Selamat membaca~


Tidak baik jika kita menutup-nutupi
kelemahan dan kegagalan dengan
banyak alasan. Terimalah, dan hadapilah
kegagalan itu sebagai pengalaman dan
pelajaran berharga, agar bisa jadi
pedoman dan tuntunan untuk mencapai
kemajuan dan keberhasilan yang lebih
berarti di kemudian hari.

Kita tahu bahwa dunia ini selalu
berputar. Adakalanya manusia ada di
bawah, atau sebaliknya ada di atas.
Ada orang bertanya kepada saya,
bagaimana dengan kenyataan yang
sering kita lihat begitu banyak
orang-orang yang selalu di bawah?

Bukankah mereka juga tinggal di bumi
yang sama dengan orang-orang yang
mampu dan kuat berada di atas? Sering
kita lihat orang-orang yang sudah di
atas malah semakin ke atas.
Temanku, pandangan itu semua
hanyalah ironi. Kita tidak pernah
tahu apa yang terjadi pada mereka
yang sudah ada di atas. Kebanyakan
di antara kita melihat mereka yang di atas
selalu dari 'materi' atau jabatan.
Namun percayalah, setiap orang
mengalami pasang surut.
Belajarlah dari orang-orang yang
sudah ada di atas, dan orang-orang
yang berada di bawah. Jangan hanya
melihat ke atas.
Banyak pelajaran yang bisa diambil
dari keduanya, yang bisa engkau
jadikan bekal tuk menjadi pribadi
yang luhur bijaksana, sukses lahir
dan batin.

Pepatah mengatakan:

"Kebesaran seseorang tidak terlihat
ketika dia berdiri dan memberi
perintah. Kebesaran seseorang akan
terlihat ketika dia berdiri sama
tinggi dengan orang lain, dan
membantu orang lain untuk
mengeluarkan yang terbaik dari diri
mereka untuk mencapai sukses" - Prof.
G. Arthur Keough

Janganlah suka cari alasan untuk
menutupi kegagalan. Sebaliknya,
carilah terus 'cara' untuk menggapai
keberhasilan.
Salam hangat dari sahabatmu,
~ Ahira

 

Celoteh si Devi Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates