Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Maret 2014

WaTaMi dengan Jurus WaTuTi!

Peduli lingkungan? Ah, itu kan cuma tugasnya para relawan dan pencinta lingkungan aja! Kita sebagai blogger bisa apa sih lagian? Aksi kecil kita kan juga gak berpengaruh apa-apa buat lingkungan.

Hihihi, jangan pesimis dulu dong. Kita semua sebagai makhluk yang nangkring di bumi mau nggak mau harus ikut ambil bagian dalam merawat bumi. Bumi ibarat rumah kita. Andaikan teman-teman diberi sebuah rumah megah yang terletak di bilangan yang strategis, bagaimana perasaan teman-teman? Wuih, senang bukan kepalang pasti. Apalagi ternyata rumah itu lengkap dengan kolam renang, taman pribadi, AC yang sejuk, juga suasana yang damai. Kalau teman-teman perhatikan, bumi dapat diibaratkan sebagai rumah mewah tadi loh. Bayangkan, dari delapan planet yang ada di tata surya, hanya bumi yang punya suhu bersahabat, gak ada meteor yang jatuh seenak jidat, oksigen yang cukup, air yang melimpah (70% bagiannya!) juga aneka tanaman dan hewan yang telah disediakan sebagai partner hidup bahan makanan. Bayangkan kalau teman-teman lahir di Venus, planet terpanas di tata surya! Lahir-lahir jadi arang kali ya? Atau di Neptunus, planet yang paling berangin. Bukannya main layang-layang, kita malah jadi layang-layang!

Bumi by depimomo, Dokumentasi pribadi

Nah, maka dari itu kita harus bersyukur sudah diberi kesempatan untuk hidup di planet yang hijau ini. Apa? Sudah nggak hijau? Jangan patah arang dulu, arang saja masih berharap pada api yang mengubahnya menjadi debu. Sebagai WaTaMi (Relawan Pencinta Bumi) jangan kehabisan dulu untuk menyelamatkan lingkungan. 

Tapi, nggak ada waktu nih untuk menyelamatkan lingkungan! Harus sekolah, les, kerja, makan, tidur, main, make up, update status, pacaran, juga blogging!

Sstt, depimomo mau buka-bukaan rahasia nih buat kalian! Tips dan trik jitu untuk selalu ingat lingkungan dan menyelamatkan lingkungan! Namanya jurus WaTuTi alias Wan Tu Tri (bahasa alien: satu dua tiga). Cukup tiga langkah mudah yang bisa teman-teman terapkan setiap hari!


1. Masbro dan Mbaksis, nggak usah....

....liat-liatin saya gitu karena saya kiyut dan keceh abis *ngawur.com

Apa yang bisa dilakukan dengan mantra ini? Dengan mantra ini, kita bisa menyelamatkan lingkungan!

Hah? Gimana ceritanya?

Ceritanya gini, pada suatu hari...

by depimomo, dokumentasi pribadi

Lihat, dalam satu hari saja satu kantong plastik, satu styrofoam, dan satu plastik minuman sudah bisa dikurangi. Itu baru satu orang, bagaimana kalau sepuluh, seratus, atau seluruh penduduk Indonesia? Belum lagi kalau tidak hanya sehari tapi seminggu, sebulan, atau setahun! Tambahannya, makin banyak orang yang ikut tergerak untuk menyelamatkan lingkungan! Saya sendiri kerap kali menerapkan hal ini. Membawa bekal dan botol minuman yang dapat diisi ulang. Plastik juga dihindari, misalnya hanya membeli satu-dua barang atau membawa tas sendiri, jadi tidak perlu kantong plastik.

2. Pegang aja dulu!

Wah, pegang apa ini? Ya pegang sampah kita terlebih dulu lah, sebelum menemukan tong sampah! Dari SD, guru saya sudah menekankan hal ini, bahkan ada lagunya juga agar dapat selalu diingat. Ini dia lagunya, dinyanyikan dengan nada 'Naik-naik ke puncak gunung'!

Mari kawan kita jaga kebersihan lingkungan
agar tercipta keindahan juga kesehatan

maka jangan lupa kawan buang sampah pada tempatnya
kantongi dulu sampah milikmu
sebelum temukan TONG SAMPAH! 

(tong sampahnya memang agak ditekan saat dinyanyikan jadi gitu deh, hehe)

Gara-gara lagu ini, saya jadi sering ngantongin sampah kalau belum ketemu tong sampah, entah itu bungkus permen, botol air mineral, atau kantong ciki. Kadang sampai diperhatikan orang, apalagi waktu di bis. Orang di sebelah saya sepertinya agak risih dengan gelas plastik bekas minuman yang saya pegang dari tadi.

"Dek, sini ibu buangin deh gelasnya ke luar! (sambil menunjuk jendela di sebelahnya)"

"Nggak deh bu, makasih, saya nanti abis turun ketemu tong sampah deket kantor polisi situ kok, hehe"

"Loh, repot-repot amat sih dek? Biasa juga orang buang ke luar jendela"

"Iya sih, tapi saya ingin melakukan perubahan kecil aja, siapa tahu berdampak besar"

Setelah itu ibu itu diam dan tidak mengajak bicara lagi, tapi selama kita yakin apa yang kita lakukan benar, tidak perlu takut anggapan orang kok! When it doesn't feel right, go left.

3. Be creative!

Daur ulang mungkin kata yang terdengar basi. Tapi kalau dilakukan dengan kreatif, hal yang dianggap sampah pasti bisa berdaya guna, bahkan bernilai jual!

Saya sendiri berusaha menyulap tumpukan kertas-kertas bekas kuesioner (untuk tugas sekolah dulu) yang bagian belakangnya masih kosong sebagai buku notes untuk ringkasan pelajaran.

BuSu (Buku Siap Ulangan) by depimomo, dokumentasi pribadi

Bisa juga majalah yang menumpuk disulap menjadi kusudama, mempercantik rumah loh! Atau jadi origami bintang, pembatas buku, juga kerajinan tangan lainnya.


Teman-teman juga bisa menjadi supporter WWF, fundraiser WWF, mengundang Panda Mobile ke sekolah/kampus/kantor/lingkungan rumah teman-teman, dan ramah pada lingkungan.

Jadi, tunggu apa lagi? WaTaMi siap selamatkan lingkungan dengan jurus WaTuTi! Ciaaattt!

Psst, kawan blogger tergerak untuk mengajak teman-teman lain peduli lingkungan? Ikutan dong Lomba Blog Blogger Peduli Lingkungan!

Selasa, 31 Desember 2013

Meneropong Sorong




“Nak, bangun nak! Sebentar lagi sampai loh!”

Huahm. Duh, siapa sih yang ngebangunin? Lagi enak-enak tidur juga. Namun, kupaksakan juga tuk membuka mata. Mentari sudah berseri-seri. Kutaksir saat itu sudah sekitar jam delapan pagi. Tapi kok aku masih ngantuk banget ya? Aneh.

”Sekarang jam berapa? Jam delapan ya?”

Suara berat ayah yang tadi membangunkanku kembali terdengar.

”Jam enam waktu Yogya, jam delapan waktu Sorong.”

Oh, gitu. Pantas aku masih ngantuk. Ayah nih suka ngelucu aja. Aku kan nanya jam di sini, di Yogya, bukan di So... Eh?!

”HAH? SORONG??! Kita lagi di Sorong??!”

Teriakanku kontan membuat seisi bus menoleh. Tatapan galak, bingung, dan iba semuanya terpusat ke arahku. Terang saja, anak gadis teriak-teriak di bus pagi-pagi gini?! Gadis gak waras itu mah.

”Ssst! Jangan berisik! Kamu lupa kita lagi pindahan ke Sorong?”

Pindahan? Sorong? Otakku yang masih dingin ku paksa untuk bekerja lebih keras. Oh! Aku ingat! Aku dan ayah sedang dalam perjalanan menuju Sorong. Ayah mendapat tawaran kerja dari sebuah perusahaan minyak di kota minyak ini. Kehidupan di Yogya yang kian tak menentu membuat ayah dan aku terpaksa berangkat ke Sorong untuk mengadu nasib. Meninggalkan nisan ibu di Yogya.

”Oh iya, ya. Lali aku. Hehehe,” jawabku sambil cengegesan. Tak lama kemudian, bis yang kutumpangi berhenti di sebuah mal. Gedung baru berlantai tiga ini sangat berbeda dari bayanganku akan mal di Sorong. Pikirku, mal di daerah Papua Barat yang notabene jauh dari ibukota Indonesia pastilah kumuh, kotor, dan tak terawat. Namun, semua bayangan itu langsung lenyap ketika aku melihat Ramayana Mal Sorong ini.

”Ajeng, masuk dulu yuk. Temen ayah baru bisa nganter kita ke kontrakan jam sepuluh nanti,” tegur ayah.

Kulirik jam di tanganku. Jam tujuh...WIB. Sambil berjalan mengikuti ayah memasuki mal yang baru saja buka, ku putar sekrup jam tanganku hingga jarum pendeknya menyentuh angka sembilan.

BRUK!

HEI! Kalo jalan lihat-lihat dong! Mentang-mentang korang putih dan kitorang hitam, lantas kitorang tak dianggap,” amuk seorang lelaki yang tak sengaja kutabrak. Loh, kok jadi bawa-bawa suku gini sih? Ya, warna kulit remaja ini memang agak gelap, khas suku Papua. Rambutnya yang keriting pendek dan matanya yang hitam pekat meyakinkanku bahwa orang ini benar-benar penduduk asli sini. Dari tinggi dan perawakannya, nampaknya kami seumuran.

”Ma... Maaf. Maaf banget. Aku gak sengaja. Kamu gak terluka kan?”

”Sudah, sudah. Aku ini laki, tau! Lain kali, lihat-lihat kalau jalan!”

Ia pun segera beranjak pergi. Eh, aku lupa menanyakan namanya! Tapi, kayaknya dia lagi buru-buru. Mungkin di lain kesempatan kami akan berjumpa lagi.

”Ajeng! Kamu ngapain bengong aja di sana? Ayah tungguin juga. Ayo lekas kemari!” panggil ayah dari toko peralatan elektronik tak jauh di depanku. Aku pun segera menyusul ayah.

~~

Aku menaiki angkot yang disebut penduduk setempat dengan taksi. Sudah seminggu ini aku tidak diijinkan keluar rumah oleh ayah. Hanya ayah yang boleh keluar rumah untuk membeli makanan dan bergaul dengan tetangga. Kata ayah, anak gadis sebaiknya di rumah saja. Nanti kalau sudah masuk sekolah dan kenal banyak orang baru boleh keluar rumah. Huh, aku kan bosan! Karena itu hari ini aku mau jalan-jalan ke Ramayana Mal Sorong, satu-satunya tempat yang kuketahui. Sebelum masuk ke mal, ku putuskan untuk makan di warung yang terletak tak jauh dari mal. Wah, menu makanannya familiar, khas jawa. Sempat kukira aku akan disuguhi cacing cah ilalang atau bakwan semut-belalang. Iiihhh, emoh! Kuputuskan untuk memesan sepiring nasi dengan lauk capcai. Tadinya aku mau pesan nasi dengan fuyunghai dan ayam goreng. Tapi, uang yang kubawa pas-pasan, cuma dua puluh ribu. Kupikir, nasi capcai pasti lebih murah. Selesai makan, aku memanggil mbak-mbak yang menjaga warung itu.

”Mbak, semuanya jadi berapa ya?”

”Semuanya empat puluh lima ribu, kakak,” sahutnya dengan santai.

APA?! EMPAT PULUH LIMA RIBU?? Tak terasa, wajahku langsung pucat pasi. Kubuka-tutup dompetku yang hanya berisi selembar kertas hijau bergambar wajah Otto Iskandardinata. Apa yang harus kulakukan?! Telpon ayah tak mungkin, ia pasti marah mengetahuiku pergi tanpa ijin. Mengadaikan barang? Aku tak bawa apa-apa, masa aku menggadaikan diri?? Atau bekerja disini tanpa di bayar?

Puk. Kurasakan sebentuk tangan menepuk pundak kananku. Dibelakangku, tampak seorang lelaki muda berkacamata pemilik tangan itu. Tampaknya, dia ini seorang kutu buku yang cerdas.

”Uangnya kurang ya?” tanyanya ramah. Tanpa menunggu jawabku, ia menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan kepada mbak penjaga warung yang masih menatapku tanpa suara. Aku masih mematung, tak menyangka bisa mendapat mukjizat di siang bolong seperti ini.

”Hei! Kamu! Kok bengong aja sih? HEI! SADAR!” ujarnya sambil menguncang-guncang tubuhku.

”Eh, iya, iya. Aku masih hidup kok. Makasih ya, makasih banyak! Aku pasti ganti uang kamu besok! Besok kita ketemu lagi ya di sini jam sepuluh!” cerocosku buru-buru, takut ia mengiraku gadis tak tahu diri yang sukanya gratisan.

”Tenang, tenang! Gak usah buru-buru balikinnya, santai aja. Ngomong-ngomong, nama kamu siapa? Aku Gunardi, Gunardi Wiyanto” tuturnya sambil menyodorkan tangan kanannya dengan sopan. Kusambut uluran tangannya. Tangannya halus dan hangat, sehalus perilakunya dan sehangat senyumnya.

”Aku Ajeng Setiadinata, panggil Ajeng saja.”

”Ajeng. Nama yang bagus! Eh, kita ngobrol di taman aja yuk! Deket kok. Gak enak juga kan, berdiri di sini lama-lama? Mau gak?” ajaknya dengan senyum jenaka. Entah terhipnotis apa, aku mengangguk pelan.

~~

Pukul lima kurang sepuluh menit. Tepat waktu. Aku sampai di rumah sebelum ayah pulang. Aku pun melangkahkan kaki ke kamar, hendak mengambil baju untuk mandi. Sejenak aku teringat lagi percakapanku dengan Gunardi.

”Kamu pasti orang baru ya? Kelihatan banget tadi mukamu pucat pasi begitu mendengar harga makanan di warung,” tanya Gunardi sambil terkikik geli.

”Iya. Aku kaget banget, moso nasi capcai empat puluh lima ribu?! Waktu di Yogya, di warung depan sekolah lamaku tepatnya, nasi capcai cuma sepuluh ribu, kok!” jawabku dengan wajah cemberut.

”Ngomong-ngomong soal sekolah, kamu sekarang kelas berapa? Aku kelas X tahun ini. Sepertinya usia kita tak berbeda jauh.”

”Aku juga kelas X! Kita seangkatan rupanya!”

”Oh ya? Kebetulan sekali! Kamu sekolah di mana?”

”Belum tahu, aku kan baru pindah. Ayahku yang memilihkanku sekolah. Katanya sih minggu depan sudah masuk.”

”Semoga kita satu sekolah ya! Kalau bisa sih, sekelas. Aku ingin sekali sekelas denganmu, Ajeng!”

Ya, aku juga. Siapa sih yang tidak mau sekelas dengan lelaki seramah dan sejenaka kau, Gunardi? Sambil tersenyum simpul, aku pun bergegas mandi sore sebelum ayah pulang.

~~

Akhirnya masuk sekolah juga. Hari ini ayah cuti untuk mengantarkanku ke sekolah baruku. Hanya dengan lima belas menit berjalan kaki, sampailah kami di gerbang sekolah baruku.

”Ayah, aku masuk sendiri aja. Malu ah sama teman-teman yang lain, gak ada yang diantar! Aku kan sudah besar!”

Ayah yang mulanya bersikeras ingin mengantarku masuk akhirnya luluh juga. Setelah beribu-ribu wejangan, ia pun membiarkanku masuk sendiri. Aku pun menelusuri seisi sekolah untuk mencari kelas X4, kelas baruku.

Puk. Sebentuk tangan menepuk pundak kananku. Pasti Gunardi! Dengan semangat aku berbalik, mengharapkan wajah hitam manis yang dibingkai kacamata kotak itu menantiku.

Korang cewek yang waktu itu tabrak kitorang, bukan? Sedang apa di sini?”

Uh, bukan Gunardi. Dia kan lelaki yang waktu itu tak sengaja ku tabrak di mal! Dia juga sekolah di sini?!

”Uh, iya. Aku sekolah di sini. Oh ya, kita belum kenalan kan? Aku Ajeng, Ajeng Setiadinata. Aku baru pindah dari Yogya,” kuulurkan tangan kananku dengan sopan, berharap kesan pertama yang buruk itu dapat terhapus.

”Emm, saya Alex,” jawabnya tanpa membalas uluran tanganku. Kutarik lagi tanganku yang menyalami angin kosong. Dasar tidak sopan!

”Aku kelas X4, kamu kelas berapa? Bisa tolong temenin aku cari kelas gak?

”Saya juga kelas X4. Kelasnya ada di lantai dua. Ayo ikut!” katanya sambil menarik tangan kananku. Tangannya kasar, namun bisa kurasakan ketulusannya menolongku.

Sesampainya di lantai dua, kulihat sesosok orang yang kukenal. Ya, itu dia, itu Gunardi! Tanpa basa-basi, langsung saja kuhampiri dia. Meninggalkan Alex yang menatapku tajam dari kejauhan.

~~
Ternyata, aku juga sekelas dengan Gunardi. Senang sekali rasanya bisa sekelas dengannya. Sayang, bukan dia yang duduk di sebelahku. Yang duduk di sebelahku selama satu semester ke depan adalah Alex, lelaki dingin yang cuek. Benar-benar menyebalkan.

”Anak-anak, untuk tugas kali ini kalian harus membuat laporan penelitian sosial. Boleh tentang apa saja. Untuk pengerjaannya, satu kelompok berdua-dua...”

Dengan semangat kutolehkan kepala ke arah Gunardi yang ternyata juga melakukan hal yang sama. Kami sampai terkikik geli sendiri begitu mengetahuinya.

”Berdua-dua dengan teman sebangku kalian masing-masing!” lanjut Pak Dodi yang langsung menghentikan tawaku. Sekelompok dengan Alex? Bukan Gunardi? Aku langsung lesu begitu mendengarnya. Satu jam pelajaran yang diberikan Pak Dodi untuk membahas tema penelitian malah kugunakan untuk mencorat-coret halaman terakhir buku tulisku. Tiba-tiba, sebuah tangan berkulit gelap mencengkram kuat tangan kananku.

HEI! APA-APAAN SIH!” bentaku marah ke arah Alex, cowok yang sudah merenggut segala kebahagiaanku ini. Untung saja kelas sedang ribut-ributnya. Tak ada seorang pun yang mempedulikan teriakan brutalku barusan.

”Jangan korang corat-coret terus! Aku tak mau dapat nilai jelek gara-gara kau! Ayo bahas tema penelitian!”

Dengan terpaksa, aku pun mengiyakan usulan Alex. Aku juga tak mau dapat nilai jelek hanya karena tak sekelompok dengan Gunardi, oke? Aku masih waras, kok! Kami pun membahas tema apa yang kira-kira menarik untuk dijadikan laporan penelitian.

Gimana kalau tentang pengaruh Blackberry terhadap prestasi belajar?“ usulku yang langsung disambut gelengan kepala Alex.

”Kau kira berapa banyak di sini yang pakai Blackberry? Di sini tak seperti di kota kau. Kau dari Yogya, bukan? Kota besar itu?”

”Ah, tak sebesar itu juga. Mungkin Yogya besar, tapi tak sepadat Jakarta”

”Saya lebih memilih kota besar yang ramah seperti Yogya dibanding Jakarta.”

”Oh ya? Aku juga. Namun kota Sorong juga tak kalah ramah dan meyenangkan dibanding Yogya,” ucapku jujur. Hmm, ternyata Alex tak sedingin yang kubayangkan. Kota Sorong benar-benar memberikanku banyak kejutan.

”Lalu, menurutmu tema apa yang cocok untuk laporan penelitian kita?” sambungku.

”Kalau tentang perbandingan pengunjung lokal dan asing yang datang ke Pantai Tembok Berlin gimana?”

“Hah? Tembok Berlin? Yang ada di Jerman itu? Jadi kita mesti ke Jerman buat meneliti gitu?. Lagipula, setahuku tembok itu sudah dirubuhkan sejak lama. Kau ini ada-ada saja Alex. Mau ngelucu ya?” tuturku panjang lebar.

“Kau tuh yang kuper! Masa sudah tinggal di sini sekian lama masih nggak tahu kalau di dekat pantai ada tembok yang namanya Tembok Berlin? Tembok segede gitu kau acuhkan saja. Pantaslah yang kau kenal hanya Gunardi, Gunardi, dan Gunardi..”

Perasaanku saja atau memang ada nada cemburu saat Alex menyebut nama Gunardi? Ah, pasti hanya perasaanku saja. Dasar kau ini Ajeng! Ke-GR-an banget sih jadi orang? Sadar diri dong!

“Oh ya? Aku baru tahu di Sorong juga ada Tembok Berlin. Di mana letaknya? Rasanya aku tak pernah melihatnya.”

”Kau selalu melewatinya sewaktu pulang sekolah!”

”Bagaimana kau tahu aku melewatinya sewaktu pulang sekolah? Apakah kamu...”

”Tak!! Saya tak ikuti korang! Kebetulan saja arah rumah kita sama, hanya saja di perempatan kau belok kanan sedangkan saya belok kiri! Jangan pikir macam-macam!” jawab Alex gelagapan. Mengapa ia jadi segugup ini?

”Tapi, mengapa aku tak pernah melihatmu sewaktu berjalan pulang?”

”Bukankah yang ada di pikiran kau hanya Gunardi? Tak pernah bukan kau perhatikan yang ada di sekelilingmu? Ah, sudahlah. Tak perlu kitorang bahas. Waktu yang diberi untuk membahas tugas, hendaknya dipakai untuk membahas tugas.”

”Baiklah. Aku setuju dengan usulmu. Tema itu sepertinya menarik. Aku juga jadi bisa sekalian jalan-jalan di sana. Lantas, kapan kita akan menelitinya?”

”Lebih baik akhir pekan, banyak pengunjung yang datang. Bagaimana kalau Sabtu ini? Kutunggu kau di sekolah jam tiga sore.”

”Baiklah.”

Itulah yang terjadi. Dua hari kemudian, kami berjalan menyusuri tepi Pantai Tembok Berlin yang merupakan tepi ’Kepala Burung Papua’ ini. Apa yang dimaksud Alex sebagai Tembok Berlin ternyata adalah tembok tebal setinggi pinggang orang dewasa yang memagari ruas pantai tak kurang dari tiga kilometer. Pantai inilah dan disebut dengan Pantai Tembok Berlin atau Pantai SepTemBer yang merupakan singkatan dari ’Pantai Sepanjang Tembok Berlin’. Orang-orang Papua memang sangat kreatif!
Alex mengajakku untuk duduk di atas tembok, meniru warga setempat yang sedang melepas penat.

”Ayo, naik kemari! Atau korang takut? Kalah kau dengan balita di sana!” ujar Alex sambil menunjuk balita yang sedang mencoba naik ke atas tembok, dibantu ibunya tentu.

”Siapa takut? Lihat saja ini!” Dengan lihai aku melompat ke atas tembok. Hah! Tak sia-sia dulu aku sering diomelin gara-gara memanjat tembok pembatas dengan rumah tetangga. Dari sini, nampak birunya langit yang berpadu dengan jernihnya air laut. Sesekali terdengar tawa renyah anak-anak yang sibuk mencari ikan atau kerang yang di antara karang. Kapal berukuran besar hingga sampan kecil yang lalu-lalang semakin memperkaya pemandangan.

”Hei! Udah dulu bengongnya. Sekarang ayo kita mulai penelitiannya! Kau hitung wisatawan asing, saya hitung pengunjung lokal. Nanti ketemu lagi di sini jam setengah lima ya!” kata Alex sambil berlari ke menjauhiku. Aku pun ikut berlari, namun ke arah yang berlawanan dengannya.

~~

Tak terasa sudah satu jam aku mengelilingi pantai ini. Pukul 16.20 WIT. Saatnya aku kembali ke Tembok Berlin untuk menggabungkan hasil pengamatanku dengan hasil milik Alex. Dari kejauhan, kulihat Alex sedang duduk di atas Tembok Berlin. Kupercepat langkahku yang sedari tadi sengaja kuperlambat.

”Hei, Alex! Sudah lama?” sapaku bersemangat. Semilir angin sore rupanya telah memompa semangatku.

”Baru sampai. Gimana pengamatannya? Lancar?”

”Lancar dong! Ternyata, banyak juga wisatawan asing yang datang kemari! Banyak dari mereka yang memuji keindahan alami pantai ini. Namun, mereka juga berharap agar kebersihan pantai lebih dijaga. Masih banyak sampah berserakan, kata mereka. Sayang, pantai seindah ini tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah.,” jawabku jujur.

“Ya, memang begitu keadaannya sedari dulu. Yang diperhatikan hanya pulau Jawa dan Bali. Padahal kan Indonesia lebih kaya dari itu. Sudahlah, tak perlu kitorang bahas sekarang. Nanti saja kalau kitorang sudah jadi orang besar yang punya kuasa. Lebih baik sekarang kitorang bahas hasil penelitian ini. Bahas sambil makan di warung sana, bagaimana?” ajaknya yang langsung ku sambut dengan anggukan mantap.

~~

Delapan puluh lima. Nilai tertinggi di kelas. Itulah nilai yang diberikan Pak Dodi kepadaku dan Alex. Tak henti-hentinya aku berseri sepanjang hari bila mengingat nilai kerja kelompok pertama kami itu. Kelompok yang awalnya ku benci setegah mati. Bel istirahat berdenting nyaring. Seperti biasa, aku mengeluarkan bekal yang telah disiapkan oleh ayah tadi pagi. Nasi dengan lauk ikan goreng yang menggugah selera.

“Hei Ajeng! Makan nasi dan ikan goreng juga ya? Sama dong! Sepertinya kita memang berjodoh ya? Seperti yang di lagunya Anang-Arshanty itu loh.. Hahaha..,” ujar sebuah suara seraya menepuk pundak kiriku. Siapa sih yang mengaku-aku berjodoh denganku? Kutolehkan kepala ke arah sumber suara, yang kuduga adalah anak lelaki jahil yang duduk di deretan bangku belakang. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui si empunya suara tak lain dan tak bukan adalah Gunardi!

”Eh, Gunardi! Tumben makan di kelas. Bukannya kamu biasanya makan di kantin?” kucoba untuk menyapanya sesopan mungkin walau sudut hatiku mencurigainya. Tak biasanya Gunardi seperti ini, ia seperti orang baru yang tak kukenal. Atau memang aku tak pernah benar-benar mengenalnya?

”Masa gak boleh sih aku makan bareng Ajeng yang cantik mempesona ini? Ijinkan aku duduk mendampingimu makan ya, permaisuriku,” ujarnya seraya duduk di kursi Alex yang sedang kosong. Gunardi sedang kerasukan setan apa sih? Kok jadi aneh gini? Refleks aku menggeser kursiku menjauhinya. Seketika itu juga nasi dengan lauk ikan gorengku tampak menjijikan.

”Maaf, aku ke toilet dulu ya!”

Dengan kilat aku berlari menuju toilet. Ke toilet sebenarnya hanyalah alibi untuk menghindariku duduk lebih lama di samping Gunardi. Aku bisa memuntahkan seisi perutku jika mendengar gombalannya sekali lagi. Untung toilet sedang kosong, langsung saja aku mengunci diri dalam bilik pertama yang kulihat. Selang beberapa menit kemudian, kudengar langkah kaki segerombolan anak yang sedang berjalan mendekat. Ah, paling gerombolan anak perempuan yang ingin merapikan penampilannya. Tapi, kok suaranya berat ya? Kuintip keadaan di luar lewat celah di bawah pintu. Terlihat berpasang-pasang sepatu anak lelaki. Kok mereka masuk toilet perempuan? Atau jangan-jangan, aku yang salah masuk toilet! Kuperhatikan keadaan di sekelilingku. Tampak bilik yang kotor dan penuh coretan yang seingatku tak ada di bilik toilet perempuan. Benar saja, aku salah masuk toilet!!

Gimana tadi, berhasil gak PDKT-nya?”

Uh, ternyata seperti ini perbincangan anak lelaki ketika berada di toilet. Tak berbeda jauh dengan pembicaraan anak perempuan rupanya. Hanya seputar PDKT, pacaran, dan putus.

”Berhasil apanya?! Saranmu malah membuat aku tambah jauh darinya! Buktinya dia sekarang dia kabur ke toilet dan gak balik-balik,” balas sebuah suara yang terdengar familiar di telingaku. Suara siapa ya? Hmm, coba ku ingat-ingat. Suara Alex sepertinya bukan, suara Alex lebih nyaring dan lebih berlogat. Jangan-jangan ini suara Gunardi! Jadi dia sedang melancarkan aksi PDKT terhadapku? Aduh, jawaban apa yang akan kuberi jika nanti ia menyatakan perasaannya kepadaku ya? Anganku menerawang jauh. Andai saja ia tak meggodaku seperti tadi dan bersikap biasa, pasti akan lebih mudah bagiku untuk memberikan jawaban. Namun, bagaimana nasib Alex? Hei! Mengapa aku memikirkan Alex? Aku kan tidak ada hubungan apa-apa dengannya!

”Kau saja kali yang kurang berkharisma, tak sepertiku,” sahut suara lain disusul cemoohan dari anak lelaki lainnya.

”Lihat saja nanti, dalam satu minggu Ajeng pasti akan jadi milikku!” ujar Gunardi dengan penuh percaya diri. Ah, Gunardi. Mengapa kau bisa seyakin itu? Aku saja belum yakin akan perasaanku kepadamu saat ini.

”Bah, banyak omong kau! Ingat ya, kalau dalam seminggu kau tak berhasil memacari Ajeng, sepatu bola itu menjadi milikku!”

DEG! Jantungku rasanya menolak untuk berdetak lagi. Ribuan paku imajiner menancap di hatiku. Teganya Gunardi menjadikanku bahan taruhan! Arrrggghhh!! Dadaku mulai terasa sesak. Aku merasakan mataku memanas. Runtuh sudah pertahananku, air mata yang sudah tak terbendung ini akhirnya meleleh menuruni pipiku.  Walau begitu, aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menimbulkan suara.

Akhirnya gerombolan itu keluar juga. Setelah memastikan keadaan di luar benar-benar kosong, dengan perlahan aku melangkah keluar dari bilik toilet. Kutatap bayanganku di cermin. Kusut. Berbekal tisu yang ada di sakuku, kucoba untuk mengenyahkan guratan kesedihan dari wajahku. Gagal, tentu saja. Mata sembapku tak bisa berbohong. Kuputuskan untuk menghabiskan sisa jam pelajaran di UKS.

~~

Tak terasa sudah satu bulan peristiwa itu berlalu. Kini kusambut bulan Desember dengan sedikit lebih ceria. Gunardi sudah kubuang jauh-jauh dari pikiranku. Enak saja menjadikanku bahan taruhan! Gunardi sudah mengakuinya dan meminta maaf, yang kumaafkan walau masih ada sepercik rasa kesal.

Hari ini tanggal 31 Desmber. Kau tahu kan, malam tahun baru? Aku mengajak ayah mengunjungi Pantai September.

”Jeng, dari mana kau tahu ada Pantai? Memangnya kamu sempat ke Pantai?” Ayah bertanya dengan heran.

”Iya dong, aku kan gaul hehe. Waktu itu ada tugas buat penelitian, aku meneliti pantai ini deh. Bagus ya?”

”Iya. Eh, kita duduk di sana yuk! Di sebelah keluarga teman bapak, keluarga Pak Hasan!”

Aku dan Ayah menghampiri keluarga Pak Hasan yang sedang asyik berpiknik malam-malam di bawah pohon kelapa dekat Tembok Berlin. Kamipun ikut duduk di atas tikar kotak-kotak berwarna merah campur hitam itu. Pak Hasan inilah yang mengantar kami ke kontrakan saat aku dan ayah pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Bersama istri dan anak terkecilnya yang baru berusia dua tahun, kami berbincang-bincang ringan. Baru kuketahui Pak Hasan yang asli orang Papua memiliki seorang anak lelaki yang seumuran denganku.

”Loh, masa korang tak pernah ketemu? Kalian kan satu sekolah! Satu kelas lagi!” ujar Pak Hasan keheranan saat kutanyakan siapa anaknya.

”Bagaimana bapak tahu kami satu sekolah dan satu kelas?”

”Anakku yang bilang! Katanya ada temannya pindahan dari Yogya, sekelas dengannya. Itu pasti kau kan?”

Aku jadi penasaran, siapa sih anak Pak Hasan ini? Yang sekelas denganku, asli Papua, dan seorang laki-laki. Jangan-jangan...

”Nah, itu dia! Nak, sini korang!”

Dari kejauhan kulihat siluet seorang pemuda, rambutnya hitam pendek dan lebih tinggi dariku. Wajahnya unik dan menarik, tak pernah kuhiraukan sebelumnya.

”Alex? Jadi kau anaknya Pak Hasan?”

”I..Iya. Ternyata orang tua kitorang saling kenal ya?” jawab Alex kikuk. Kulihat dari sudut mata Pak Hasan mengedipkan sebelah mata pada Alex. Apa maksudnya ini?

”Eh bu, dek, kita beli es buah dulu ya di sana! Buat cemilan sambil melihat kembang api sebentar lagi. Pak Dirman mau ikut?” ajak Pak Hasan sambil beranjak.

”Pak, aku juga mau ikut!” pinta Alex.

”Tak perlu, nanti kitorang belikan. Korang di sini saja, ya, Alex dan Ajeng. Nanti tempat ini diambil orang.”

Mereka berempatpun melenggang pergi, meninggalkan aku dan Alex berdua saja. Aku mencium sesuatu yang mencurigakan, sepertinya mereka sudah sekongkol!

”Ngg Ajeng?”

”Iya? Aneh banget ya mereka semua tiba-tiba pergi. Padahal kan sebentar lagi pesta kembang apinya sudah mau dimulai.” ucapku sambul melirik jam tangan yang melingkari tangan kananku. Jam tangan yang menyebabkan pertemuanku dengan Alex. Jarum pendeknya menunjukkan angka dua belas, sedangkan jarum panjangnya menunjuk angka sebelas.

”Ajeng, kamu masih marah dengan Gunardi?”
”Sudah tidak, ku sudah memaafkannya. Walau masih ada rasa kesal dan bingung, mengapa ada orang yang setega itu mempermainkan perasaanku,” tak terasa air mata itu jatuh lagi. Terkenang peristiwa itu membuatku sedih.

”Hei! Jangan menangis seperti ini! Bisa-bisa aku yang ditimpuki lantaran dikira buat kau menangis! Ayo, ikut!”

Genggaman Alex yang mantap menyejukanku. Entah mengapa aku mau saja digiringnya menuju satu sudut pantai yang cukup sepi. Kami duduk bersisian di atas Tembok Berlin. Sejenak sepi menyelimti hingga aku angkat suara.

”Mungkin aku memang tak pantas untuknya.”

”Ajeng! Dia yang tak pantas untukmu! Jangan sekali-kali kau berpikiran seperti itu! Tenang Ajeng, masih ada lelaki yang benar-benar menaruh kasih kepadamu. Seperti..” Alex tercekat.

”Seperti apa?”

”Seperti aku.”

Ledakkan kembang api memecah penuh warna, menelan kegelapan yang sedari tadi menguasai langit malam. Seiring dengan suasana hatiku. Hatiku yang dulu kelam, sunyi, sepi, kini mendadak dipenuhi warna-warni. Hangat.

”Ini penembakkan nih?” tanyaku ragu-ragu. Aku tidak pernah ditembak sebelumnya, jadi aku tidak tahu seperti apa rasanya. Kini, penembakkan pertamaku malah terjadi di tepi pantai yang sangat indah dan romantis, di tengah perayaan tahun baru, lagi! Kembang api yang membuncah menambah keromantisan suasana, seakan-akan alam sudah mengaturnya untuk kami.

”Bukan, ini baru penembakkan.”

Tiba-tiba Alex melompat turun, lalu berlutut di depanku. Sejurus kemudian, tangan kananku sudah berada dalam genggamannya.

”Ajeng, maukah kau menjadi hadiah terindah bagiku di tahun baru ini?”

Aku melompat turun, melepaskan genggamannya. Kulihat ada binar kecewa di mata Alex, membuatku tersenyum kecil.

”Aku akan bilang ya kalau... kamu berhasil menangkapku!”


Aku berlari menembus angin darat yang tengah menyapa laut. Dingin. Namun hatiku tetap hangat. Karena kutahu, Alex ada tepat di belakangku. Lebih tepatnya lagi, Alex sudah berhasil mengambil tempat di hatiku.

Gugur Salju di Giethoorn

Aku mengalungkan kamera DSLR hitamku di leher seraya memikul ransel merah muda kesayanganku. Dari saku kanan celana jeans, kukeluarkan sebentuk notes berisi check list. Untuk mengecek barang-barang bawaanku, seperti biasa. Kamera, check! Bekal, pasti! Laptop, yup! Nametag… ya ampun! Aku lupa mencetak nametag-ku!

Buru-buru aku menyalakan laptop dan membuka email dari Amsterdam Street Photographer Community yang berisi soft file nametag-ku. Dasar Kinanty! Untung saja masih ada satu jam lagi sebelum bus nomor 70 yang menuju Giethoorn itu berangkat. Jangan sampai aku ketinggalan program day trip pertamaku ini. Bikin malu saja.

Ya, ini adalah pengalaman traveling pertamaku. Mendengar kawan-kawan yang sering backpacker-an di kampus lama-lama membuatku iri juga. Akhirnya berbekal kamera DSLR hadiah ulang tahunku dua tahun silam, aku nekat bilang ya saat di ajak Sonya traveling sekaligus berburu foto-foto cantik bersama kawan-kawan anggota ASPC tempatnya bergabung. Jadilah Sabtu pagi ini bukannya malas-malasan sambil blogging seperti biasanya, aku malah bangun pagi dan menyetting kameraku. Jalan-jalan ke Venice van Holland, yippie!

Setelah berpamitan dengan orang tua asuh tempatku tinggal selama di Belanda, aku naik sepeda menuju stasiun utama di Amsterdam. Dinginnya udara dan satu-dua salju yang melayang jatuh tak menyurutkan kayuhan kakiku. Gumpalan putih itu ada di mana-mana, menandakan bulan Desember telah tiba. Lebih dari itu, hari ini tanggal 31 Desember. Kau tahu artinya kan? Malam tahun baru! 

Sehabis traveling, sudah kuputuskan akan menginap di Hotel de Harmonie yang terletak di Giethoorn, sekamar dengan Sonya.

Tiba-tiba kurasakan getaran dari saku kiri celanaku. Rupanya Sonya mengirim SMS.

‘Waar zit je?! Schiet op!(1)’

Aku tersenyum kecil dan membalasnya santai.

‘Ik ben op mijn manier. Kijken naar de sneeuw valt op de grond. Voortreffelijk.(2)’

Sonya pasti mencak-mencak membaca balasanku, aku bisa membayangkan wajahnya yang putih kini memerah, kepalanya dengan rambut pirang berombak itu ditumbuhi sepasang tanduk dan telinganya mulai mengeluarkan asap putih…. Oke, oke. Aku memang lebay.

Sampailah aku di Amsterdam Central Station. Dengan menumpangi kereta, aku menuju Zwolle. Memandangi putihnya salju dari balik jendela kereta, ponselku kembali bergetar. Ya, Sonya lagi.

'Ik ben serieus! De helft van de groep al aanwezig. Je moet snel zijn als je niet wilt worden gelaten!(3)’

Kubalas SMS itu cepat, menyatakan bahwa aku tengah naik kereta yang ditarik rusa-rusa milik Sinterklas dengan kecepatan cahaya.

Aku sampai di Zwolle dengan utuh. Kini aku harus menyambung shuttle bus antar stasiun, lalu menyambung lagi dengan bus nomor 70 yang akan mengantarku ke meeting point. Tak kusangka pengalaman pertama travelling-ku selancar ini!

Duduk di stasiun, membiarkan angin membelai rambut hitam sebahuku, membuat memori  masa kecilku terputar lagi. Aku menontonnya dalam pikiranku, seolah layar lebar terpampang jelas dihadapanku. Teringat akan Mama dan Papa, Rudi kakakku dan tunangannya Tiara. Tak terasa sudah dua tahun kami tidak bertatap muka. Bagaimana kabar mereka? Aku harus menelpon mereka tahun baru nanti. Ingatanku melompat lebih jauh, ke masa-masa ketika aku masih berbalutkan seragam putih biru. Satu nama melintas di otakku. Kolki.

“Kolki, aku dengar kamu mau ngelanjutin sekolah di luar negeri ya?” aku bertanya hari itu, seusai upacara pelepasan murid-murid kelas tiga. Hatiku sangat sedih, mengingat aku diam-diam menyimpan rasa padanya selama tiga tahun ini. Dia Kolki, lelaki pertama yang membuatku mengecap manisnya rasa jatuh cinta. Sayang aku terlalu kolot, membiarkan rasa itu tumbuh tanpa memberi pertanda sedikitpun padanya. Berharap Kolki membaca pikirannku, menerjemahkan perasaanku, dan lebih dulu menyatakan cinta padaku. Namun saat itu tak kunjung tiba, malah sahabatku sendiri Hyena yang berani menembak Kolki. Ya, mereka menjalin hubungan pada akhirnya.

“Ya. Kau tahu kan kakekku tinggal di Belanda, bukan? Ia ingin aku tinggal bersamanya. Orang tuaku setuju, apalagi masa depanku lebih cerah jika bisa meraih gelar sarjana di sana,” Kolki menjawab panjang, jelas, formal. Tak seperti biasanya. Aku berharap dia akan menggodaku seperti   ‘Jangan rindukan aku ya, fans terbesar dan terberatku!’ atau ‘Tentu, susul aku kalau kau bisa!’

Brmmmm…..

Deru bis membuyarkan lamunanku. Tunggu dulu, deru bis? Benar saja, bis hijau dengan aksen biru itu sudah melaju menjauh, semakin lama semakin mengecil. Itu bis nomor 70 yang sedang kutunggu!

“Wacht op mij!!(4)”

Aku berlari mengejarnya. Percuma saja, hanya gulungan asap putih yang kudapatkan. Terpaksa aku harus menunggu bis berikutnya.

“Sorry, wanneer de volgende bus zal aankomen bestemming Giethoorn?(5)”

Tanyaku putus asa pada petugas yang ada di sekitar halte.

“Een uur.”

Een uur? Satu jam? Seketika aku langsung lemas. Ponselku bergetar lagi untuk ketiga kalinya hari ini.

‘Je niet waar, Kinan?(6)’

‘Uh, Sonya, Ik heb de bus gemist. Ik heb nog een uur. Het lijkt alsof je moet vertrekken. Gaan.(7)’

‘Wat, Kinan?! Umm, ziet eruit alsof je om alleen te reizen. We ontmoetten in het hotel later.(8)’

Akhirnya perjalanan yang kukira lancar jaya mulus tanpa hambatan malah berakhir seperti ini. Ya sudahlah, solo travelling juga tak terlalu buruk. Akupun sampai satu jam kemudian dan membeli tiket bis air untuk menyusuri kanal-kanal yang mulai membeku. Oh ya, apa aku belum bilang kalau hampir tidak ada jalan darat di sini? Jalan-jalan kecil hanya diperuntukan bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda, sedangkan jalan utama di sini adalah lewat jalur air. Itulah yang membuat Giethoorn mendapat julukan Venice van Holland.





Memandangi pepohonan memutih tertutup salju serta rumah-rumah tradisional membuatku terlena. Di kiri dan kanan sungai, kau akan menumukan puluhan rumah yang mirip dengan penggambaran dalam dongeng-dongeng. Bagian depannya terbuat dari bata, sedangkan bagian belakangnya terbuat dari kayu. Berdasarkan browsing di internet semalam, aku mengetahui bahwa dinas kota sudah menetapkan standar ketetapan membangun rumah di sana demi menjaga citra Giethoorn itu sendiri.



Beberapa foto apik berhasil kubidik dari bis air ini. Hmm, akan kupamerkan pada Sonya nanti! Sambil menikmati pemandangan, aku mulai menyenandungkan sebuah lagu favoritku, Ada Cinta.

Mengapa berat ungkapkan cinta, padahal ia ada
Dalam rinai hujan, dalam terang bulan, juga dalam sedu sedan
Mengapa sulit mengaku cinta, padahal ia terasa
Dalam rindu dendam, hening malam
Cinta terasa ada

Tak terasa air mataku menitik. Aku memang selalu teringat pada Kolki jika mendendangkan lagu ini. Sepertinya suara cemprengku terlalu keras, buktinya kini pria yang duduk di depanku tengah menatap kearahku. Rambut pendeknya yang kecoklatan membingkai wajah putih berbintik merah itu. Cukup tampan. Tapi, jika rambut coklat itu kubayangkan berwarna hitam, dan bintik merah itu kuhilangkan, rasanya aku mengenalinya.

“Hmm, are you Indonesian?”

“Yes. And you..”

“Aku juga orang Indonesia! Wah senangnya bertemu orang Indonesia di sini!”

Apa? Dia juga orang Indonesia? Berarti dia mengerti dong apa yang tadi kunyanyikan? Kurasakan aliran darah mengumpul di pipiku. Uh, aku malu, apalagi pakai acara nangis segala!

“Uh oh. Ya, aku juga. Ngomong-ngomong aku Kinan, Kinanty Hemandi,” ujarku sambil mengulurkan tangan.

"Kinan? Is this really you?”

Aku mengrenyitkan dahi. Kepingan puzzle itu mulai tersusun dalam benakku.

“Kolki?” aku bertanya penuh harap.

Nope. Kau salah orang.”

Hampir saja aku tertipu kalau tak ku lihat sorot mata jenaka itu. Sorot mata yang selama ini membayangi mimpi terliarku. Ups, jangan berpikiran yang aneh-aneh ya. Mimpiku sebatas berpegangan tangan sambil berjalan-jalan di sebuah taman dengannya. Itu saja.

“Kau kira bisa menipuku, hah? Sejak kapan rambutmu menjadi coklat? Lalu bintik-bintik merah itu?”

“Ya, aku baru saja menjadi objek percobaan penemuan baru bernama cat rambut. Dan soal bintik ini, pernahkah kau mendengar sebuah penyakit akut mematikan bernama jerawat? Aku mengidapnya.”

“Huh! Iya aku tahu itu cat rambut kok, aku hanya mengetes saja. Jerawat? Dasar jorok! Aku tidak pernah tuh berkenalan dengan yang namanya jerawat.”

“Masa? Bagaimana dengan tonjolan merah di hidungmu, saat kita kemping pramuka di sekolah delapan lalu? Saat kita kelas satu SMP?”

Wajahku memerah, malu.

“Kau masih ingat?”

Tak pernah kusangka Kolki juga memperhatikanku, bahkan hingga ke detail terkecil seperti itu. Kulihat ia tertegun sejenak, lalu salah tingkah. Pipinya yang bertabur bintik merah tambah memerah. Mungkinkah ia… malu? Kolki beranjak dan duduk di sebelahku yang kosong. Bis air itu agak limbung saat ia berpindah.

“Umm, ya. Mengingatkanku betapa joroknya dirimu dulu.”

“Jadi sekarang aku bersih?” aku menggodanya. Reaksinya tak seperti dugaanku, bukannya membantah ia malah mengangguk malu. Ada apa ini?

“Oh ya, bagaimana kabar Hyena?”

Ah, sial! Dasar Kinan bodoh, bodoh, bodoh! Malah merusak suasana sebagus ini. Kapan lagi bisa duduk di sebelah Kolki, dikelilingi pemandangan menakjubkan sebuah kota apung cantik seperti ini?

“Itu kan sudah lima tahun yang lalu. Kami sudah berpisah baik-baik sejak keberangkatanku ke Belanda. Ngg, jujur saja sebenarnya aku menerima Hyena karena tak tega menolaknya.”
Loh, loh, mengapa ia menceritakannya padaku yang bukan siapa-siapanya? Aku kebingungan, namun berusaha tampil biasa saja. Sama seperti dulu ketika aku menyembuyikan perasaanku selama bertahun-tahun.

Perlahan bis air yang kami tumpangi berhenti. Telah tiba di halte terakhir rupanya. Uh, benar-benar saat yang tidak tepat! Sang supir sudah menuruni singgasananya, seiring dengan penumpang terakhir yang satu per satu mulai turun. Tiba-tiba saja Kolki berlari mengejar sang supir, meninggalkanku duduk sendiri di atas bis air ini. Kuperhatikan dari jauh, Kolki terlibat perbincangan serius, lalu Kolki menyerahkan beberapa lembar Euro, dan kembali dengan wajah jahil.

“Kolki! Jangan bilang kalau kamu tadi…”

“Menyewa bis ini seharian penuh untuk kita berdua! Tepat sekali, nona!”

Aku tertegun. Teringat pengalaman yang mirip dengan ini empat tahun silam, ketika Kolki menyewa becak dan mengantarku keliling kota Bekasi sepanjang sore. Waktu itu ia kalah peringkat di kelas dariku, ia peringkat tiga sedangkan aku peringkat dua. Kami telah membuat kesepakatan, yang kalah akan menuruti segala keinginan sang pemenang. Aku senang sekali mengerjainya kala itu. Tapi akhirnya, Kolki sakit karena kelelahan. Selama liburan kenaikan kelas, bolak-balik aku menjenguk Kolki. Hampir satu minggu ia terkapar, ternyata ia memang tidak boleh kelelahan. Kolki bodoh, ia kan bisa saja mengatakannya padaku sehingga tidak membuatku merasa bersalah.
Kolki kini duduk di singgasana sang supir bis. Aku duduk di sebelahnya.

“Sebaiknya kau mulai mempertimbangkan profesi ini, Kolki. Kau tampak cocok sekali!” aku mengejeknya sepenuh hati. Sudah lama kami tidak bertukar ejekan seperti ini.

“Sepertinya matamu sudah perlu diperiksa. Tidakkah menurutmu aku terlalu tampan untuk menjadi supir bis?”

Ya, kau memang terlalu tampan untuk menjadi supir bis. Kau cocoknya menjadi suamiku!

“Cih, cerminpun tak mampu merefleksikan dirimu, saking jeleknya!”
Kami tertawa terbahak-bahak mendengar betapa noraknya banyolan kami sendiri. Hmm, Kolki, aku tak tahu bahwa cinta itu penuh bahan pengawet. Rasa cintaku ternyata belum terhapus setelah terpisah bertahun-tahun. Andai aku berani untuk mengungkapkannya.

Crash!

Rupanya bis air yang sedang dikendarai Kolki menabrak kristal es kecil hasil membekunya sungai. Untung saja kami tidak tenggelam seperti kisah Titanic. Kubayangkan aku menjadi Rose, sedangkan Kolki menjadi Jack.

“Fiuh, untung bis ini tidak terbelah dua. Kalau tidak, kita akan melanjutkan jejak Titanic! Nanti kita buat film, judulnya Titanic 2. Tapi agak konyol juga tenggelam di sungai dengan kedalaman hanya satu meter,” celoteh Kolki riang.

“Oh ya kulihat tadi kamu memfoto pemandangan sekitar, kamu lagi travelling? Kok sendiri?”

Ah! Hampir saja aku melupakan tujuanku ke sini. Kulirik jam tangan yang melingkari tangan kananku. Pukul enam lebih lima belas menit. Pasti Sonya sudah menantiku di hotel.

“Aku seharusnya bersama rombonganku, tapi tadi aku ketinggalan bis sehingga harus solo travelling. Kolki, aku ingin sekali menyusuri kanal bersamamu tapi temanku pasti sudah menungguku di hotel,” kataku dengan penuh penyesalan.

“Harusnya tadi aku tidak usah bertanya ya? Kirimi saja temanmu itu pesan, bilang kau datang agak terlambat.”

Benar juga, aku merogoh sakuku. Uh, ponselku kehabisan baterai. Pantas saja dari tadi tidak ada celotehan Sonya.

“Baterai ponselku habis. Apa kau bawa ponsel?”

“Tidak, sepertinya kita sudah ditakdirkan terjebak di sini.”

Malam itu, kami menyusuri kanal sambil bernostalgia. Aku menguap, rupanya sudah hampir tengah malam.

“Kinan, bagaimana jika kukatakan aku menyukaimu sejak dulu, tapi tidak berani mengatakannya?”
Aku terbungkam. Sepi menyelimuti kami selama beberapa menit.

“Mengapa baru kau katakan sekarang?”

“Aku terus mengulur waktu. Aku katakan pada diriku sendiri, bila aku bertemu denganmu lagi sebelum tahun 2013 berakhir, aku akan mengatakannya padamu. Awalnya kukira itu mustahil, namun rupanya Tuhan berkata lain. Jadi?”

“Aku akan bilang ya jika kita bisa melihat kembang api sekarang.”

“Kau beruntung”

Dari ranselnya, Kolki mengeluarkan sebentuk bungkusan yang kukenali sebagai kembang api. Lalu ia mulai membakarnya dengan korek api yang sudah ia persiapkan. Kembang api menghiasi langit malam, menelan kegelapan yang sedari tadi menyelimuti langit.

“Kau gila Kolki! Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa bawa kembang api?”

“Aku tahu kau suka sekali menonton kembang api. Asal kau tahu, aku selalu membawanya setiap tahun baru, berharap bisa menunjukkannya kepadamu. Tak kusangka ini menjadi tiket mendapatkan jawaban ‘ya’ darimu. Jadi?”

Aku mengangguk. Lembar pertama dari buku setebal 365 halaman dalam hidupku tak pernah seindah ini.

Words: 2,013


Special to #CintaDalam2013Kata

(1): Kau ada di mana? Cepat!
(2): Aku sedang dalam perjalanan. Memandangi salju yang gugur ke tanah. Sungguh indah.
(3): Aku serius! Separuh rombongan sudah tiba. Kamu sebaiknya cepat kalau tidak mau ditinggal.
(4): Tunggu aku!
(5): Maaf, kapan bis berikutnya yang menuju Giethoorn tiba?
(6): Kamu ada di mana, Kinan?
(7): Uh, Sonya, aku ketinggalan bis. Aku baru tiba satu jam lagi. Sepertinya kalian harus meninggalkanku. Pergilah.
(8): Apa, Kinan? Um, sepertinya kamu harus travelling sendiri. Kita bertemu nanti di hotel.

Senin, 02 Desember 2013

Melodi dalam Harmoni Abadi | Cerpen

Melodi dalam Harmoni Abadi | Cerpen

Masih ingat dengan Trio ACI, Amir, Cici, Ito yang dulu ditayangkan di TVRI? Kangen dengan serial Aku Cinta Indonesia? Jangan khawatir, ACI akan kembali mewarnai ranah perfilman tanah air! Kini, A itu Andi, C itu Cahaya, I itu Ian. Ceritanya gak kalah seru!!

Sudah gak sabar? Baca aja dulu cerpen remaja paling cinta Indonesia di sini: http://kaudanaci.com/Cerpen/melodi-dalam-harmoni-abadi.html ada lagunya juga loh! Penasaran? Buka aja: http://kaudanaci.com/Cerpen/melodi-dalam-harmoni-abadi.html ~ klik tombol bintangnya juga ya ;)


Minggu, 24 Juni 2012

8 Tanda Cowok Naksir


Ini tanda-tanda kalau cowok naksir ke kita yang saya dapatkan dari sebuah buku yang pernah saya pinjam dari teman saya, Maria.. Judul bukunya lupa, "The Love Book" bukan ya? Oke, ini dia..

1. Curi-curi pandang
Hampir semua cowok gengsi kalau ditolak, jadi mereka CCP biar tau kita ngerespon atau nggak. Kalau dia diam-diam melempar pandangan dan kita balas dengan dengan cara yang sama dan malu-malu, dia akan mengartikannya kalau kita punya perasaan yang sama dan dia akan menyusun langkah berikutnya...
2. Salah tingkah
Begitu liat kamu, mukanya merah kaya udang direbus, gerak-geriknya kaku, serba salah dan keluar keringat dingin! Kalau muncul tanda-tanda seperti ini, bukalah pembicaraan. Pasti dia senang dan poin kamu bertambah di matanya.
3. Menggoda terus
Ini bukan buat bikin kamu sebel, dia cuma ingin tahu reaksi kamu. Kalau dengan godaan yang paling halus aja sudah dibalas dengan ketus, dia bakal mundur pelan-pelan. Tapi kalau dengan godaan yang paling norak gak bikin kamu jutek, dia pasti langsung tancap gas!
4. Cari perhatian
Tingkahnya berubah 180 derajat. Dari yang malas jadi rajin, dari yang gak suka dandan jadi prelente
5. Melankolis
Ini terjadi pada cowok yang perasaannya sensitif. Dia memendam perasaannya dan sulit mengungkapkannya. Kalo kamu juga suka, tembak aja! Pasti kena! Tapi kalau kamu gak suka, ajak dia ngobrol sambil kasih sinyal kalau kamu gak suka dia.
6. Ngirim comblang
Jangan kaget kalau tiba-tiba temannya jadi wartawan yang selalu mengejar-ngejar kamu. Dia hanya ingin tahu info tentang kamu lebih banyak kok.
7. Tiba-tiba penuh perhatian
Coba cek inbox kamu, apakah penuh sms 'gak penting' dari dia?
8. Jadi sok berwibawa
Terjadi kalau cowok itu cukup pintar tapi belum punya pengalaman ngegebet cewek. Kalau tiba-tiba si juara kelas atau ketua OSIS jadi sok berwibawa gitu di depan kamu, berarti dia lagi bingung gimana cara nembak karena takut ditolak. Pikirnya, "Masa jagoan ditolak? Gengsi dong!"

Wkwkwkwk. Gimana? Bener gak tanda-tandanya?

Jumat, 27 April 2012

Contoh Narasi Wawancara Satpam


Yang Penting Happy!



Merasakan keamanan dan kenyamanan adalah dambaan setiap orang. Peran satpam merupakan salah satu kunci dalam menyelenggarakan keamanan, kenyamanan, keselamatan dan ketertiban di lingkungan tersebut. Satuan pengamanan, atau sering juga disingkat satpam, adalah satuan kelompok petugas yang dibentuk dalam rangka penyelenggaraan keamanan. Sayangnya, peranan mereka sering diremehkan oleh mereka yang merasa kedudukannya lebih tinggi. Padahal, mereka adalah ujung tombak bagi terciptanya sebuah lingkungan yang aman dan nyaman.

Siang itu, Rabu (11/4) kami telah merencanakan untuk mewawancarai seorang satpam yang bekerja di Apartemen Mediterania Garden Residences 2 yang terletak di bilangan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Sekitar pukul 12 siang, kami sudah berkumpul di lobi utama apartemen tersebut. Kala itu, kami menghampiri sekelompok satpam yang tengah menyantap makan siang di sebuah pos jaga. Kami pun meminta kesediaan salah seorang satpam di kelompok tersebut untuk kami wawancarai. Untungnya, ada seorang satpam berperawakan tinggi yang bersedia untuk kami wawancarai. Awalnya, muncul kekakuan antara kami dengan lelaki berkulit sawo matang ini. Akan tetapi, dengan pembawaannya yang santai, ia mampu mencairkan suasana yang sempat tegang.

Pria yang acapkali dipanggil Firman ini bernama lengkap Firman Yudiana. Pemuda Cirebon kelahiran 23 April 1989 ini masih berstatus lajang. Walaupun usianya kini sudah memasuki kepala dua, ia masih belum merencanakan untuk menikah. ”Kawin soal nanti, yang penting sekarang nyari uang dulu buat ditabung,” ujarnya disusul gelak tawa teman-temannya. Ia dikenal sebagai pribadi yang ramah dan ceria oleh teman-temannya. Tak mengherankan jika ia memiliki banyak kawan di tempatnya bekerja kini. Kediamannya terletak tak jauh dari tempat kerjanya, masih di daerah Tanjung Duren. Sayangnya, ia enggan untuk menyebutkan alamat lengkapnya. Ia merantau sendiri di Jakarta, semua sanak saudaranya menetap di Cirebon. Oleh sebab itu, tanggungan hidupnya lebih ringan karena seluruh gajinya hanya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Firman sudah menjalani profesinya sebagai satpam selama dua tahun terakhir. Banyak pengalaman yang telah ia peroleh, baik suka maupun duka. Salah satu pengalamannya yang paling berkesan yaitu saat berkumpul bersama teman-temannya dimalam tahun baru. Saat itu, ia merasa sangat senang walaupun acara yang dilangsungkan sangat sederhana karena hanya diselenggarakan di rumah salah seorang temannya, tak jauh dari tempat kerjanya. ”Pokoknya waktu itu seru banget deh! Security di sini semuanya kumpul. Kita bakar jagung terus dimakan rame-rame.” Namun, ia juga memiliki pengalaman sedih selama bekerja menjadi satpam. Kala itu, ia terpaksa membatalkan janji kencannya karena salah seorang rekannya sakit sehingga ia harus menggantikannya.

Layaknya seorang pegawai, ia terikat oleh jam kerja. Sebagai satpam dengan 7 hari kerja dalam 1 minggu, ia bekerja selama 12 jam dalam 1 hari. Jam kerjanya dimulai pukul 8 pagi dan berakhir pukul 8 malam. Hal ini cukup melelahkan baginya. Karena itu, ia pun harus pandai-pandai membagi waktu antara karir dan kekasihnya. ”Kalau boleh jujur, satu-satunya alasan saya masih bertahan bekerja di sini ya karena ada pacar saya,” ungkapnya malu-malu. Sebelum menjadi satpam, dulunya Firman merupakan seorang wartawan olahraga untuk sebuah koran harian di Cirebon. Sayangnya, profesi tersebut hanya dilakoninya selama tiga bulan dikarenakan kantor tempatnya bekerja pailit. Ia pun merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan baru. Jadilah ia seperti sekarang ini, menjadi seorang satpam sekadar untuk menyambung nyawa sekaligus menambah pengalaman kerjanya.

Firman berprinsip, hidup itu harus bahagia. Baginya, kebahagiaan bukan diukur dari kesenangan dan kemewahan. Bahagia dirasakannya ketika ia mensyukuri segala yang ia miliki, bukan menyesali apa yang belum dimilikinya. “Yah, saat saya merasa kurang beruntung, saya selalu berpikir kalau sebetulnya di tempat lain ada yang lebih kurang beruntung,” tuturnya. Walau demikian, ia berharap segera mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik dan sesuai dengan minatnya, yaitu di bidang jurnalistik. “Saya pingin banget jadi wartawan lagi. Sayang, belum ada kesempatan,” katanya seraya tersenyum.

Sabtu, 24 Maret 2012

Renungan: Kembalikan Tanganku

Kembalikan Tangan Ita, Pa..



Sepasang suami isteri meninggalkan anak-anak mereka untuk diasuh pembantu ketika mereka sedang bekerja. Pasangan ini memiliki anak perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.

Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat. Dia pun menggores lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan. Tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan itu tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Dia pun membuat coretan sesuai dengan kreatifitasnya.

Hari itu orangtuanya mengendarai motor ke tempat kerja karena sedang ada perayaan Thaipusam yang membuat jalanan macet. Setelah bagian kanan mobil penuh coertan, dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain hewan-hewan hasil imajinasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Ayahnya menjerit, “Kerjaan siapa ini?”

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Mukanya merah padam ketakutan melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan "Tak tahu… !”

“Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si istri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.

Dengan penuh manja dia berkata “Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!” katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depannya dan memukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya.

Si anak yang tak mengerti apa-apa melolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula punggung tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa.

Setelah ayahnya masuk ke rumah diikuti sang ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan punggung tangan anak itu luka dan berdarah. Ia memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air, dia ikut menangis. Anak kecil itu pun menjerit-jerit menahan kepedihan saat lukanya terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah memberitahu tuannya.

“Oleskan obat saja!” jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.

Tiga hari berlalu, Ita mengalami demam tinggi yang tidak dipedulikan orang tuanya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas.

“Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke rumah sakit karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap, dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.

“Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi
“Tangannya sudah bernanah. Demi menyelamatkan nyawanya, kedua tangannya perlu diamputasi dari siku ke bawah” kata dokter.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, tangan si bapak bergetar menandatangani surat persetujuan operasi.

Keluar dari ruang operasi, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya wajah ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

“Papa.. Mama.. Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.” katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan tangisnya.

“Ita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, yang membuat gadis dari Surabaya itu meraung histeris.

“Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa mengambilnya.. Ita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi,” katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tak ada manusia dapat menahannya.

***

Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat. Jangan terlalu terbawa emosi, renungkan apa dampak dari setiap perbuatan kita

sumber: beritaunik.net, dengan pengubahan seperlunya *artikel asli berbahasa Melayu

 

Celoteh si Devi Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates